Roche Indonesia dan FK-KMK UGM Kolaborasi Turunkan Beban Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik

AKURAT.CO Bertepatan dengan Hari Diabetes Sedunia, Roche Indonesia bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menandatangani Perjanjian Kerja Sama untuk percontohan penanganan komprehensif Retinopati Diabetik (RD).
Penandatanganan yang didukung dan disaksikan oleh Kementerian Kesehatan ini menjadi wujud komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan RD di Indonesia dan menurunkan beban penyakit yang menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia.
Tingginya beban penyakit RD dipicu oleh tingginya beban diabetes melitus sebagai penyebab RD, rendahnya cakupan skrining RD berbasis populasi dan terbatasnya tenaga kesehatan mata profesional serta akses terhadap tata laksana RD sesuai standar medis.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan berupaya meningkatkan cakupan skrining dan akses terhadap tata laksana RD sesuai standar medis terkini.
Baca Juga: Turunkan Risiko Diabetes dengan Mengurangi Gula di Minuman Harian
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa persoalan diabetes ini cukup besar.
Prevalensinya menurut SKI mencapai hampir 30 persen, yang artinya hampir 65 juta masyarakat Indonesia terindikasi mengidap DM dan saat ini Indonesia baru bisa mendeteksi sekitar 10 juta.
"Dengan adanya Program CKG (Cek Kesehatan Gratis) sejak awal 2024 hingga November 2025, kita menemukan lima hingga 7,5 juta kasus baru diabetes. Tantangan yang saat ini kita hadapi tidak hanya itu tapi kita juga masih terbatas pada ketersediaan alat dan kemampuan tenaga kesehatan," jelas Nadia, di Yogyakarta, Jumat (14/11/2025).
Nadia mengatakan, pihaknya ingin memastikan bahwa skrining RD tidak hanya bergantung pada ketersediaan dokter spesialis tetapi bisa dilakukan secara masif di layanan primer. Dengan dukungan teknologi yang tepat dan alur rujukan yang jelas.
Baca Juga: Kok Bisa Sih Gula Bikin Gemuk dan Diabetes di Usia Muda? Ini Faktanya
"FK-KMK UGM dengan dukungan dari Roche Indonesia dapat menghadirkan pendekatan baru. Kami berharap bahwa metode skrining RD berbasis digital tele-oftalmologi dengan pemanfaatan AI ini dapat menjadi bukti ilmiah yang kedepannya dapat kita terjemahkan menjadi kebijakan nasional," ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyatakan bahwa pihaknya merasa terhormat dapat menjalin kemitraan strategis dengan Roche, perusahaan perawatan kesehatan terkemuka.
Ia yakin kemitraan ini akan berkontribusi dalam mengatasi tantangan kesehatan, khususnya di bidang kesehatan mata di Indonesia.
"Masalah kesehatan masyarakat seperti Retinopati Diabetik membutuhkan solusi berbasis bukti yang inovatif dan aplikatif. Melalui kemitraan ini, kami siap berkontribusi melalui keahlian FK-KMK UGM dalam mengembangkan model layanan, melakukan kajian implementasi dan memastikan bahwa intervensi yang dilakukan, terutama di bidang tele-oftalmologi serta tata laksana Retinopati Diabetik sesuai standar medis terkini, dapat berjalan efektif dan berkelanjutan di sistem layanan kesehatan kita," terang Danang.
Baca Juga: Cara Mengatur Waktu Olahraga bagi Penderita Diabetes Tipe 2 agar Gula Darah Tetap Stabil
Sanaa Sayagh, Presiden Direktur Roche Indonesia, menekankan bahwa kemitraan ini merupakan perwujudan komitmen jangka panjang kami untuk secara aktif berkontribusi dalam melindungi kesehatan penglihatan masyarakat Indonesia dan memastikan pasien dapat mengakses layanan kesehatan dan solusi yang mereka butuhkan.
