Akurat Logo

Isi Draf Perdamaian Iran-AS yang Disebar Trump, Ada Poin Sensitif soal Nuklir dan Selat Hormuz

Idham Nur Indrajaya | 29 Mei 2026, 14:44 WIB
Isi Draf Perdamaian Iran-AS yang Disebar Trump, Ada Poin Sensitif soal Nuklir dan Selat Hormuz
Draf perdamaian Iran-AS yang disebar Trump memuat isu nuklir, Selat Hormuz, hingga penolakan Israel. Ini dampaknya bagi dunia. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Konflik Timur Tengah kembali memasuki fase yang rumit. Di satu sisi, Amerika Serikat disebut sedang mendorong kesepakatan damai dengan Iran. Namun di sisi lain, ancaman baru justru muncul dari Selat Hormuz, jalur laut paling strategis bagi distribusi minyak dunia.

Draf perdamaian tersebut memuat sejumlah poin sensitif, mulai dari pencairan aset Iran miliaran dollar AS hingga pembahasan masa depan program nuklir Teheran. Namun proposal itu juga memicu penolakan diam-diam dari Israel dan memperlihatkan bagaimana Selat Hormuz tetap menjadi alat tawar paling berbahaya dalam geopolitik global.

Ringkasan

Berdasarkan laporan yang dikutip dari The Guardian, draf perdamaian yang diedarkan Donald Trump kepada sekutunya memuat beberapa poin utama:

  • Jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dibuka kembali dalam 30 hari.

  • AS mencabut blokade ekonomi terhadap pelabuhan Iran.

  • Iran mendapat akses terhadap aset beku hingga 12 miliar dollar AS.

  • Negosiasi baru selama 60 hari terkait program nuklir Iran.

  • Pengawasan nuklir dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

  • Iran diminta menghentikan penggunaan senjata nuklir.

  • Gencatan senjata permanen juga mencakup Lebanon.

Meski terlihat seperti upaya damai, proposal tersebut justru membuka konflik baru karena menyentuh kepentingan strategis Iran, Israel, Oman, hingga China.

Apa Isi Draf Perdamaian Iran-AS yang Disebar Trump?

Isi draf perdamaian Iran-AS sebenarnya menunjukkan satu hal penting: Washington mulai menyadari bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah terlalu mahal untuk dipertahankan.

Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan di kawasan Teluk Persia telah mengganggu jalur perdagangan global dan membuat pasar energi dunia terus bergejolak. Karena itu, fokus utama draf tersebut bukan sekadar menghentikan perang, tetapi menjaga stabilitas distribusi minyak dunia.

Salah satu poin paling penting adalah pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz. Jalur ini bukan sekadar lintasan kapal biasa. Hampir seperlima distribusi minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.

Artinya, jika Selat Hormuz terganggu selama beberapa minggu saja, efeknya bisa langsung terasa ke harga BBM, biaya logistik, hingga inflasi global.

Dalam draf tersebut, AS juga menawarkan pencabutan blokade ekonomi terhadap pelabuhan Iran. Ini menjadi konsesi besar karena selama bertahun-tahun sanksi ekonomi menjadi senjata utama Washington untuk menekan Teheran.

Sebagai imbalannya, Iran diminta kembali masuk ke jalur negosiasi nuklir dengan pengawasan IAEA.

Namun di sinilah letak persoalan utamanya.

Kenapa Program Nuklir Iran Menjadi Poin Paling Sensitif?

Masalah terbesar dalam hubungan AS dan Iran selama dua dekade terakhir selalu berkaitan dengan uranium dan pengayaan nuklir.

Menurut laporan yang beredar, negosiasi terbaru masih terhambat oleh dua isu utama:

  • stok uranium Iran yang sudah diperkaya,

  • serta batas pengayaan di masa depan.

Pemerintah AS ingin Iran menghentikan pengayaan uranium tingkat tinggi dalam jangka waktu tertentu. Namun Iran menilai tuntutan tersebut terlalu membatasi hak negaranya.

