Penelitian Mengungkapkan Musim Panas 2023 Menjadi yang Terpanas dalam 2.000 Tahun Terakhir

AKURAT.CO Penelitian baru menunjukkan panas terik musim panas tahun ini merupakan yang terapanas dalam 2.0000 tahun terakhir.
Hal tersebut dibuktikan terjadinya kebakaran hutan di seluruh Mediterania, membuat jalan-jalan di Texas menjadi bengkok, hingga jaringan listrik di China menjadi tegang.
Temuan yang mengejutkan ini merupakan salah satu dari dua studi baru yang dirilis pada hari Selasa, di saat suhu global dan emisi pemanasan iklim terus meningkat.
Baca Juga: Dianggap Sebarkan Fitnah, Sarwendah Somasi 5 Akun TikTok
Para ilmuwan dengan cepat menyatakan bahwa periode Juni hingga Agustus tahun lalu adalah yang terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1940-an.
Penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan suhu panas tahun 2023 melampaui suhu pada periode yang jauh lebih lama dengan data suhu berdasarkan analisis cincin pohon di sembilan lokasi di bagian utara.
Baca Juga: Yipi! Jadwal Kedatangan Bus Transjakarta Bisa Dilihat Real Time via Google Maps
"Ketika Anda melihat sejarah yang panjang, Anda dapat melihat betapa dramatisnya pemanasan global saat ini," kata salah satu penulis studi tersebut, Jan Esper, seorang ilmuwan iklim di Universitas Johannes Gutenberg di Jerman, dikutip Rabu (15/5/2024).
Baca Juga: Perpanjang Kontrak Sampai 2027, Shin Tae-yong tak Gentar dengan Target Berat dari PSSI
Suhu musim panas tahun lalu di daratan antara 30 dan 90 derajat lintang utara mencapai 2,07 derajat Celcius (3,73 derajat Fahrenheit) lebih tinggi daripada rata-rata pra-industri, kata studi tersebut.
Berdasarkan data cincin pohon, bulan-bulan musim panas pada tahun 2023 rata-rata 2,2 C (4 F) lebih hangat daripada perkiraan suhu rata-rata sepanjang tahun 1 hingga 1890.
Temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Pada bulan Januari, para ilmuwan dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa mengatakan bahwa tahun 2023 "sangat mungkin" merupakan tahun terpanas dalam 100.000 tahun terakhir.
Baca Juga: Komisi II Minta KPU Legalkan Politik Uang dalam Pemilu: Kita Tidak Money Politic, Tak Ada yang Pilih
Namun, membuktikan rekor yang begitu panjang tidak mungkin, kata Esper.
Dia dan dua ilmuwan Eropa lainnya berargumen dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun lalu bahwa perbandingan tahun ke tahun tidak dapat dilakukan dalam skala waktu yang begitu luas dengan metode ilmiah yang ada saat ini.
Baca Juga: Bakal Lebih Lama Latih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong Kini Ingin Belajar Bahasa Indonesia
Hal itu termasuk dengan mengumpulkan data suhu dari sumber-sumber seperti sedimen laut atau rawa gambut.
"Kami tidak memiliki data seperti itu," kata Esper.
Baca Juga: Thailand Terbuka: Komang Lolos, Langkah Ester Dihentikan Wakil India
"Itu adalah pernyataan yang berlebihan," lanjutnya.
Panasnya musim panas tahun lalu diperkuat oleh pola iklim El Nino, yang biasanya bertepatan dengan suhu global yang lebih hangat.
Hal itu menyebabkan gelombang panas yang lebih panjang dan lebih parah, dan periode kekeringan yang lebih lama kata Esper.
Baca Juga: Vietnam Blokir Akses ke Platform Game Steam, Kenapa?
Gelombang panas telah berdampak pada kesehatan masyarakat, dengan lebih dari 150.000 kematian di 43 negara yang terkait dengan gelombang panas setiap tahunnya antara tahun 1990 dan 2019, menurut rincian studi kedua, yang dipublikasikan pada hari Selasa di jurnal PLoS Medicine.
Jumlah tersebut merupakan sekitar 1% dari kematian global - kurang lebih sama dengan jumlah kematian akibat pandemi global COVID-19.
Lebih dari separuh dari jumlah kematian berlebih akibat gelombang panas tersebut terjadi di Asia yang padat penduduknya.
Ketika data tersebut disesuaikan dengan jumlah penduduk, Eropa memiliki jumlah korban per kapita tertinggi dengan rata-rata 655 kematian terkait gelombang panas setiap tahunnya per 10 juta penduduk.
Di kawasan ini, Yunani, Malta, dan Italia mencatat jumlah kematian tertinggi. Suhu panas yang ekstrem dapat memicu masalah jantung dan kesulitan bernapas atau menyebabkan heat stroke.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









