Italia Tak Mampu Ikuti Tuntutan Trump? Meloni Hadapi Dilema Besar Jelang Pemilu

AKURAT.CO Hubungan erat antara Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat di Italia.
Setelah selama lebih dari setahun dikenal sebagai pemimpin Eropa yang paling dekat dengan Trump, Meloni kini menghadapi realitas politik domestik yang memaksanya mengambil jarak dari Gedung Putih.
Kenaikan biaya energi, perlambatan ekonomi, serta tuntutan peningkatan belanja pertahanan dari NATO menjadi isu yang berpotensi mengancam peluangnya mempertahankan kekuasaan pada pemilu mendatang.
Dukungan terhadap Trump Merosot di Italia
Saat Trump kembali memimpin Amerika Serikat, Meloni sempat berupaya memosisikan diri sebagai jembatan antara Eropa dan gerakan politik MAGA (Make America Great Again). Hubungan keduanya terlihat sangat dekat, bahkan Trump beberapa kali memuji Meloni sebagai pemimpin yang dihormati dan sahabat Amerika.
Namun situasi berubah setelah dampak konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran, memicu lonjakan harga energi yang dirasakan langsung oleh masyarakat Italia.
Survei Ipsos pada Mei lalu menunjukkan sekitar 77 persen warga Italia memiliki pandangan negatif terhadap Trump. Kondisi tersebut membuat Meloni semakin sulit mempertahankan citranya sebagai sekutu terdekat Washington di Eropa.
Dalam beberapa bulan terakhir, Meloni bahkan mulai melontarkan kritik terbuka terhadap kebijakan Trump dan dilaporkan membatasi akses pesawat militer AS ke salah satu pangkalan udara Italia.
Target Belanja Pertahanan NATO Jadi Sumber Ketegangan
Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Meloni adalah tuntutan NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035.
Saat ini Italia hanya mengalokasikan sekitar 2 persen PDB untuk sektor pertahanan. Meski pemerintah telah menyatakan komitmen terhadap target NATO, banyak pihak menilai kondisi ekonomi Italia tidak memungkinkan peningkatan anggaran sebesar itu.
Tokoh oposisi dari Partai Demokrat Italia, Antonio Misiani, menyebut target tersebut tidak realistis bagi Italia yang sedang menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Senator dari partai sayap kanan Liga, Claudio Borghi, juga mengkritik rencana peningkatan anggaran militer. Menurutnya, pemerintah akan kesulitan menjelaskan kepada publik mengapa dana untuk tank dan persenjataan diprioritaskan ketika banyak keluarga masih kesulitan membayar tagihan energi.
Ekonomi Italia Melambat, Posisi Meloni Mulai Tertekan
Tekanan terhadap Meloni semakin besar karena sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perlambatan.
Program pemulihan ekonomi pascapandemi senilai hampir 200 miliar euro yang selama ini membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Italia akan segera berakhir. Di saat yang sama, produktivitas nasional masih rendah dan kondisi keuangan negara kembali mendapat sorotan dari Uni Eropa.
Oposisi mulai memanfaatkan kondisi tersebut untuk menyerang kebijakan ekonomi pemerintah. Mereka menilai strategi fiskal Meloni gagal menghasilkan pertumbuhan yang cukup kuat bagi ekonomi terbesar ketiga di zona euro tersebut.
Mario Turco dari Gerakan Bintang Lima menilai Italia kini tertinggal dibanding banyak negara Eropa lainnya dalam hal pertumbuhan ekonomi, sementara tingkat utang publik tetap tinggi.
Italia Kesulitan Penuhi Komitmen Militer
Pemerintah Italia sebelumnya berencana menggunakan pinjaman Uni Eropa melalui skema SAFE (Security Action for Europe) senilai 15 miliar euro untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 2,5 persen PDB pada 2030.
Namun tingginya defisit anggaran membuat Roma kesulitan mengambil seluruh fasilitas pinjaman tersebut. Beberapa laporan menyebut pemerintah kini mempertimbangkan hanya menggunakan sekitar 5 miliar euro dari total dana yang tersedia.
Jika rencana itu terjadi, sejumlah proyek pertahanan yang telah disepakati antara industri militer Italia dan Kementerian Pertahanan berpotensi ditinjau ulang atau ditunda.
Trump Bisa Jadi Masalah Sekaligus Peluang Politik bagi Meloni
Sejumlah analis menilai Meloni kini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia perlu menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan NATO. Di sisi lain, tuntutan peningkatan belanja militer berisiko memicu ketidakpuasan publik menjelang pemilu.
Menariknya, sebagian pengamat meyakini kritik dari Trump justru bisa menguntungkan Meloni secara politik. Mengingat rendahnya popularitas Trump di Italia, sikap lebih independen terhadap Washington dapat meningkatkan citra Meloni di mata pemilih domestik.
Bagi pemimpin yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling dekat Trump di Eropa, situasi tersebut menjadi ironi tersendiri. Kini, menjaga dukungan rakyat Italia mungkin mengharuskan Giorgia Meloni mengecewakan Gedung Putih.
Sumber: Politico
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







