Akurat Logo

Trump Bantah Ada Negosiasi dengan Iran, Klaim Selat Hormuz Tetap Terbuka

Fitra Iskandar | 19 Agustus 2026, 07:56 WIB
Trump Bantah Ada Negosiasi dengan Iran, Klaim Selat Hormuz Tetap Terbuka
Trump Bantah Ada Negosiasi dengan Iran, Klaim Selat Hormuz Tetap Terbuka

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah adanya pembicaraan dengan Iran dan menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka. Klaim itu bertentangan dengan pernyataan Teheran yang menyebut jalur pelayaran strategis tersebut masih ditutup.

Pernyataan Trump disampaikan pada Selasa, sehari setelah kesepakatan gencatan senjata sementara berakhir. Perbedaan klaim antara Washington dan Teheran kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan dapat kembali gagal.

Ketidakpastian tersebut juga mulai berdampak pada pasar global. Harga minyak kembali naik, sementara pasar saham melemah dan biaya pinjaman sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, meningkat di tengah kekhawatiran terhadap dampak ekonomi jangka panjang konflik.

Trump: Tidak Ada Pembicaraan dengan Iran

Trump melalui platform Truth Social mengatakan tidak ada pembicaraan maupun komunikasi yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan pemerintah Iran.

"Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan Republik Islam Iran," kata Trump.

Trump juga mengatakan blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran masih berlaku. Namun, ia mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka dan beroperasi.

Menurut Trump, seluruh ranjau laut di kawasan tersebut telah disingkirkan atau diledakkan.

Pernyataan Trump bertolak belakang dengan komentar utusan khusus AS sekaligus menantunya, Jared Kushner, sehari sebelumnya. Kushner mengatakan negosiasi dengan Iran masih berlangsung dan bahkan dinilai semakin intensif.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru

Perbedaan klaim mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama dalam konflik Washington-Teheran.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan menimbulkan tekanan terhadap perekonomian global.

Meski Trump menyebut jalur tersebut beroperasi, data awal pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintas pada Senin masih berada dalam angka satu digit.

Iran juga tetap mengancam akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.

Iran Klaim Hormuz Masih Ditutup

Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi persyaratan dalam kesepakatan sementara yang sebelumnya dibuat dengan Iran.

Tuntutan Iran antara lain penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pelepasan aset Iran yang dibekukan, penghentian ancaman militer Amerika Serikat, penghentian operasi militer AS terhadap Iran.

Kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan yang lebih luas terkait program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat.

Namun, periode tersebut berakhir pada Senin tanpa adanya kesepakatan lanjutan.

Trump juga mengatakan tidak berencana memperpanjang kesepakatan sementara tersebut.

Kapal Kena Proyektil di Selat Hormuz

Gangguan terhadap pelayaran juga masih dilaporkan terjadi.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal ketika berlayar melalui Selat Hormuz.

Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin dan menimbulkan korban dari awak kapal. Penjaga Pantai Oman kemudian membantu awak kapal lainnya.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengklaim mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. UEA mengatakan penilaian awal menunjukkan rudal tersebut kemungkinan menargetkan lalu lintas maritim, meski keduanya jatuh ke laut.

Kementerian Luar Negeri Iran membantah tuduhan tersebut dan menyebut klaim UEA tidak berdasar.

UEA juga mengumumkan penghentian sementara seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran sampai waktu yang belum ditentukan.

Iran Tetap Buka Pintu Negosiasi

Di tengah tekanan militer dan ekonomi, pejabat Iran mengatakan Teheran masih membuka kemungkinan dialog dengan Washington.

Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, mengatakan Iran bersedia berunding dengan Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan bahwa negosiasi tidak boleh dianggap sebagai bentuk penyerahan diri.

Menurutnya, tekanan militer dan sanksi ekonomi tidak akan melemahkan tekad Iran.

Teheran juga menyatakan akan mempertahankan keamanan, martabat, dan sekutunya, sembari menegaskan tidak menginginkan perang.

Di sisi lain, pejabat Iran disebut khawatir tekanan ekonomi tambahan dapat memperburuk kondisi masyarakat, memicu kembali gejolak sosial, dan semakin melemahkan legitimasi pemerintah.

Harga Minyak Kembali Naik

Konflik berkepanjangan antara AS dan Iran juga memberikan tekanan besar terhadap pasar energi dunia.

Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 126 dolar AS per barel selama konflik berlangsung, sekitar 75 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.

Pada Selasa, harga Brent kembali naik sekitar 20 sen dan ditutup sedikit di atas 91 dolar AS per barel.

Seorang pejabat pemerintahan AS juga memperingatkan bahwa Washington masih memiliki sejumlah instrumen untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

"Ada banyak instrumen yang dapat digunakan presiden dengan lebih keras dalam beberapa pekan dan bulan mendatang," ujar pejabat tersebut.

Situasi ini membuat Selat Hormuz menjadi salah satu faktor paling menentukan bagi harga minyak dan perekonomian global. Jika gangguan pelayaran berlanjut, risiko kenaikan harga energi dan tekanan inflasi di berbagai negara dapat semakin besar.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.