"Kami berharap luaran dari kemitraan ini juga bisa berkontribusi dalam upaya percepatan transformasi kesehatan serta pencapaian target Peta Jalan Kesehatan Penglihatan 2025-2030," ujar Sanaa.
Retinopati Diabetik (RD) merupakan penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia. Dua dari lima (43,1 persen) orang dewasa dengan diabetes nelitus tipe 2 mengalami kondisi ini.
Lebih jauh lagi, data penelitian global menunjukkan bahwa sekitar 29 persen pasien dengan RD juga mengalami Diabetic Macular Edema (DME)2 – suatu bentuk komplikasi retina lanjutan dari RD yang menyebabkan pembengkakan pada makula dan menjadi salah satu penyebab utama kebutaan akibat diabetes.
Baca Juga: 7 Cara Efektif Mencegah Komplikasi Ginjal Akibat Diabetes
Menyadari besarnya dampak RD, Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan Indonesia Tahun 2025-2030 yang baru diluncurkan menetapkan beberapa target kunci untuk mengatasi permasalahan ini.
Target mencakup skrining retina pada setidaknya 80 persen individu dengan diabetes, serta pemberian pengobatan yang tepat kepada minimal 80 persen individu dengan RD. Pemanfaatan teknologi kesehatan digital dan tele-oftalmologi menjadi strategi penting untuk meningkatkan deteksi dini kasus RD maupun DME.
Kemitraan untuk Menurunkan Beban Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, yang memimpin pelaksanaan kerja sama, mengungkapkan tantangan yang perlu menjadi perhatian dalam upaya menurunkan beban RD.
"Tantangan utama kita ada tiga: jumlah pasien diabetes yang sangat besar, cakupan skrining mata yang sangat rendah-kurang dari lima persen, dan distribusi tenaga ahli mata yang tidak merata. Akibatnya, sebagian besar pasien datang dalam kondisi sudah lanjut atau terlambat," ujarnya.
Baca Juga: Waspada! Gula Darah Tinggi Tak Hanya Ancam Penderita Diabetes, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Prof. Bayu menjelaskan bahwa kemitraan ini akan fokus pada pengembangan dan implementasi model layanan skrining RD yang terintegrasi serta tata laksana RD yang komprehensif sesuai dengan standar medis terkini.
"Tujuan utama kami adalah membangun sistem yang berkelanjutan. Proyek ini akan mencakup beberapa pilar. Pertama, penguatan sistem koordinasi lintas sektor dan kepemimpinan dari pemerintah pusat ke daerah untuk mendukung pencapaian target. Kedua, peningkatan akses kesehatan mata yang bermutu, memenuhi standar, sesuai kebutuhan pasien dan berorientasi pada target," jelasnya.
"Ketiga, penguatan tata kelola sumber daya manusia untuk mendukung peningkatan dan pemerataan akses kesehatan mata yang bermutu. Keempat, optimalisasi cakupan dan pembiayaan untuk upaya kesehatan penglihatan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat. Serta kelima, pengembangan sistem informasi terintegrasi dan pemanfaatan data, hasil riset dan teknologi kesehatan dalam pencapaian target upaya kesehatan penglihatan," sambungnya.
Melalui model ini, pihaknya menargetkan peningkatan cakupan skrining secara signifikan dan memastikan pasien yang membutuhkan tatalaksana dapat segera mengaksesnya sebelum terjadi kebutaan permanen.
Baca Juga: 46,9 Juta Orang Sudah Daftar Program CKG, Diabetes hingga Hipertensi Paling Banyak Ditemui
Aspek lain yang juga ditekankan oleh Prof. Bayu adalah pentingnya memastikan keberlanjutan dari program percontohan tersebut.
Oleh sebab itu, salah satu hasil penting yang diharapkan dari kerjasama tersebut adalah tersusunnya bukti ilmiah yang menjadi acuan penyusunan kebijakan serta alokasi sumber daya untuk perluasan dan adopsi program dalam skala lebih luas dan nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









