Akurat Logo

Warga Israel Murka atas Kesepakatan Damai AS-Iran, Sebut Trump Beri "Napas Baru" untuk Teheran

Fitra Iskandar | 16 Juni 2026, 07:14 WIB
Warga Israel Murka atas Kesepakatan Damai AS-Iran, Sebut Trump Beri "Napas Baru" untuk Teheran
Warga Israel Murka atas Kesepakatan Damai AS-Iran. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah justru memicu gelombang kemarahan di Israel. Banyak warga, politisi, hingga pengamat keamanan menilai perjanjian yang didorong Presiden AS Donald Trump itu tidak menjawab ancaman utama yang selama ini dihadapi negara tersebut.

Sejak rincian awal kesepakatan diumumkan, kritik bermunculan dari berbagai spektrum politik Israel. Baik pendukung maupun penentang pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sama-sama menyebut perjanjian tersebut sebagai "kesepakatan buruk" yang berpotensi menguntungkan Iran.

Banyak warga Israel mengaku pesimistis bahwa kesepakatan tersebut mampu menciptakan perdamaian jangka panjang. Mereka khawatir Iran tetap mempertahankan kemampuan nuklir, program rudal balistik, serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu seperti Hizbullah dan Hamas.

"Ini hanya melayani kepentingan Amerika," kata salah seorang warga Israel yang diwawancarai media internasional. Warga lainnya menilai kesepakatan dengan Iran tidak akan menghasilkan stabilitas yang berkelanjutan karena Teheran masih dianggap sebagai ancaman strategis bagi keamanan Israel.

Ketidakpercayaan terhadap Iran Masih Tinggi

Salah satu alasan utama penolakan warga Israel adalah karena kesepakatan tersebut dinilai belum memberikan kejelasan mengenai masa depan program nuklir Iran. Banyak pihak khawatir pelonggaran sanksi justru akan memberikan ruang bagi Teheran untuk memperkuat kembali pengaruh regionalnya.

Media dan sejumlah tokoh politik Israel bahkan menyebut perjanjian itu sebagai "bencana" karena dianggap memberi "napas baru" bagi rezim Iran tanpa menghilangkan ancaman yang selama ini menjadi alasan utama perang.

Kekhawatiran juga muncul terkait kemungkinan pencairan aset Iran dan pelonggaran tekanan ekonomi terhadap Teheran, yang menurut para kritikus dapat digunakan untuk membangun kembali kekuatan militernya.

Kemarahan Warga Berujung ke Netanyahu

Menariknya, kemarahan publik tidak hanya diarahkan kepada Trump atau Iran. Sebagian besar kritik justru ditujukan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dianggap gagal memastikan kepentingan Israel masuk dalam proses negosiasi.

Banyak warga menilai pemerintah Israel telah mengorbankan banyak sumber daya dan menghadapi perang berkepanjangan, namun hasil akhirnya justru ditentukan oleh kesepakatan yang disusun Washington dan Teheran.

Kritik tersebut muncul di tengah menurunnya popularitas Netanyahu menjelang pemilu nasional yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Kesepakatan AS-Iran kini menjadi isu politik baru yang berpotensi memengaruhi peta persaingan politik di Israel.

Warga Israel Masih Diliputi Rasa Tidak Aman

Meski diplomasi mulai bergerak, kehidupan warga di wilayah utara Israel belum banyak berubah. Ancaman roket dari perbatasan Lebanon, sirene serangan udara, dan konflik dengan Hizbullah masih menjadi bagian dari keseharian mereka. Banyak warga menilai kesepakatan damai tidak otomatis menghilangkan ancaman yang mereka rasakan secara langsung.

Karena itu, respons publik Israel terhadap kesepakatan AS-Iran cenderung dipenuhi skeptisisme. Bagi mereka, perdamaian sejati tidak hanya ditentukan oleh tanda tangan para pemimpin dunia, tetapi juga oleh jaminan bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengancam keamanan Israel di masa depan.

 Sumber: PBS

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.