Akurat Logo

Taiwan Kecam China usai Pengusiran Jurnalis New York Times karena Mewawancarai Lai Ching-te

Fitra Iskandar | 1 Juni 2026, 11:39 WIB
Taiwan Kecam China usai Pengusiran Jurnalis New York Times karena Mewawancarai Lai Ching-te
Kantor New York Times. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Pemerintah Taiwan mengecam keputusan Beijing yang dilaporkan mengusir seorang jurnalis The New York Times usai media tersebut mewawancarai Presiden Taiwan Lai Ching-te.

Kantor Kepresidenan Taiwan pada Minggu (31/5/2026) menuduh China menggunakan alasan yang tidak berdasar untuk menekan media internasional dan membatasi kebebasan pers.

Kontroversi ini mencuat setelah The New York Times mengungkap bahwa salah satu reporternya, Vivian Wang, dikeluarkan dari China pada Februari lalu. Menurut surat kabar tersebut, pejabat China menyebut keputusan itu berkaitan dengan wawancara video Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam forum DealBook Summit pada Desember 2025.

Taiwan Sebut China Ancam Kebebasan Pers

Juru bicara Kantor Kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, mengatakan wawancara Presiden Lai dengan media internasional merupakan praktik yang lazim dilakukan untuk menjelaskan kebijakan dan posisi Taiwan kepada dunia.

Menurutnya, langkah Beijing justru semakin memperburuk citra internasional China.

“Penggunaan alasan yang tidak berdasar dan cara-cara kasar untuk mengancam media serta mencampuri kebebasan pers tidak akan memperbaiki citra China di mata dunia. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa China saat ini menjadi sumber ketidakstabilan,” kata Kuo dalam pernyataannya.

Jurnalis yang Diusir Tidak Terlibat Wawancara

The New York Times menegaskan bahwa Vivian Wang tidak terlibat dalam wawancara Presiden Lai yang disebut menjadi alasan pengusirannya.

Sebelum meninggalkan China, Wang dikenal meliput berbagai isu sensitif, termasuk kebijakan sensor pemerintah China dan penanganan pandemi Covid-19.

Hingga kini, Kementerian Luar Negeri China maupun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Taiwan Tegaskan Tidak Akan Bungkam

Kuo menegaskan Taiwan tidak akan tunduk terhadap tekanan politik dari Beijing dan akan terus menyampaikan pandangannya kepada komunitas internasional secara terbuka.

“Taiwan tidak akan dibungkam oleh tekanan. Kami akan terus menyampaikan posisi kami kepada dunia secara bertanggung jawab dan konsisten,” ujarnya.

Taiwan juga kembali menuduh China meningkatkan praktik yang disebut Taipei sebagai “represi lintas negara”, termasuk pemberian sanksi terhadap pejabat dan anggota parlemen Taiwan meski hukum China tidak berlaku di wilayah pulau tersebut.

Hubungan China-Taiwan Tetap Memanas

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan secara konsisten menolak segala bentuk aktivitas yang dinilai mendukung kemerdekaan pulau itu.

Beijing juga menyebut Presiden Lai Ching-te sebagai tokoh separatis. Namun Lai menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh rakyat Taiwan sendiri.

Kasus ini kembali menyoroti hubungan yang semakin tegang antara Beijing dan Taipei, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru mengenai kebebasan pers bagi jurnalis asing yang bekerja di China.

Sebagai informasi, jurnalis asing di China umumnya hanya memperoleh visa kerja selama satu tahun yang harus diperpanjang secara berkala dan dapat dicabut sewaktu-waktu oleh pemerintah setempat.

Pada 2020, China juga pernah mengusir lebih dari selusin jurnalis asing dari sejumlah media Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing.

Sumber: Asiaone

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.