Perang dengan Iran Masih Panas, Trump Singgung Target Berikutnya: Kami akan Mampir ke Kuba

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan retorika di tengah konflik dengan Iran dengan menyebut kemungkinan langkah terhadap Kuba. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di Gedung Putih.
“Kami mungkin akan mampir ke Kuba setelah kami selesai dengan ini,” kata Trump, merujuk pada kampanye militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Trump juga kembali menyebut Kuba sebagai “negara yang gagal” dan sebelumnya memprediksi pulau tersebut akan “jatuh dalam waktu dekat”, meski ia menegaskan fokus utama pemerintahannya saat ini masih pada Iran.
Dalam forum investasi di Florida, Trump bahkan menyatakan, “Kuba berikutnya, tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu”. Pernyataan itu kemudian memicu perhatian luas.
Pernyataan tersebut muncul di tengah krisis yang memburuk di Kuba. Situasi di negara itu semakin tertekan setelah terganggunya pasokan energi, menyusul berkurangnya aliran minyak dari Venezuela dan Meksiko, yang memperparah kekurangan energi dan tekanan ekonomi.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel merespons dengan sikap tegas. Dalam wawancara dengan program “Meet the Press” NBC, ia menyatakan tetap terbuka untuk dialog, namun menolak tekanan eksternal.
“Kami terbuka untuk dialog tanpa syarat,” ujarnya.
Baca Juga: AS Tegaskan Kebijakan ke Kuba Tak Berubah Meski Izinkan Tanker Rusia
Namun, ia menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya. “Kami akan mempertahankan diri, dan jika kami harus mati, kami akan mati,” kata Díaz-Canel. Ia juga menambahkan bahwa rakyat Kuba siap “memberikan nyawa kami untuk revolusi.”
Pemerintah Kuba menilai kebijakan Amerika Serikat, termasuk pembatasan pasokan energi, sebagai bentuk blokade tidak langsung yang memperburuk kondisi di dalam negeri. Meski sempat mendapat pasokan dari kapal tanker Rusia, situasi secara umum masih dinilai kritis.
Ketegangan ini mencerminkan pendekatan Washington sebelumnya di Venezuela, di mana operasi militer cepat berujung pada perubahan kepemimpinan. Namun, sejumlah analis menilai Kuba memiliki kondisi berbeda, dengan struktur kekuasaan yang lebih solid dan pengaruh kuat keluarga Castro di balik pemerintahan.
Dalam wawancara tersebut, Díaz-Canel juga menegaskan tidak akan mengubah sistem politik Kuba. Ia menolak kemungkinan penerapan sistem multipartai serta tidak memberikan komitmen terkait pembebasan sekitar 1.200 tahanan politik, termasuk musisi aktivis Maykel Castillo atau Osorbo yang masih ditahan.
Situasi ini menandai meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana, di tengah konflik yang lebih luas di kawasan.
Sumber: Novinite
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








