Akurat Logo
Bank Indonesia

India Siapkan Misi Berbahaya Jemput Jenazah Pendaki Misterius "Green Boots" yang Membeku Selama 30 Tahun di Everest

Fitra Iskandar | 26 Juni 2026, 13:50 WIB
India Siapkan Misi Berbahaya Jemput Jenazah Pendaki Misterius "Green Boots" yang Membeku Selama 30 Tahun di Everest
Green Boots, jenazah misterius di Everest. Foto: Wikipedia

AKURAT.CO Pemerintah India tengah menyiapkan operasi berisiko tinggi untuk mengevakuasi jenazah seorang pendaki legendaris yang dikenal sebagai "Green Boots", sosok misterius yang telah terbaring membeku di lereng Gunung Everest selama hampir tiga dekade.

Misi yang akan dipimpin oleh Indo-Tibetan Border Police (ITBP) itu diperkirakan menjadi salah satu operasi evakuasi paling sulit dalam sejarah pendakian Everest. Tim penyelamat harus bekerja di ketinggian lebih dari 8.500 meter, kawasan yang dikenal sebagai "Death Zone" atau zona kematian, tempat kadar oksigen hanya sekitar sepertiga dari permukaan laut.

Green Boots, Jenazah yang Menjadi Penanda Jalur Everest

Nama "Green Boots" telah lama menjadi legenda di kalangan pendaki dunia. Julukan itu berasal dari sepatu bot hijau mencolok yang masih terlihat pada jasad pendaki tersebut.

Selama bertahun-tahun, tubuh Green Boots berada tepat di salah satu jalur utama menuju puncak Everest. Banyak pendaki mengaku harus melewati, bahkan melangkahi jenazah tersebut ketika menuju puncak gunung tertinggi di dunia.

Meski dikenal luas, identitas Green Boots hingga kini masih menjadi perdebatan.

Pemerintah India meyakini jenazah tersebut adalah Dorje Morup, anggota ekspedisi India tahun 1996. Namun banyak pendaki dan peneliti Everest percaya bahwa jasad itu sebenarnya milik Tsewang Paljor, yang meninggal bersama dua rekannya setelah nekat melanjutkan pendakian meski cuaca memburuk di dekat puncak.

Ketiga anggota ekspedisi tersebut tidak pernah berhasil kembali.

Everest Telah Merenggut Ratusan Nyawa

Sejak pertama kali berhasil ditaklukkan pada 1953, Gunung Everest telah menjadi impian para pendaki dari seluruh dunia.

Namun di balik pesonanya, Everest juga menyimpan sejarah kelam. Berdasarkan data Himalayan Database, sedikitnya 344 pendaki telah meninggal hingga dimulainya musim pendakian 2026.

Baca Juga: Pendaki Legendaris Soroti Bahaya Everest, Desak Nepal Perketat Seleksi Pendaki Gunung Tertinggi Dunia

Sebanyak 232 korban tercatat meninggal di sisi Nepal, sementara sisanya berada di wilayah Tibet. Angka tersebut diyakini belum mencerminkan seluruh korban yang sebenarnya.

Banyak jenazah tetap berada di gunung karena proses evakuasi dinilai terlalu berbahaya, mahal, dan berisiko tinggi.

Evakuasi Jenazah Lebih Sulit daripada Menyelamatkan Pendaki Hidup

Para pakar pendakian menyebut membawa turun jenazah dari Everest bahkan lebih sulit dibanding menyelamatkan pendaki yang masih hidup.

Sebagian besar korban berada di kawasan Death Zone, wilayah ekstrem dengan suhu membeku dan kadar oksigen yang sangat rendah sehingga setiap gerakan membutuhkan tenaga luar biasa.

Pakar Everest Alan Arnette memperkirakan operasi pengangkatan Green Boots memerlukan sedikitnya 6 hingga 10 orang, lengkap dengan tabung oksigen, tali pengaman, hingga perlengkapan pendakian teknis.

Yang membuat misi semakin rumit, tubuh Green Boots diperkirakan telah menyatu dengan gunung setelah membeku selama hampir 30 tahun.

Tim penyelamat kemungkinan harus menggunakan kapak es untuk memisahkan tubuh korban dari lapisan batu dan es yang membungkusnya.

"Operasi ini akan sangat rumit dan mengerikan," kata Arnette.

Jalur Evakuasi Penuh Bahaya

Setelah berhasil mengangkat jenazah, tim penyelamat masih harus melewati salah satu medan tersulit Everest, yakni Second Step, tebing batu setinggi sekitar 30 meter yang dilengkapi tangga aluminium.

Di lokasi ini, pendaki harus memanjat sambil mengenakan crampon, sarung tangan tebal, pakaian pelindung, serta tabung oksigen.

Baca Juga: Hilang 7 Hari di Gunung Everest Tanpa Oksigen dan Makanan, Pemandu Pendaki Nepal Ditemukan Hidup

Membawa jenazah melalui jalur tersebut dinilai menjadi tantangan logistik yang luar biasa.

Terkendala Keyakinan Budha

Selain tantangan teknis, operasi ini juga berpotensi menimbulkan persoalan budaya dan spiritual.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.