Akurat
Pemprov Sumsel

Serangan Drone di Kuwait Tewaskan 6 Tentara AS, Korban Selamat Bantah Versi Resmi

Fitra Iskandar | 11 April 2026, 15:03 WIB
Serangan Drone di Kuwait Tewaskan 6 Tentara AS, Korban Selamat Bantah Versi Resmi
Serangan Drone di Kuwait Tewaskan 6 Tentara AS, Korban Selamat Bantah Versi Resmi. Foto: Indiatoday

AKURAT.CO Dua hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, militer AS mengalami pukulan besar menyusul serangan drone di pangkalan mereka di Kuwait yang menewaskan enam tentara. Serangan tersebut menjadi yang paling mematikan terhadap pasukan AS sejak 2021.

Sekitar 60 personel yang berada di lokasi disebut berada dalam kondisi rentan. Sebulan setelah insiden, sejumlah korban selamat membantah versi resmi yang disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Kepada CBS News, mereka menyatakan bahwa pasukan dalam kondisi tidak siap dan tanpa perlindungan memadai saat serangan terjadi.

Serangan Iran ke pelabuhan Shuaiba di Kuwait itu juga melukai sedikitnya 20 orang. Sejak kejadian, detail peristiwa tersebut sebagian besar tertutup. Beberapa hari kemudian, Hegseth menyebut sebuah drone berhasil menembus pertahanan pangkalan yang disebutnya “terfortifikasi”. Namun, para tentara menyebut lokasi tersebut merupakan pangkalan lama yang tidak memiliki perlindungan dari serangan udara.

Salah satu tentara yang terluka mengatakan narasi bahwa hanya satu drone yang lolos tidak akurat. Ia menegaskan unit tersebut tidak memiliki kemampuan pertahanan yang memadai dan pangkalan itu bukan fasilitas yang diperkuat.

Meski dalam kondisi rentan, para prajurit disebut tetap merespons cepat untuk mencegah korban lebih banyak.

Pangkalan Disebut Target yang Sudah Diketahui

Para tentara yang menjadi korban merupakan bagian dari Komando Dukungan ke-103. Sekitar sepekan sebelum serangan ke Iran, pemerintahan Presiden Donald Trump memindahkan sebagian besar pasukan dari Kuwait ke pangkalan di Yordania dan Arab Saudi yang dinilai lebih aman dari jangkauan rudal Iran.

Pasukan yang dipindahkan diberitahu akan kembali dalam 30 hari dan diminta meninggalkan sebagian besar barang pribadi. Hal ini menunjukkan keyakinan awal AS bahwa konflik akan berlangsung singkat. Namun, perang justru berlanjut hingga 40 hari sebelum tercapai gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran.

Sementara sebagian besar pasukan dipindahkan, sekitar 60 personel justru ditempatkan di pelabuhan Shuaiba, sebuah pos militer kecil di selatan Kuwait. Mereka bertugas mengelola distribusi logistik militer di kawasan Timur Tengah.

Salah satu tentara menyebut lokasi tersebut merupakan area berbahaya yang sudah diketahui sebagai target potensial, namun tetap digunakan tanpa alasan yang jelas.

Pusat operasi taktis di pangkalan itu dibangun sebelum era perang drone. Fasilitasnya hanya dilengkapi penghalang beton bertulang untuk menahan serangan roket atau mortir, tetapi tidak mampu melindungi dari serangan udara.

Detik-detik Serangan

Pada 2 Maret, sirene berbunyi menandakan adanya ancaman serangan. Para prajurit berlindung di bunker beton saat sebuah rudal balistik melintas di atas pangkalan. Setelah situasi dinyatakan aman, mereka kembali ke aktivitas semula.

Namun sekitar 30 menit kemudian, ledakan besar mengguncang pangkalan. Debu memenuhi udara dan para tentara mengalami gangguan pendengaran serta penglihatan akibat dampak ledakan.

Serangan tersebut berasal dari drone Shahed milik Iran yang meledak tepat di pusat pangkalan. Kondisi pascaledakan disebut kacau, dengan banyak korban mengalami luka serius, termasuk cedera kepala dan pendarahan hebat di berbagai bagian tubuh.

Serangan itu menewaskan enam personel AS. Rekaman visual menunjukkan asap hitam membumbung tinggi beberapa jam setelah kejadian, sementara struktur bangunan mengalami kerusakan parah akibat ledakan.

Sejumlah tentara juga menyebut kemungkinan masih ada korban yang belum teridentifikasi dan dievakuasi saat itu.

Para korban selamat yang diwawancarai CBS News sepakat bahwa serangan tersebut sebenarnya dapat dicegah.

Namun, pemerintah AS menegaskan seluruh langkah pengamanan telah dilakukan. Asisten Menteri Pertahanan AS, Sean Parnell, menyatakan fasilitas tersebut telah diperkuat dengan dinding setinggi sekitar dua meter dan berada di bawah sistem pertahanan udara yang luas di kawasan Timur Tengah.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.