Akurat
Pemprov Sumsel

ASEAN Dengue Day 2025, Kawal Komitmen Pencapaian Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Oktaviani | 17 Juni 2025, 14:45 WIB
ASEAN Dengue Day 2025, Kawal Komitmen Pencapaian Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

AKURAT.CO Hari Dengue ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations) atau ASEAN Dengue Day (ADD) yang jatuh tanggal 15 Juni setiap tahunnya diperingati oleh anggota ASEAN sebagai bagian upaya pengendalian dengue, yang meliputi pencegahan, penanggulangan dan tata laksana, guna menekan angka kejadian dan kematian akibat dengue.

Di Indonesia, sudah lebih dari 50 tahun lalu ketika kasus dengue pertama kali ditemukan tahun 1968.

Namun, hingga saat ini, dengue masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama dengan angka kejadian yang fluktuatif setiap tahunnya.

Di tahun 2025 saja, sampai dengan 16 Mei 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 56.269 kasus yang tersebar di 456 kabupaten/kota di 34 provinsi. Dengan kematian sebanyak 250 kasus yang terjadi di 123 kabupaten/kota di 24 provinsi.

Baca Juga: Kaukus Kesehatan DPR Dorong Strategi Terpadu Capai Nol Kematian Akibat Dengue Tahun 2030

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa dengue berdampak luas. Bukan hanya tecermin dalam angka kasus tetapi juga dalam hilangnya produktivitas karena perawatan, baik bagi pasien maupun anggota keluarga yang harus mendampingi.

"Di balik data, ada cerita kehilangan orang-orang tercinta yang tidak tercatat dalam statistik. Setiap kehilangan adalah tragedi yang sebenarnya dapat kita cegah. Yang kadang kita lupa, dengue bukanlah penyakit musiman, dia ada sepanjang tahun dan bisa menyerang siapa saja terlepas dari di mana kita tinggal, usia dan gaya hidup kita. Untuk itu, kami memanfaatkan momentum ASEAN Dengue Day untuk terus mengingatkan bahwa dengue masih mengancam dan mengintai kita setiap waktu," papar Andreas, melalui keterangannya, Selasa (17/6/2025).

Dia menegaskan komitmen Takeda sebagai mitra jangka panjang bersama pemerintah, tenaga kesehatan, asosiasi medis, akademisi, sektor swasta dan masyarakat umum dalam mendukung tujuan bersama. Nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.

Baca Juga: Minahasa Utara Terapkan Langkah Terpadu Cegah Dengue, Targetkan Nol Kematian pada 2030

"Perjuangan ini membutuhkan aksi kolektif. Mari mulai dari tiga langkah penting edukasi diri dan orang sekitar tentang pencegahan dengue, disiplin menjalankan 3M Plus dan terbuka pada solusi pencegahan yang inovatif. Bersama, kita bisa melindungi lebih banyak nyawa dari ancaman virus dengue," kata Andreas.

Salah satu wujud komitmen Takeda dalam upaya penanggulangan dengue pada peringatan ADD 2025 kali ini adalah melalui kemitraan dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Barat dalam seminar ASEAN Dengue Day 2025 yang bertema Strengthen the Role of Healthcare Workers: Together We Fight Dengue yang digelar Minggu (15/6/2025).

Seminar ilmiah yang menyasar dokter spesialis anak di seluruh Indonesia ini menegaskan pentingnya penguatan peran tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan.

Ketua IDAI Jabar, Anggraini Alam, menyatakan bahwa target nol kematian akibat dengue pada tahun 2030 adalah sebuah komitmen global yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) dan diadopsi oleh Indonesia melalui Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Dengue.

Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Aksi Proaktif Cegah Dengue: Jangan Tunggu Wabah Terjadi

"Untuk mencapainya kita harus serius memperkuat upaya pencegahan, terutama melalui pengendalian vektor dan pemanfaatan metode yang inovatif seperti Wolbachia dan vaksinasi," ujarnya.

Anggraini melanjutkan, dengue bukanlah penyakit yang bisa dianggap enteng. Seseorang dapat terinfeksi virus dengue lebih dari sekali dan infeksi kedua berisiko lebih parah. Hal ini karena virus dengue terdiri dari empat serotipe.

Sehingga, riwayat pernah terjangkit virus dengue tidak membuat seseorang kebal terhadap virusnya.

Oleh karena itu, dalam Stranas Penanggulangan Dengue, pengendalian vektor menjadi salah satu fokus yang bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat serta kemampuan tenaga kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat melalui gerakan-gerakan seperti 3M Plus dan 1 Rumah 1 Jumantik (1R1J).

Baca Juga: Antisipasi Dengue di Musim Hujan, Langkah Bersama Cegah DBD Hadir di Kota Medan

"Di sisi lain, yang tidak kalah penting adalah memperkuat sistem imun tubuh terhadap virus dengue melalui penggunaan langkah intervensi inovasi. Karena kita tidak pernah tahu kapan dan di mana akan terkena gigitan nyamuk," ujarnya.

Sementara itu, dokter spesialis anak sekaligus salah satu pembicara dalam seminar ilmiah ini, Djatnika Setiabudi, turut menyoroti sejarah penggunaan metode inovatif seperti vaksinasi yang sudah berlangsung sangat lama.

"Penggunaan vaksin untuk pencegahan penyakit bukanlah hal baru. Vaksin telah digunakan selama lebih dari 200 tahun, tepatnya sejak vaksin pertama kali dikembangkan untuk melindungi dari cacar pada tahun 1796. Di mana, saat itu cacar merupakan penyakit yang memakan banyak korban jiwa dan menimbulkan dampak besar pada peradaban manusia," jelasnya.

Menurut Djatnika, imunisasi saat ini mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun akibat penyakit seperti difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), influenza dan campak.

Baca Juga: Gerakan SIAP Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan

"Walaupun vaksin tidak membuat seseorang kebal terhadap penyakit tetapi vaksinasi dapat menurunkan tingkat keparahan apabila terjangkit. Seseorang yang telah divaksinasi tidak hanya melindungi dirinya tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, vaksinasi dapat memutus mata rantai penyebaran penyakit," ungkapnya.
 
Komitmen Takeda terhadap Vaksin

Vaksin mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dan telah mengubah kesehatan masyarakat global.

Selama lebih dari 70 tahun, Takeda telah memasok vaksin untuk melindungi kesehatan orang-orang di Jepang.

Saat ini, fokus unit vaksin global Takeda menerapkan inovasi untuk mengatasi beberapa penyakit menular paling menantang di dunia, seperti dengue, Covid-19, flu pandemi dan Zika.

Baca Juga: Antisipasi Dengue di Musim Hujan, Langkah Bersama Cegah DBD Hadir di Kota Medan

Tim Takeda membawa rekam jejak yang luar biasa dan pengetahuan yang kaya dalam pengembangan dan pembuatan vaksin untuk memajukan jalur pipeline vaksin guna memenuhi beberapa kebutuhan kesehatan masyarakat yang paling mendesak di dunia.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O
Reporter
Oktaviani
W
Editor
Wahyu SK