Akurat
Pemprov Sumsel

Mengenal Finerenone dan Inovasinya untuk Pengobatan Ginjal Kronis Penderita Diabetes Tipe 2

Sultan Tanjung | 15 Januari 2024, 21:25 WIB
Mengenal Finerenone dan Inovasinya untuk Pengobatan Ginjal Kronis Penderita Diabetes Tipe 2

AKURAT.CO Finerenone adalah obat yang termasuk dalam kelas agen blok reseptor mineralokortikoid (MRB).

Ini berarti finerenone bekerja dengan memblokir reseptor mineralokortikoid, yang biasanya merespons hormon aldosteron.

Aldosteron membantu mengatur keseimbangan elektrolit dalam tubuh, terutama natrium dan kalium.

Penggunaan finerenone biasanya terkait dengan pengobatan penyakit jantung dan gagal ginjal.

Obat ini dapat digunakan untuk mengelola tekanan darah tinggi pada pasien dengan penyakit jantung kongestif dan dikombinasikan dengan terapi standar untuk menangani masalah kesehatan tertentu.

Namun baru-baru ini, Perusahaan Farmasi Multinasional, Bayer melalui Bayer Indonesia mengumumkan inovasi finerenone untuk pengobatan ginjal kronis (PGK) untuk penderita diabetes tipe 2.

Bayer mengklaim Berdasarkan penelitian the American Society of Nephrology (ASN) Kidney Week 2021, terapi dengan Finerenone mampu menurunkan risiko progresi PGK pada pasien Diabetes tipe 2, serta menunjukkan penurunan kebutuhan dialisis sebesar 36%.

"Finerenone dari Bayer merupakan pengobatan inovatif yang disetujui secara global dan Indonesia untuk mengatasi tingginya risiko perburukkan ginjal pada pasien PGK dengan Diabetes tipe 2. Obat ini secara khusus menargetkan penurunan risiko inflamasi dan fibrosis, yang menjadi keunggulan utama pengobatan ini, khususnya bagi pasien PGK dengan Diabetes tipe 2.” ujar Dr. Dewi Muliatin Santoso, Head of Medical Dept. Pharmaceutical Division PT Bayer Indonesia pada acara Press Conference dengan tema “Inovasi pengobatan untuk hindari inflamasi dan fibrosis pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dengan Diabetes tipe 2” di Jakarta, Senin (15/1).

Baca Juga: 7 Tanda-tanda Ginjal Rusak yang Perlu Diwaspadai, Sering Buang Air Kecil Tanpa Sebab

Dewi menjelaskan finerenone produksi Bayer telah mendapatkan persetujuan dari BPOM sebagai obat penyakit gagal ginjal kronis tersebut.

“Finerenone dari Bayer adalah Mineralocorticoid Receptor Antagonist (MRA) nonsteroid pertama yang disetujui BPOM untuk PGK (dengan albuminuria) yang berhubungan dengan Diabetes tipe 2 pada orang dewasa,” tambahnya.

Sementara itu para pakar kesehatan yang hadir dalam acara tersebut juga mengungkapkan kondisi dan bahaya dari penyakit gagal ginjal yang ada di Indonesia maupun dunia.

“ 1 dari 10 orang di dunia menderita PGK, namun 9 dari 10 orang yang didiagnosis menderita PGK tidak menyadari kondisinya . Tingkat gula darah yang tinggi dapat merusak ginjal secara perlahan, dan lama kelamaan ginjal tidak mampu menyaring darah sebagaimana seharusnya yang berakibat terjadinya PGK”.

“PGK pada Diabetes Tipe 2 adalah penyebab utama penyakit ginjal stadium akhir5 yang membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal, dan dapat memperpendek harapan hidup hingga 16 tahun6 ,”ujar Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Metabolik dan Endokrinologi.

dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi menjelaskan,

“Penyebab utama progresi pada PGK pada pasien Diabetes tipe 2 adalah terjadinya inflamasi dan fibrosis pada ginjal. Ketika mengalami fibrosis, artinya ada kegagalan dari respon fungsi penyembuhan dan perbaikan yang ada pada ginjal. Sehingga, progresi menuju gagal ginjal akan semakin cepat.

"Tiga efek gabungan yang dapat memperburuk PGK adalah faktor metabolik, hemodinamik, serta inflamasi & fibrosis. Sejauh ini, obat-obatan PGK yang sudah ada lebih menargetkan faktor hemodinamik dan metabolik. Oleh sebab itu, untuk progresi PGK pada pasien Diabetes tipe 2 diperlukan pemeriksaan sejak dini dan pengobatan inovatif yang mampu memperlambat progresi PGK secara langsung yang menargetkan inflamasi dan fibrosis, serta penurunan albumin.”

Berdasarkan data IHME Global Burden of Disease tahun 2019, penyakit PGK masuk dalam 10 besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Maka, perlu ada penanggulangan dengan meningkatkan awareness masyarakat dan menghadirkan terapi inovatif untuk pengobatan sejak tahap dini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.