Di sisi lain, Iran juga meminta agar aset-aset yang dibekukan segera dicairkan tanpa syarat.

Permintaan ini menunjukkan bahwa perang ekonomi ternyata sama pentingnya dengan perang militer.

Bagi Teheran, pencairan aset bukan hanya soal uang. Itu adalah simbol bahwa Iran tidak lagi sepenuhnya berada di bawah tekanan Barat.

Sementara bagi Washington, pencairan aset menjadi alat negosiasi untuk memastikan Iran tidak melanjutkan pengembangan senjata nuklir.

Situasi inilah yang membuat Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kedua pihak sebenarnya sudah dekat dengan kesepakatan, tetapi masih terjebak dalam proses tawar-menawar yang alot.

Baca Juga: DPR Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor di Tengah Geopolitik Global

Baca Juga: Jaga Inflasi, Mendagri Minta Pemda Antisipasi Dampak Dinamika Geopolitik Global

Kenapa Israel Diperkirakan Menolak Kesepakatan Ini?

Salah satu bagian paling menarik dari draf perdamaian ini justru datang dari reaksi Israel.

Secara terbuka, Israel memang belum menyatakan penolakan resmi. Namun banyak analis menilai proposal tersebut sulit diterima pemerintah Israel karena dianggap terlalu lunak terhadap Iran.

Ada tiga alasan utama.

1. Iran Dinilai Masih Mendapat Ruang Bernapas

Israel sejak lama memandang program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial.

Karena itu, setiap kesepakatan yang tidak benar-benar menghentikan pengayaan uranium dianggap hanya memberi waktu tambahan bagi Iran untuk memperkuat kemampuan strategisnya.

2. Gencatan Senjata Permanen Bisa Mengubah Peta Kawasan

Draf tersebut juga mencakup Lebanon, wilayah yang selama ini berkaitan erat dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Bagi Israel, gencatan senjata permanen tanpa pembatasan pengaruh Iran berpotensi memperkuat posisi lawan-lawannya di kawasan.

3. Trump Dinilai Sedang Bermain Dua Arah

Di satu sisi Trump mendorong perdamaian. Namun di sisi lain, ia tetap melontarkan ancaman keras terhadap Oman terkait rencana tarif Selat Hormuz.

Paradoks ini memperlihatkan bahwa diplomasi AS saat ini bukan hanya soal perdamaian, tetapi juga soal mempertahankan dominasi strategis di jalur perdagangan global.

Kenapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Dunia?

Banyak pembaca Indonesia mungkin bertanya: kenapa dunia begitu panik soal Selat Hormuz?

Jawabannya sederhana: jalur ini adalah “urat nadi energi global”.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah.

Jika jalur ini terganggu:

  • harga minyak dunia bisa melonjak,

  • biaya pengiriman global meningkat,

  • pasar saham bergejolak,

  • inflasi energi naik di banyak negara.

Bahkan negara yang tidak terlibat perang secara langsung tetap bisa terkena dampaknya.

Indonesia termasuk salah satunya.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi global. Jika konflik Iran-AS kembali memanas dan distribusi minyak terganggu, dampaknya bisa menjalar ke:

  • harga BBM,

  • tarif transportasi,

  • harga pangan,

  • hingga biaya logistik nasional.

Inilah alasan mengapa isu Timur Tengah sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Ancaman Trump terhadap Oman Memperlihatkan Konflik Belum Benar-Benar Reda

Di tengah upaya damai, muncul ketegangan baru antara AS dan Oman.

Iran disebut sedang membahas kemungkinan kerja sama dengan Oman terkait tarif tol kapal di Selat Hormuz. Langkah ini langsung memicu kemarahan Trump.

Presiden AS itu bahkan mengancam akan menghancurkan Oman jika negara tersebut tetap melanjutkan kerja sama dengan Teheran.

Ancaman tersebut mengejutkan banyak diplomat karena Oman selama ini dikenal sebagai mediator netral dalam konflik Timur Tengah.

