Akurat
Pemprov Sumsel

5 Mitos yang Salah Terkait Osteoporosis dan Kesehatan Tulang

Cosmas Kopong Beda | 24 Agustus 2022, 12:25 WIB
5 Mitos yang Salah Terkait Osteoporosis dan Kesehatan Tulang

AKURAT.CO Osteoporosis (keropos tulang) lebih dikenal selama ini sebagai penyakit lansia, sehingga banyak orang baru memperhatikan tulangnya setelah lansia. Padahal, langkah itu mungkin sudah terlambat. Karena osteoporosis bisa datang tanpa ada gejala yang terlihat nyata.

Banyak orang menganggap osteoporosis atau keropos tulang hanya akan terjadi setelah kita tua. Tidak banyak yang tahu bahwa orang-orang muda pun bisa terkena osteoporosis karena sebab tertentu, seperti haid tidak teratur atau minum obat-obatan mengandung steroid disebabkan mengidap penyakit tertentu.

Sebagaimana dikutip dari Buku Agar Tulang Sehat, Para lansia justru dapat terbebas dari osteoporosis jika bisa menjaga tulang-tulangnya tetap kuat selagi muda. Ibaratnya 'menabung' tulang untuk persediaan di hari tua.

Caranya, konsumsi makanan yang mengandung kadar kalsium, vitamin C, dan vitamin D. Kedua vitamin tersebut membantu mempercepat penyerapan kalsium oleh tubuh. Di sisi lain, semakin cepat mengetahui kondisi tulang kita, semakin baik.

Dengan begitu, jika tulang telah menunjukkan kecenderungan keropos, kita dapat segera berbuat sesuatu untuk memperbaikinya atau mencegah kerusakan yang lebih buruk. Sayangnya, terkadang kita terpengaruh mitos yang salah mengenai osteoporosis, sehingga tidak segera melakukan yang terbaik untuk tulang kita.

Berikut beberapa mitos salah tentang tulang dan harus direvisi:

• Mitos 1, saya terlalu muda untuk memperhatikan kesehatan tulang saya: SALAH!

Puncak massa tulang, yaitu tercapainya kepadatan tulang secara maksimal, tercapai ketika seseorang berusia akhir 20-an dan awal 30-an. Dalam buku Menyiasati Osteoporosis, yang ditulis oleh Dr. Bambang Setyohadi, Sp.P.D., Dr. Gunawan Tirta Rahardja, dan Dr. Siti Annisa Nuhonni, Sp. R.M., setelah usia 30-an, massa tulang berkurang secara bertahap, terutama pada wanita, sejalan dengan berkurangnya hormon estrogen yang melindungi tulang, beberapa tahun sebelum menopause.

Jadi, tak ada istilah terlalu muda untuk memperhatikan kesehatan tulang. Untuk mendapatkan massa tulang yang sempurna, kita perlu mengonsumsi cukup kalsium sejak kanak-kanak, sehingga simpanan kalsium dalam tulang cukup tinggi.

Dengan massa tulang yang tinggi berarti tulang kuat dan sehat, sehingga tidak mudah rapuh dan keropos. Jika masa kanak-kanak telah lewat lakukanlah langkah preventif, misalnya mendapatkan cukup asupan kalsium (1.000 mg tiap hari) dan olahraga, sehingga kita mendapatkan manfaatnya pada tahun-tahun mendatang.

Santap lebih banyak buah segar, karena kandungan vitamin C-nya sangat diperlukan untuk penyerapan kalsium.

• Mitos 2, saya makan suplemen kalsium, jadi saya tidak perlu khawatir: SALAH!

Suplemen dapat membantu kita mendapatkan kecukupan asupan kalsium. Walaupun demikian, tanpa suplemen pun sebenarnya kita mudah memenuhinya dari makanan sehari-hari, karena kalsium dalam makanan sangat mudah diserap tubuh.

Yoghurt rendah lemak dan keju swiss merupakan sumber kalsium yang andal, tapi brokoli dan beragam sayuran hijau lokal seperti bayam, daun kacang panjang, daun singkong, daun pepaya, dan aneka buah jeruk juga kaya kalsium.

Pola makan yang sehat membantu menopang kesehatan tulang, dengan menyediakan vitamin D, magnesium, vitamin C dan K, yang semuanya berguna bagi kerangka. Bila kita tidak mendapatkan cukup kalsium dari makanan, suplemen bisa membantu. Penyerapan kalsium dari suplemen perlu dibantu oleh vitamin C dan D.

Jika kita mengonsumsi suplemen kalsium karbonat, minumlah tak lama sesudah makan, untuk mempercepat penyerapannya. Sebaliknya, suplemen kalsium sitrat dapat dimakan kapan saja. Hindari suplemen dengan campuran kulit tiram yang tidak dapat diproses di dalam tubuh.

