Akurat Logo

Bos Starbucks Korea Dipecat karena Iklan yang Picu Kemarahan Nasional, Dikaitkan dengan Tragedi Berdarah Gwangju

Fitra Iskandar | 19 Mei 2026, 14:12 WIB
Bos Starbucks Korea Dipecat karena Iklan yang Picu Kemarahan Nasional, Dikaitkan dengan Tragedi Berdarah Gwangju

AKURAT.CO Kepala Starbucks Korea resmi dipecat setelah kampanye pemasaran perusahaan memicu kemarahan publik Korea Selatan. Ia dianggap menyinggung tragedi berdarah pemberontakan pro-demokrasi Gwangju tahun 1980.

Perusahaan induk Starbucks Korea, Shinsegae Group, mengumumkan pemecatan Sohn Jeong-hyun pada Senin setelah kampanye promosi bertajuk “Tank Day” menuai kritik luas di media sosial dan dunia politik.

Kampanye tersebut mempromosikan lini tumbler “Tank” dengan slogan berbunyi “put it on the table with a sound of ‘Tak!’”. Namun promosi itu diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Demokratisasi Korea Selatan yang mengenang tragedi Pemberontakan Gwangju pada Mei 1980.

Publik Korea Selatan menilai penggunaan kata “tank” dan “tak” sangat sensitif karena mengingatkan pada operasi militer brutal rezim diktator Chun Doo-hwan yang mengerahkan tank dan pasukan bersenjata untuk membubarkan demonstrasi mahasiswa pro-demokrasi di Gwangju.

Tragedi tersebut menewaskan dan menghilangkan ratusan warga sipil. Hingga kini, sejumlah fakta penting, termasuk pihak yang memerintahkan penembakan demonstran, masih menjadi kontroversi di Korea Selatan.

Kritik terhadap kampanye Starbucks semakin besar karena kata “tak” juga dianggap merujuk pada kasus kematian seorang aktivis mahasiswa tahun 1987 yang tewas akibat penyiksaan aparat. Saat itu, polisi sempat menyebut korban meninggal setelah kepalanya membentur meja hingga mengeluarkan suara “tak”, penjelasan yang kemudian menjadi simbol kebohongan rezim militer kala itu.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, ikut mengecam keras kampanye tersebut. Dalam unggahannya di platform X, Lee mengaku “marah” dan meminta Starbucks meminta maaf kepada keluarga korban tragedi Gwangju.

“Kampanye ini mencoreng perjuangan berdarah warga Gwangju dan para korban demonstrasi,” tulis Lee.

Setelah gelombang kecaman meluas, Starbucks Korea langsung menarik kampanye tersebut dan merilis permintaan maaf resmi.

Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, juga menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik Korea Selatan.

“Saya menundukkan kepala untuk meminta maaf sebagai perwakilan grup. Kampanye ini telah melukai masyarakat, keluarga korban, dan para penyintas tragedi 18 Mei,” ujarnya.

Kasus ini menjadi sorotan besar di Korea Selatan karena menyangkut luka sejarah nasional yang masih sangat sensitif, sekaligus memperlihatkan bagaimana kampanye pemasaran dapat memicu krisis reputasi ketika dianggap menyentuh tragedi kemanusiaan dan politik masa lalu.

Sumber: Telegraphindia

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.