Di sinilah terlihat bahwa persoalan sebenarnya bukan sekadar perang Iran dan AS, melainkan perebutan kontrol atas jalur perdagangan global.

AS tidak ingin ada sistem tarif baru di Selat Hormuz yang berpotensi memperbesar pengaruh Iran terhadap distribusi energi dunia.

Baca Juga: Setelah Konfrontasi dengan Iran, Trump Mengancam akan Meledakkan Oman karena Alasan ini

Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Memanas di Doha, Trump Desak Timur Tengah Normalisasi Hubungan dengan Israel

China Mulai Bermain Lebih Aktif di Balik Negosiasi

Peran China dalam isu ini juga menarik untuk dicermati.

Beijing dilaporkan mendesak Dewan Keamanan PBB agar ikut meratifikasi perjanjian damai jika nantinya tercapai kesepakatan.

Langkah ini menunjukkan bahwa China tidak ingin Timur Tengah kembali jatuh ke konflik besar.

Ada alasan ekonomi yang sangat kuat.

China adalah salah satu konsumen energi terbesar dunia. Stabilitas Selat Hormuz menjadi kepentingan vital bagi rantai pasok industri mereka.

Artinya, konflik Iran-AS kini bukan lagi sekadar urusan Washington dan Teheran, tetapi sudah berubah menjadi arena persaingan pengaruh global antara AS dan China.

Simulasi Dampak Jika Selat Hormuz Ditutup

Untuk memahami besarnya risiko konflik ini, bayangkan skenario berikut.

Jika Selat Hormuz ditutup selama satu minggu:

  • harga minyak mentah global kemungkinan melonjak tajam,

  • maskapai penerbangan menaikkan biaya operasional,

  • harga logistik laut naik,

  • pasar saham Asia melemah,

  • nilai tukar rupiah berpotensi tertekan.

Dalam situasi seperti itu, masyarakat Indonesia mungkin tidak langsung melihat perang di Timur Tengah. Namun dampaknya bisa muncul dalam bentuk:

  • kenaikan harga BBM,

  • harga sembako meningkat,

  • biaya transportasi naik,

  • daya beli masyarakat melemah.

Inilah mengapa dunia internasional sangat berhati-hati menghadapi konflik Iran-AS.

Draf Perdamaian Trump Bukan Sekadar Upaya Damai

Jika dilihat lebih dalam, draf perdamaian yang disebarkan Donald Trump bukan hanya soal menghentikan perang.

Proposal tersebut juga menunjukkan:

  • perebutan pengaruh di Timur Tengah,

  • persaingan kontrol energi global,

  • strategi diplomasi AS,

  • serta kekhawatiran dunia terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Di atas kertas, kesepakatan ini memang terlihat menjanjikan. Namun kenyataannya, terlalu banyak kepentingan besar yang saling bertabrakan.

Iran ingin sanksi dicabut. Israel ingin ancaman nuklir dihentikan total. China ingin stabilitas energi. AS ingin mempertahankan dominasi strategisnya.

Sementara dunia hanya berharap satu hal: konflik di Timur Tengah tidak kembali meledak dan memicu krisis ekonomi baru.

Karena itu, perkembangan negosiasi Iran-AS dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi perhatian global. Bukan hanya bagi negara-negara besar, tetapi juga bagi masyarakat biasa yang kehidupannya ikut dipengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Pantau terus perkembangan konflik Iran-AS dan dinamika Timur Tengah karena dampaknya bisa menjalar hingga ekonomi domestik Indonesia.

Baca Juga: AS-Iran Dekati Fase Damai, Saham AS Reli Tajam Bitcoin Terkapar

Baca Juga: Tunggu Persetujuan Trump, AS dan Iran Mencapai Kesepakatan Gencatan Senjata Sementara

FAQ

Apa isi utama draf perdamaian Iran-AS yang disebarkan Donald Trump?