• Mitos 3, menjadi bungkuk karena tua adalah normal: SALAH!

Menurut Felicia Cosman, M.D., direktur klinik dari National Osteoporosis Foundation (NOF) di Washington, D.C., AS, wanita-wanita yang memasuki masa lansia bisa terancam kehilangan sekitar 1 %4 cm tinggi tubuhnya setiap tahun, akibat regenerasi bantalan tulang (disk). Disk tulang belakang juga mengerut sedikit, karena postur tubuh yang buruk dan otot-otot punggung yang melemah.

Kehilangan tinggi badan 2/2 cm atau lebih, terutama bila dihubungkan dengan munculnya "punuk" (lengkungan di punggung), menandakan terjadinya osteoporosis. Hal ini menandakan adanya tulang belakang yang retak, dan jelas itu tidak normal.

Bila para wanita dengan tandatanda ini belum menderita keretakan pada pinggul dan pergelangan tangan, maka kelak itu pasti akan terjadi walaupun makan obat akan menolong menurunkan risiko. Separuh dari wanita berusia di atas 50 tahun kemungkinan besar mengalami keretakan tulang yang berhubungan dengan osteoporosis.

Mitos 4, osteoporosis hanya menyerang wanita seusia nenek saya: SALAH!

Osteoporosis dapat menyerang wanita-wanita muda, bahkan wanita belasan tahun. Mereka adalah wanitawanita muda yang berhenti haid sebelum waktunya, disebabkan diet ketat atau salah makan.

Menurut Angela Smith, M.D., ahli bedah tulang di Children's Hospital di Philadelphia, kurang gizi dapat menyebabkan tubuh menghentikan fungsi-fungsi non-esensialnya seperti haid, akibat kadar estrogen dalam tulang menyusut.

Kasus semacam ini sering menimpa beberapa atlet wanita yang terkena penyakit pola makan salah" (female athlete triad), berhenti haid, dan osteoporosis. Para remaja wanita juga dapat memiliki tulang yang lemah hanya karena tidak mendapatkan cukup asupan kalsium.

Terutama jika mereka melakukan "diet ngawur" dalam jangka panjang. Berkurangnya kekokohan tulang bisa juga menyerang orang yang telah menjalani operasi bypass jantung.

Kondisi yang dapat menguras massa tulang di antaranya gangguan ginjal, penyakit lever, gangguan tiroid, artritis rematoid (rheumatoid arthritis), dan penyakit-penyakit pada usus yang dapat menghalangi penyerapan zat-zat gizi.

Wanita-wanita yang indung telurnya sudah diambil juga berisiko tinggi osteoporosis dini.

Mitos 5, setiap olahraga baik untuk tulang: SALAH!

Olahraga memberikan tekanan pada tulang, sehingga tulang dipaksa untuk membentuk massa yang padat, terutama olahraga pembentukan tulang dengan latihan beban.

Menurut Timothy Lohman, Ph.D., profesor psikologi di University of Arizona di Tucson yang telah meneliti pengaruh olahraga terhadap massa tulang menjelaskan bahwa olahraga seperti bersepeda, berenang, dan berjalan kurang efektif untuk kepadatan tulang dibandingkan dengan hiking, jogging, dan naik tangga.

Pilihan olahraga yang baik untuk menjaga kesehatan tulang adalah tenis, bola voli, basket. Lakukan selama 3040 menit tiga hari per minggu untuk mendapatkan manfaat bagi tulang. Bisa juga dengan olahraga mengangkat beban seberat 70-80 persen berat maksimal yang mampu kita angkat.

Lohman menganjurkan untuk melakukannya sebanyak 6-8 kali. Kegiatan-kegiatan lain yang dianjurkan Dianne Daniels, seorang exercise physiologist, penulis buku Exercise for Osteoporosis, adalah push up, meremas bola karet, dan memeras handuk.

Demikian 5 Mitos yang beredar mengenai kesehatan tulang yang harus diingat kawan Akurat. Sebagai informasi mulai 24 Maret 2022 Akurat bekerjasama dengan Klinik Utama JLA yang berlokasi di Rukan Permata Senayan, Jakarta Selatan guna menyediakan rubrik tanya jawab soal kesehatan.

Bila ada pertanyaan terkait kesehatan khususnya orthopedi (kesehatan tulang), obgyn (kehamilan), aesthetic, anak dan laktasi. Kawan Akurat bisa ajukan pertanyaan melalui pesan yang bisa dikirimkan ke inbox di media sosial akurat.co. Pertanyaan terpilih akan ditayangkan sebagai artikel. Ditunggu pertanyaannya ya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.