Akurat
Pemprov Sumsel

7 Pilar Utama Stoisisme: Filosofi Anti kecemasan dalam Hidup.

Eko Krisyanto | 15 Juli 2025, 12:15 WIB
7 Pilar Utama Stoisisme: Filosofi Anti kecemasan dalam Hidup.

 

 
AKURAT.CO Merasa cemas adalah bagian tak terelakkan dari pengalaman hidup manusia. Namun, bagaimana jika ada sebuah filosofi kuno yang menawarkan kerangka kerja ampuh untuk menghadapi dan bahkan mengatasi kecemasan? Stoisisme, sebuah mazhab pemikiran yang berasal dari Yunani kuno, hadir sebagai jawabannya. 
 
Dengan prinsip-prinsip praktisnya, stoisisme tidak hanya membantu kita mengelola kecemasan, tetapi juga mengubahnya menjadi kekuatan untuk pertumbuhan pribadi.
 
 
Mari kita selami tujuh cara bagaimana stoisisme bisa menjadi filosofi anti kecemasan Anda berikut diantaranya:

1. Latih Kemalangan (Praktik/Bayangkan Kemalangan)

Ini mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, namun stoik percaya bahwa dengan melatih kemalangan baik secara mental membayangkan skenario terburuk atau bahkan secara sukarela mengalami ketidaknyamanan kecil kita dapat mengurangi rasa takut terhadapnya.
 
Seneca, salah satu filsuf stoik terkemuka, menulis, “kemalangan yang tidak terduga sering kali yang paling menyakitkan, maka itu, orang bijak sudah memikirkan kemalangan lebih dulu.”
 
Dengan membiasakan diri pada ketidaknyamanan, kita membangun ketahanan dan menyadari bahwa kita mampu menghadapi kesulitan yang mungkin timbul di masa depan.

2. Dikotomi Kendali (Bedakan Apa yang Bisa Diubah dan Tidak)

Salah satu inti ajaran stoisisme adalah dikotomi kendali. Konsep ini mengajarkan kita untuk membedakan dengan jelas antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak. 
 
Kekhawatiran sering muncul ketika kita mencoba mengendalikan apa yang tidak bisa kita kendalikan.
 
Epictetus, seorang filsuf stoik yang dulunya adalah seorang budak, dengan tegas menyatakan.
 
“Beberapa hal berada dalam kendali kita dan beberapa tidak.” Fokuslah energi Anda pada apa yang bisa Anda kendalikan seperti pikiran, penilaian, dan tindakan Anda, dan lepaskan apa yang tidak dapat Anda kendalikan, seperti opini orang lain, cuaca, atau masa lalu.

3. Latih Persepsi (Pemahaman) 

Bagaimana kita memandang suatu peristiwa adalah segalanya. Stoisisme menekankan pentingnya melatih persepsi kita.
 
Marcus Aurelius, kaisar Romawi dan filsuf stoik, menulis dalam Meditations-nya, “Memilih untuk tidak tersakiti maka kita tidak akan tersakiti, jangan merasa tersakiti maka Anda tak akan tersakiti.” 
 
Dengan mengubah cara kita menafsirkan situasi, kita dapat mengurangi dampak emosional negatifnya dan memilih respons yang lebih tenang dan rasional.

4. Lihat dengan Perspektif yang Lebih Luas

Ketika kecemasan melanda, kita cenderung terjebak dalam masalah kita sendiri. Stoisisme mendorong kita untuk melihat dengan perspektif yang lebih luas. Renungkan betapa kecilnya masalah kita dalam skala alam semesta atau bahkan dalam rentang waktu yang lebih besar.
 
Pierre Hadot menulis “memandang dari atas mengubah penilaian kita pada sejumlah hal kemewahan, kekuasaan, perang dan kekuatiran jadi terlihat konyol.” Dengan perspektif ini juga menyadarkan kita bahwa tidak semua masalah terlihat besar hanya saja bagaimana pandangan kita melihat masalah tersebut.
 
Teknik ini, juga dikenal sebagai view from above, dapat membantu kita melepaskan diri dari kekhawatiran berlebih dan menyadari bahwa banyak hal yang kita cemaskan sebenarnya tidak pernah terjadi.

5. Ingat Tidak Ada yang Kekal dalam Hidup, Tetap Berbuat Baik, Tetap Menjadi Baik

Perubahan adalah satu-satunya konstanta dalam hidup. Mengingat bahwa tidak ada yang kekal dapat menjadi penenang dan pencerah. Stoisisme mengajarkan kita untuk menghargai momen saat ini dan tidak terlalu terikat pada hal-hal yang bersifat sementara. 
 
Bersamaan dengan itu, prinsip ini juga mengingatkan kita untuk tetap berbuat baik dan tetap menjadi baik, terlepas dari pasang surut kehidupan. Kebaikan adalah nilai intrinsik yang selalu bisa kita pegang.

6. Ingatlah Kematian Agar Tetap Rendah Hati

Konsep memento mori, atau mengingat kematian, bukanlah tentang morbiditas, melainkan tentang perspektif.
 
Mengakui kefanaan hidup dapat menjadi motivator yang kuat untuk hidup dengan lebih penuh makna dan tidak menunda kebaikan.
 
Ini juga membantu kita tetap rendah hati, menyadari bahwa kita semua pada akhirnya akan menghadapi nasib yang sama. 
 
Seperti yang dikatakan Marcus Aurelius, “kita bisa meninggalkan hidup ini kapan saja, jadikanlah ini penentu apa yang kita lakukan, katakan dan pikirkan.” 
 
Kesadaran akan kematian mendorong kita untuk menghargai setiap hari dan fokus pada apa yang benar-benar penting.

7. Cintai Takdir, Berharaplah Sesuatu Terjadi Seperti Semestinya

Ini adalah ajaran stoisisme yang dikenal sebagai amor fati, atau cintai takdir. Ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima dengan sukarela segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, sebagai bagian dari rencana yang lebih besar. 
 
Daripada melawan kenyataan, lebih baik berharap sesuatu yang terjadi sebagai semestinya, karena itulah yang akan terjadi. 
 
Epictetus juga pernah berkata, “jangan mencari agar segala sesuatu terjadi sesuai keinginan Anda melainkan, inginkanlah agar segala sesuatu terjadi seperti yang seharusnya, dan Anda akan bahagia.” 
 
Dengan mempraktikkan amor fati, kita dapat menemukan kedamaian dalam penerimaan dan mengubah setiap tantangan menjadi peluang untuk tumbuh.
 
Itu dia beberapa cara bagaimana filosofi Stoisisme dapat menjadi panduan Anda dalam menghadapi kecemasan.
 
 
Dengan mengintegrasikan tujuh prinsip stoisisme ini ke dalam kehidupan. Anda tidak hanya dapat mengurangi kecemasan, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk ketenangan batin, ketahanan, dan kebijaksanaan. Ini bukan tentang menghilangkan emosi, melainkan tentang menguasainya dan menjadikannya pelayan, bukan tuan.
 
Bayu Aji Pamungkas (Magang)
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R