Setelah Kapal Dagang Diserang, Iran Tolak Ikut Perundingan Baru

AKURAT.CO Pemerintah Teheran menyatakan belum berencana mengikuti putaran baru perundingan dengan Amerika Serikat. Sikap ini kembali memperuncing konflik setelah insiden penyitaan kapal kargo Iran oleh militer AS.
Media pemerintah Iran melaporkan keputusan tersebut muncul setelah militer Iran menuduh Washington melanggar gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Tuduhan ini disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengiriman tim negosiator ke Islamabad.
Trump sebelumnya menyatakan kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut di sekitar Selat Hormuz telah disita. “Kami menguasai penuh kapal tersebut dan sedang memeriksa isinya,” tulis Trump di media sosial.
Militer Iran menyebut kapal itu berlayar dari China dan memperingatkan akan melakukan pembalasan. “Angkatan bersenjata Iran akan segera merespons tindakan pembajakan bersenjata oleh militer AS,” demikian pernyataan juru bicara militer yang dikutip media pemerintah.
Insiden ini memicu kekhawatiran gencatan senjata dapat runtuh sebelum perundingan dilanjutkan. Amerika Serikat sebelumnya menyatakan akan mengirim delegasi ke Pakistan pada Senin untuk membahas penghentian perang antara AS, Israel, dan Iran.
Baca Juga: Swiss Nyatakan Siap Jadi Mediator Perundingan AS-Iran
Namun, kantor berita resmi IRNA melaporkan Iran “tidak memiliki rencana” untuk berpartisipasi, dengan alasan tuntutan Washington dinilai berlebihan, sikap yang berubah-ubah, serta blokade laut yang masih berlangsung dan dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Delegasi AS dijadwalkan dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner.
Ketegangan meningkat setelah Iran kembali memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, membatalkan rencana pembukaan jalur tersebut akibat penolakan AS mencabut blokade laut.
Konflik yang memasuki pekan kedelapan ini telah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon, serta mendorong lonjakan harga minyak global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan negaranya tetap membuka jalur diplomasi, meski mengakui perbedaan dengan AS masih lebar.
Di sisi lain, Trump menyebut perundingan di Islamabad sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan damai. Ia juga kembali mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika kesepakatan tidak tercapai.
Pemerintah Pakistan menyatakan Wakil Perdana Menteri Mohammad Ishaq Dar telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk mendorong kelanjutan dialog demi stabilitas kawasan.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menilai blokade AS sebagai tindakan ilegal dan melanggar gencatan senjata, bahkan menyebutnya sebagai bentuk “hukuman kolektif” terhadap rakyat Iran.
Di lapangan, laporan media menyebut militer Iran telah memaksa sejumlah kapal, termasuk kapal tanker gas, untuk berbalik arah saat mencoba melintasi selat.
Situasi ini meningkatkan risiko ketidakpastian di pasar global, setelah sebelumnya harga minyak sempat turun tajam menyusul harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sumber: Guardian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








