Akurat Logo

Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Harga BBM AS Turun di Bawah USD 4 per Galon

Fitra Iskandar | 16 Juni 2026, 08:53 WIB
 Usai Kesepakatan Damai AS-Iran, Harga BBM AS Turun di Bawah USD 4 per Galon
Harga BBM AS Turun di Bawah USD 4 per Galon Usai Kesepakatan Damai AS-Iran. Foto ilustrasi: Unsplash

AKURAT.CO Harga bensin rata-rata di Amerika Serikat akhirnya turun di bawah level psikologis USD 4 per galon untuk pertama kalinya sejak pertengahan April. Penurunan ini terjadi setelah muncul optimisme bahwa kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Kabar tersebut langsung memicu penurunan harga minyak mentah global. Pada Senin (15/6/2026), harga minyak anjlok lebih dari USD 4 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan.

Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa pasar energi masih menghadapi ketidakpastian karena implementasi kesepakatan tersebut belum sepenuhnya teruji.

Harga Bensin Turun, Trump Dapat Angin Segar

Turunnya harga bahan bakar menjadi kabar positif bagi pemerintahan Trump yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi kritik akibat lonjakan biaya energi.

Data GasBuddy menunjukkan harga bensin rata-rata nasional turun menjadi USD 3,997 per galon pada Minggu, menembus batas USD 4 per galon yang selama ini dianggap sebagai ambang psikologis penting bagi konsumen Amerika.

Sementara itu, data dari American Automobile Association (AAA) mencatat harga rata-rata nasional berada di level USD 4,065 per galon pada Senin.

Meski mulai turun, harga BBM saat ini masih sekitar 90 sen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bagi Partai Republik, perkembangan ini dinilai penting menjelang pemilu paruh waktu yang akan digelar November mendatang. Trump dan para anggota Kongres dari Partai Republik tengah berupaya mempertahankan mayoritas tipis mereka di DPR dan Senat.

Selat Hormuz Jadi Kunci Utama

Para pelaku pasar kini menyoroti perkembangan di Selat Hormuz sebagai faktor utama yang akan menentukan arah harga energi dalam beberapa minggu ke depan.

Trump menyatakan teks lengkap kesepakatan akan dirilis setelah upacara penandatanganan resmi pada Jumat. Ia juga menegaskan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional.

Namun sejumlah pakar memperingatkan bahwa normalisasi jalur pelayaran tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

Proses pembersihan ranjau laut dan pemulihan sistem keamanan di kawasan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu.

"Ujian sebenarnya sekarang ada di Selat Hormuz. Jika jalur itu benar-benar kembali beroperasi normal, maka pasar akan melihat penurunan harga ini sebagai sesuatu yang berkelanjutan," kata Patrick De Haan, Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy.

Menurutnya, harga bensin masih berpotensi turun lebih lanjut apabila hubungan AS-Iran terus bergerak ke arah yang positif.

Warga AS Sudah Keluarkan Tambahan USD 46 Miliar

Konflik yang pecah sejak akhir Februari telah memberikan dampak besar terhadap pengeluaran masyarakat Amerika.

GasBuddy memperkirakan warga AS secara kolektif telah mengeluarkan tambahan sekitar USD 46 miliar untuk membeli bensin sejak perang dimulai.

Harga BBM mulai melonjak tajam pada akhir Maret setelah Iran membatasi sebagian besar lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang menangani hampir 20 persen pasokan minyak dunia.

Lonjakan harga energi juga turut mendorong inflasi AS kembali menembus angka 4 persen pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Penurunan harga bensin dalam beberapa pekan terakhir membantu meredakan ekspektasi inflasi konsumen, memberikan sedikit ruang bernapas bagi perekonomian Amerika.

Analis Ingatkan Risiko Masih Tinggi

Meski pasar merespons positif kabar kesepakatan damai, sejumlah analis menilai situasi masih sangat rapuh.

Kepala Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, mengatakan banyak detail dalam kesepakatan AS-Iran yang masih belum jelas dan berpotensi memicu hambatan baru.

"Ini adalah struktur yang rapuh. Sangat mudah runtuh jika ada detail yang tidak dapat disepakati oleh kedua pihak," ujarnya.

Kekhawatiran juga datang dari kondisi pasokan bahan bakar domestik Amerika Serikat yang semakin ketat.

Data pemerintah menunjukkan stok bensin AS pada pekan pertama Juni turun menjadi 215,1 juta barel, level musiman terendah dalam satu dekade.

Permintaan domestik yang tetap tinggi ditambah ekspor bahan bakar yang kuat berpotensi menekan persediaan dan kembali mendorong kenaikan harga.

Ancaman Gangguan Baru Masih Membayangi

Penasihat energi Gulf Oil, Tom Kloza, menilai euforia pasar saat ini bisa berumur pendek jika tidak ada kemajuan nyata dalam mengamankan Selat Hormuz.

Menurutnya, proses pemulihan harus mencakup pembersihan ranjau laut, pemulihan perlindungan asuransi kapal, serta penghentian aksi kelompok-kelompok proksi yang beroperasi di kawasan.

Jika langkah-langkah tersebut tidak berjalan sesuai rencana, harga minyak dan BBM berisiko kembali melonjak dalam waktu singkat.

Dengan demikian, meski konsumen Amerika mulai merasakan manfaat dari turunnya harga bensin, masa depan pasar energi global masih sangat bergantung pada keberhasilan implementasi kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Sumber: Huffpost

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.