Akurat Logo

Kisah Pilu Tragedi Venezuela: Ketika Hotel Penampungan 100 Orang yang Baru Dideportasi dari AS Ambruk

Fitra Iskandar | 30 Juni 2026, 11:23 WIB
Kisah Pilu Tragedi Venezuela: Ketika Hotel Penampungan 100 Orang yang Baru Dideportasi dari AS Ambruk
Sebuah hotel yang menampung lebih dari 100 warga Venezuela yang dideportasi dari Amerika Serikat runtuh selama gempa bumi dahsyat di Venezuela pekan lalu, demikian disampaikan keluarga dari beberapa korban kepada ABC News. Luisa Quintero

AKURAT.CO Tragedi gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela semakin menyisakan kisah pilu. Sebuah hotel yang menampung lebih dari 100 warga Venezuela yang baru saja dideportasi dari Amerika Serikat dilaporkan ambruk saat dua gempa berkekuatan besar mengguncang negara itu pada 24 Juni lalu.

Informasi tersebut diungkap sejumlah keluarga korban kepada ABC News. Mereka mengatakan para deportan yang baru tiba dari AS ditempatkan di Hotel Santuario La Llanada, yang kemudian runtuh akibat gempa.

Sebelumnya, sebuah penerbangan repatriasi dari Amerika Serikat mendarat di Venezuela sekitar pukul 10.00 waktu setempat pada 24 Juni. Menurut kelompok pemantau penerbangan deportasi, terdapat 146 warga Venezuela di dalam pesawat tersebut.

Kedatangan mereka juga sempat ditampilkan dalam sebuah video yang diunggah pejabat pemerintah Venezuela melalui media sosial X.

Salah satu korban adalah Rosvelis Boscan Chacin (47). Putrinya mengaku sempat berbicara dengan sang ayah beberapa jam setelah pesawat mendarat.

"Ia menelepon saya sekitar pukul tiga sore untuk meminta alamat rumah. Namun, ia mengatakan pemerintah tidak akan langsung mengantarkannya pulang hari itu," ujarnya kepada ABC News.

Ia mengenang ayahnya sebagai tulang punggung keluarga yang memiliki tujuh anak.

Kisah duka lainnya datang dari Luisa Quintero. Ia mengungkapkan bahwa bibinya, Johana Pineda, bersama suaminya Richard Pereira dan putra mereka yang berusia tujuh tahun turut berada dalam penerbangan deportasi tersebut.

Menurut Quintero, Johana dan putranya berhasil selamat meski mengalami luka ringan. Namun, Richard Pereira meninggal dunia setelah hotel tempat mereka menginap runtuh.

Quintero menjelaskan keluarganya telah tinggal di negara bagian Tennessee sejak 2023 dan sedang mengajukan suaka di Amerika Serikat.

Namun, mereka ditahan oleh petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) saat menjalani pemeriksaan rutin pada pekan lalu sebelum akhirnya dipulangkan ke Venezuela hanya dua hari kemudian.

"Saya baru mengetahui mereka sudah berada di Venezuela setelah melihat sepupu kecil saya muncul dalam video yang diunggah pemerintah," kata Quintero.

Ia menambahkan bahwa bibinya kini mengalami trauma berat akibat kehilangan suami, sementara putra mereka juga mengalami tekanan psikologis setelah selamat dari reruntuhan hotel.

Sementara itu, otoritas Venezuela terus memperbarui jumlah korban gempa. Hingga kini sedikitnya 1.719 orang tewas, sementara 5.034 lainnya mengalami luka-luka akibat dua gempa besar yang mengguncang pesisir Venezuela pada 24 Juni.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 disusul beberapa detik kemudian oleh gempa magnitudo 7,5 itu merobohkan banyak bangunan, termasuk di ibu kota Caracas, dan memicu kepanikan warga yang berhamburan ke jalan.

Tim penyelamat masih terus melakukan operasi pencarian di berbagai lokasi yang dipenuhi puing bangunan. Ribuan orang diperkirakan masih kehilangan tempat tinggal, sementara sejumlah korban diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan.

Sumber: ABC

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.