Isi draf perdamaian Iran-AS yang diedarkan Donald Trump mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, pencabutan blokade ekonomi terhadap pelabuhan Iran, pencairan aset Iran hingga 12 miliar dollar AS, serta negosiasi baru terkait program nuklir Iran selama 60 hari. Selain itu, Iran juga diminta menghentikan penggunaan senjata nuklir dengan pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Proposal ini disebut menjadi langkah penting untuk menjaga gencatan senjata dan mencegah konflik Timur Tengah semakin meluas.

Kenapa Selat Hormuz sangat penting dalam konflik Iran dan AS?

Selat Hormuz menjadi jalur strategis karena hampir seperlima distribusi minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari. Jika konflik Iran-AS mengganggu jalur ini, harga minyak global bisa melonjak tajam dan memicu gejolak ekonomi internasional. Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin paling penting dalam draf perdamaian yang disusun Amerika Serikat. Negara-negara besar seperti China hingga AS memiliki kepentingan besar menjaga jalur perdagangan energi tersebut tetap aman.

Mengapa Israel diperkirakan menolak perjanjian damai Iran-AS?

Israel diperkirakan keberatan terhadap draf perdamaian Iran-AS karena proposal tersebut dianggap belum cukup keras terhadap program nuklir Iran. Pemerintah Israel selama ini memandang pengayaan uranium Iran sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan. Selain itu, gencatan senjata permanen yang mencakup Lebanon juga dinilai berpotensi memperkuat pengaruh kelompok yang dekat dengan Teheran di Timur Tengah. Kekhawatiran utama Israel adalah Iran justru mendapat waktu tambahan untuk memperkuat kemampuan strategisnya.

Apa dampak konflik Iran-AS terhadap Indonesia?

Meski terjadi jauh di Timur Tengah, konflik Iran dan Amerika Serikat bisa berdampak langsung terhadap ekonomi Indonesia. Jika ketegangan di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dunia, Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya impor energi, harga BBM, hingga inflasi logistik. Dampaknya dapat terasa pada harga kebutuhan pokok, tarif transportasi, dan daya beli masyarakat. Karena itu, perkembangan negosiasi Iran-AS juga menjadi perhatian bagi pasar keuangan dan ekonomi domestik Indonesia.

Kenapa Iran meminta aset yang dibekukan segera dicairkan?

Iran menilai pencairan aset yang dibekukan menjadi simbol penting bahwa tekanan ekonomi Barat mulai berkurang. Dalam negosiasi terbaru, Teheran meminta dana miliaran dollar AS yang selama ini diblokir segera dikembalikan tanpa syarat tambahan. Bagi Iran, isu ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan politik dan posisi tawar dalam pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Permintaan tersebut menjadi salah satu poin yang masih menghambat finalisasi kesepakatan damai.

Apa peran China dalam negosiasi perdamaian Iran-AS?

China mulai memainkan peran lebih aktif dalam negosiasi geopolitik Timur Tengah dengan mendorong Dewan Keamanan PBB meratifikasi perjanjian damai Iran-AS jika nantinya disepakati. Beijing memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas energi global karena China merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia. Stabilitas Selat Hormuz sangat penting bagi rantai pasok industri China. Karena itu, pemerintah China ingin mencegah konflik Iran-AS berkembang menjadi perang besar yang dapat mengganggu perdagangan internasional.

Mengapa ancaman Trump terhadap Oman menjadi sorotan?

Ancaman Donald Trump terhadap Oman menjadi sorotan karena muncul di tengah upaya perdamaian dengan Iran. Trump disebut marah setelah muncul laporan bahwa Iran sedang mencoba membuat kesepakatan tarif tol kapal di Selat Hormuz bersama Oman. AS menilai langkah tersebut bisa memperbesar kontrol Iran terhadap jalur perdagangan minyak dunia. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik sebenarnya bukan hanya soal perang Iran dan AS, tetapi juga perebutan pengaruh ekonomi dan kontrol atas jalur energi global paling strategis di dunia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.