Akurat Logo

Kesepakatan Damai AS-Iran Tercapai, Para Pakar Ungkap Mengapa Dunia Belum Bisa Bernapas Lega

Fitra Iskandar | 15 Juni 2026, 11:14 WIB
Kesepakatan Damai AS-Iran Tercapai, Para Pakar Ungkap Mengapa Dunia Belum Bisa Bernapas Lega
Kesepakatan Damai AS-Iran Tercapai, Para Pakar Ungkap Mengapa Dunia Belum Bisa Bernapas Lega. Foto: AI Generated

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung lebih dari 100 hari. Kesepakatan tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Melalui pernyataan singkat pada Minggu (15/6), Trump menyampaikan pesan yang langsung menarik perhatian pasar global.

"Let the oil flow!" kata Trump, seraya mengumumkan bahwa penandatanganan resmi kesepakatan akan dilakukan pada 19 Juni mendatang.

Tak lama setelah pengumuman itu, pejabat Iran mengonfirmasi bahwa kedua negara telah menyepakati sebuah memorandum of understanding (MoU) yang mencakup penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan perpanjangan gencatan senjata yang saat ini berlaku.

Meski pasar merespons positif dengan penurunan harga minyak dunia, sejumlah pakar menilai jalan menuju perdamaian permanen masih panjang dan penuh ketidakpastian.

Kesepakatan Dinilai Belum Menyentuh Akar Konflik

Pakar strategi Iran dari Atlantic Council, Nate Swanson, menilai memorandum yang telah disepakati saat ini lebih merupakan kerangka awal dibandingkan solusi final terhadap konflik.

Menurutnya, dokumen tersebut diperkirakan berisi 14 poin yang bertujuan memperkuat gencatan senjata dan membuka ruang negosiasi lanjutan. Namun berbagai isu utama justru belum terselesaikan.

"Kesepakatan ini kemungkinan hanya akan mengurangi kekerasan sementara, meningkatkan lalu lintas maritim, dan memberi waktu bagi para pihak untuk bernegosiasi lebih lanjut," ujarnya.

Swanson menilai isu-isu krusial seperti program nuklir Iran, mekanisme keamanan Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, dan insentif finansial bagi Teheran masih belum memiliki solusi yang jelas.

Ia memperingatkan bahwa tanpa kesepakatan lanjutan yang lebih komprehensif, risiko konflik baru tetap tinggi.

"Perbedaan antara ambisi yang tertulis dalam MoU dan hasil akhir yang benar-benar tercapai kemungkinan akan sangat besar," katanya.

Harga Minyak Turun, Tapi Pasar Belum Sepenuhnya Tenang

Kesepakatan damai juga memicu optimisme di pasar energi global. Harga minyak turun setelah kabar pembukaan kembali Selat Hormuz mencuat.

Namun Wakil Presiden Atlantic Council bidang Energi dan Infrastruktur, Landon Derentz, mengingatkan bahwa normalisasi pasar tidak akan terjadi secara instan.

Menurutnya, industri energi membutuhkan kepastian jangka panjang, sementara kesepakatan yang ada saat ini masih sangat rapuh.

"Pasar energi tidak hanya membutuhkan perdamaian, tetapi juga kepastian bahwa kapal-kapal dapat melintas tanpa ancaman rudal, drone, maupun ranjau laut," jelasnya.

Derentz menambahkan bahwa berbagai fasilitas energi dan ekspor gas alam cair di kawasan Teluk mengalami kerusakan selama konflik berlangsung. Perbaikan infrastruktur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Selain itu, cadangan energi global saat ini berada pada level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sehingga risiko kenaikan harga minyak masih tetap membayangi.

Dua Pertanyaan Besar yang Ditunggu Dunia

Sementara itu, ekonom internasional Josh Lipsky menilai pasar keuangan global belum akan langsung menganggap krisis telah berakhir.

Menurutnya, investor dan negara-negara sekutu Amerika Serikat masih menunggu jawaban atas dua pertanyaan penting.

Pertama, apakah Selat Hormuz benar-benar akan dibuka sepenuhnya sesuai janji dalam kesepakatan. Kedua, berapa biaya dan risiko baru yang harus ditanggung kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut setelah perang.

"Ancaman ranjau laut, drone, maupun kemungkinan pecahnya konflik baru akan tetap diperhitungkan oleh pelaku pasar," kata Lipsky.

Ia memperkirakan isu tersebut akan menjadi topik utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian, Prancis, yang dihadiri Trump dan para pemimpin negara-negara ekonomi terbesar dunia.

Menurut Lipsky, inflasi yang meningkat selama perang telah memberikan tekanan besar terhadap ekonomi global, sehingga para pemimpin dunia akan meminta kejelasan lebih rinci mengenai implementasi kesepakatan tersebut.

Secara Militer Menang, Secara Strategis AS Belum Berhasil

Pandangan lebih kritis datang dari Direktur Iraq Initiative Atlantic Council, Victoria J. Taylor.

Ia menilai bahwa meskipun Amerika Serikat berhasil melemahkan sejumlah kemampuan militer Iran dan menargetkan tokoh-tokoh penting negara tersebut, tujuan strategis perang justru belum tercapai.

"Rezim Iran masih bertahan dan bahkan muncul dengan posisi yang lebih kuat secara politik di dalam negeri," ujarnya.

Taylor berpendapat bahwa perang justru dapat mendorong Iran semakin bertekad mempertahankan atau mempercepat program nuklirnya sebagai alat pencegah ancaman di masa depan.

Menurutnya, kemampuan Iran mengancam penutupan Selat Hormuz kini telah terbukti nyata dan akan tetap menjadi senjata geopolitik yang dapat digunakan Teheran kapan saja.

Ia memperingatkan bahwa kesepakatan yang baru diumumkan kemungkinan besar hanya akan menjadi gencatan senjata sementara, bukan perdamaian permanen.

"Ini mungkin hasil terbaik yang bisa dicapai saat ini, tetapi belum tentu mampu menghilangkan risiko konflik di masa depan," kata Taylor.

Perdamaian Masih Diuji

Meski kesepakatan AS-Iran disambut positif oleh pasar dan komunitas internasional, para analis sepakat bahwa keberhasilannya akan ditentukan oleh implementasi di lapangan.

Pembukaan kembali Selat Hormuz, keberlanjutan gencatan senjata, masa depan program nuklir Iran, serta kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi akan menjadi ujian utama dalam beberapa bulan mendatang.

Jika negosiasi tahap berikutnya gagal menghasilkan terobosan, ketegangan yang selama ini mengguncang Timur Tengah berpotensi kembali memanas dan menyeret pasar energi global ke dalam ketidakpastian baru.

Sumber: Atlanticcouncil

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.