Mengapa Fogging Tidak Selalu Efektif Basmi Nyamuk DBD?

AKURAT.CO Fogging sering dianggap cara ampuh untuk membasmi nyamuk penyebar demam berdarah (DBD), namun kenyataannya metode ini tidak selalu efektif. Meski membantu mengurangi jumlah nyamuk sementara, fogging tidak bisa menjadi satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran penyakit.
Baca Juga: Soroti Penanganan DBD di Jakarta, DPRD: Fogging Baru Dilakukan Jika Sudah Ada Korban
1. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa
Fogging efektif membunuh nyamuk dewasa yang sedang terbang, tapi tidak menjangkau larva atau jentik yang berada di genangan air. Akibatnya, jentik tetap bisa berkembang menjadi nyamuk dewasa baru yang terus menyebarkan virus DBD.
2. Risiko resistensi nyamuk
Penggunaan fogging yang tidak tepat atau terlalu sering dapat membuat nyamuk aedes aegypti menjadi kebal terhadap insektisida, sehingga efektivitas fogging menurun seiring waktu.
3. Efek sementara dan tidak menangani sumber nyamuk
Efek fogging hanya bersifat sementara dan tidak menghilangkan sumber berkembang biaknya nyamuk, seperti tempat penampungan air, kaleng bekas, dan genangan lain yang ada di lingkungan.
4. Fogging hanya tindakan responsif
Para ahli dan dinas kesehatan menekankan bahwa fogging sebaiknya digunakan sebagai respons saat ada kasus DBD, bukan sebagai pencegahan utama. Pencegahan lebih efektif dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin melalui 3M: Menguras, Menutup, dan Mengubur/memusnahkan barang bekas yang menampung air.
Baca Juga: 15 Warga Terjangkit DBD, Dinkes Kulon Progo Lakukan Fogging
5. Potensi dampak negatif fogging
Selain efektivitasnya terbatas, fogging juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat asap insektisida dan residu kimia di lingkungan, sehingga penggunaannya harus dikontrol dengan tepat.
Fogging tidak cukup untuk memberantas nyamuk penyebar DBD. Pengendalian yang efektif membutuhkan langkah pencegahan lingkungan yang rutin dan berkelanjutan, sehingga sumber nyamuk dapat dikurangi dan rantai penularan DBD bisa diputus, melindungi keluarga dan lingkungan dari risiko penyakit.
Aqila Shafiqa Aryaputri (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







