Akurat Logo

Donald Trump Ultimatum Iran: Waktu Hampir Habis!

Fitra Iskandar | 18 Mei 2026, 08:26 WIB
Donald Trump Ultimatum Iran:  Waktu Hampir Habis!
Foto: SC X Presiden Donald Trump

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah mandeknya negosiasi nuklir dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Melalui unggahan di Truth Social pada Minggu malam, Trump meminta Teheran segera bergerak menuju kesepakatan damai atau menghadapi konsekuensi besar.

“Bagi Iran, waktunya terus berjalan dan mereka harus bergerak CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT KRUSIAL!” tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan percakapan telepon dengan Trump terkait perang Iran-Israel dan kemungkinan operasi militer lanjutan.

Menurut laporan media Israel, Netanyahu juga dijadwalkan menggelar rapat kabinet keamanan terbatas di Yerusalem guna membahas fase berikutnya dari konfrontasi dengan Iran.

Israel Siap Hadapi “Segala Skenario”

Dalam rapat kabinet mingguan sebelum berbicara dengan Trump, Netanyahu menegaskan Israel berada dalam kondisi siaga penuh.

“Kami siap menghadapi setiap skenario,” kata Netanyahu sambil menegaskan bahwa Israel terus memantau perkembangan Iran.

Di sisi lain, juru bicara angkatan bersenjata Iran Abolfazl Shekarchi memperingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap Iran akan memicu respons besar yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap aset militer Amerika Serikat.

Ancaman juga datang dari Wakil Ketua Parlemen Iran Hamidreza Hajibabaei yang menyebut Iran dapat memblokir akses pasokan minyak Teluk dalam jangka panjang apabila fasilitas minyak negaranya diserang.

Negosiasi Nuklir AS-Iran Jalan Buntu

Meski gencatan senjata antara Washington dan Teheran tercapai pada 8 April lalu, pembicaraan damai hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti.

Media Iran menuduh Amerika Serikat menolak memberikan konsesi penting dalam proposal terbaru negosiasi.

Kantor berita Fars melaporkan Washington meminta Iran hanya mempertahankan satu fasilitas nuklir aktif dan menyerahkan stok uranium dengan pengayaan tinggi kepada AS.

Amerika Serikat juga disebut menolak mencairkan sebagian besar aset Iran yang dibekukan di luar negeri maupun memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Sementara itu, kantor berita Mehr menilai negosiasi kini mengarah pada kebuntuan total dan menuding Washington mencoba memperoleh lewat diplomasi apa yang gagal dicapai melalui perang.

Dalam proposalnya, Iran dilaporkan meminta pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sejak 13 April, mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, penghentian konflik di Lebanon, serta pencabutan sanksi ekonomi.

Iran yang dikenal sebagai pendukung utama kelompok Hezbollah juga menuntut gencatan senjata permanen di Lebanon sebelum tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas dengan Washington.

Selat Hormuz dan Serangan Drone Jadi Sorotan

Ketegangan kawasan kembali meningkat setelah serangan drone memicu kebakaran di dekat fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi.

Kelompok bersenjata pro-Iran di Irak diketahui memiliki drone tempur, sementara kelompok Houthi di Yaman juga memiliki kemampuan serangan UAV bersenjata.

Krisis Selat Hormuz turut menjadi topik penting dalam pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini.

Trump mengklaim Xi memastikan China tidak akan memberikan bantuan militer kepada Iran dan siap membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sebagai jalur utama perdagangan minyak dunia.

Meski demikian, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan diplomatik besar.

Situasi terbaru ini memicu kekhawatiran global bahwa konflik Iran-Israel dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas dan berdampak langsung terhadap harga minyak dunia serta stabilitas ekonomi internasional.

Sumber: Thisisbeirut

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.