Akurat Logo

AS dan Iran Dikabarkan Hampir Capai Kesepakatan Nuklir, Teheran Siap Lepas Uranium Diperkaya

Fitra Iskandar | 25 Mei 2026, 06:27 WIB
AS dan Iran Dikabarkan Hampir Capai Kesepakatan Nuklir, Teheran Siap Lepas Uranium Diperkaya
AS dan Iran Dikabarkan Hampir Capai Kesepakatan Nuklir, Teheran Siap Lepas Uranium Diperkaya. Foto: AI Generated

AKURAT.CO Pemerintah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan besar terkait program nuklir Teheran. Salah satu poin utama dalam proposal terbaru itu adalah komitmen Iran untuk melepaskan cadangan uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi.

Dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kesepakatan awal tersebut mencakup kesiapan Iran menyerahkan stok uranium yang selama ini menjadi perhatian utama Washington.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu menyatakan bahwa negaranya hampir mencapai perjanjian dengan Iran guna mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Namun, Trump belum mengungkap rincian lengkap isi kesepakatan maupun hambatan yang masih tersisa dalam proses negosiasi.

Menurut pejabat AS, proposal tersebut belum memutuskan secara rinci bagaimana Iran akan menyerahkan stok uranium diperkaya itu. Pembahasan teknis akan dilanjutkan dalam putaran baru perundingan program nuklir Iran dalam beberapa pekan atau bulan mendatang.

Meski demikian, pernyataan umum mengenai komitmen Iran melepas stok uranium disebut menjadi poin penting bagi Washington, terutama untuk meredam kritik dari Partai Republik di Kongres AS yang selama ini skeptis terhadap negosiasi dengan Teheran.

Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait pengumuman yang disampaikan Trump.

Sumber pemerintah AS menyebut Iran sebelumnya sempat menolak memasukkan isu stok uranium dalam tahap awal kesepakatan. Teheran ingin pembahasannya ditunda ke tahap kedua negosiasi.

Namun, negosiator Amerika melalui jalur perantara disebut memberi ultimatum bahwa tanpa kesepakatan awal mengenai uranium, AS akan menghentikan pembicaraan dan melanjutkan opsi militer terhadap Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, militer AS dilaporkan telah menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk lokasi penyimpanan uranium di Isfahan Nuclear Site.

Situs tersebut sebelumnya pernah dihantam rudal Tomahawk Amerika Serikat pada Juni tahun lalu. Serangan itu diyakini sempat mengubur stok uranium Iran di bawah tanah.

Salah satu opsi yang dibahas Washington adalah penggunaan bom penghancur bunker untuk menghancurkan cadangan uranium yang berada di fasilitas bawah tanah Isfahan.

Bahkan, setelah Iran kembali memperoleh akses ke uranium usai serangan tersebut, Trump disebut pernah mempertimbangkan operasi gabungan pasukan komando AS-Israel untuk merebut stok uranium itu. Namun, operasi berisiko tinggi tersebut akhirnya tidak pernah disetujui.

Berdasarkan data International Atomic Energy Agency, Iran saat ini memiliki sekitar 970 pon uranium yang diperkaya hingga level 60 persen — tingkat yang dinilai sangat dekat untuk kebutuhan senjata nuklir.

Pada kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama tahun 2015, Iran sempat menyerahkan stok uranium mereka kepada Rusia. Opsi serupa kini disebut kembali menjadi salah satu skenario yang dipertimbangkan.

Selain itu, Iran juga bisa mengubah tingkat pengayaan uranium menjadi level yang tidak dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Dalam negosiasi terbaru, Amerika Serikat diketahui mengusulkan moratorium pengayaan uranium selama 20 tahun. Sementara Iran hanya menawarkan penghentian dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat.

Kesepakatan akhir nantinya juga diperkirakan mencakup pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Pejabat AS menyebut akses Iran terhadap sebagian besar dana tersebut baru akan diberikan setelah tercapai kesepakatan final program nuklir. Langkah itu dinilai sebagai cara Washington menjaga Iran tetap berada di meja perundingan.

Sumber: Miamiherald

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.