FNM Society dan Takeda Dorong Peran Perempuan dalam Kesehatan Masyarakat dan Perlindungan dari Kekerasan

AKURAT.CO Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, Farid Nila Moeloek (FNM) Society berkolaborasi dengan Takeda menyelenggarakan forum perempuan bertajuk "Rights, Justice, Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan."
Forum yang digelar di Jakarta, Selasa (10/3/2026), ini menjadi wujud nyata upaya kolektif dan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, LSM dan akademisi. Dalam rangka mewujudkan kepemimpinan perempuan dalam memperkuat kesehatan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Secara global, laporan Global Gender Gap 20252 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-97 dunia, naik tiga posisi dibandingkan tahun sebelumnya.
Skor kesetaraan gender Indonesia juga meningkat dari 68,6 persen menjadi 69,2 persen. Kemajuan ini turut tercermin dalam peningkatan keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan, di mana skor kesetaraan untuk kategori legislator, pejabat senior dan manajer naik signifikan dari 20,5 persen pada 2006 menjadi 49,4 persen pada 2025.
Di sektor kesehatan, capaian juga menunjukkan perkembangan positif. Data WHO Global Health Observatory, 2023, 3 sebanyak 63,2 persen persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan dan 90,6 persen perempuan menerima layanan antenatal care (pemeriksaan kehamilan) minimal empat kali selama kehamilan, indikator penting dalam upaya pencegahan risiko kematian ibu dan bayi.
Namun demikian, tantangan struktural masih memerlukan perhatian serius. Data BPS (2024) menunjukkan sekitar 5,9 persen perempuan berusia 20-24 tahun berstatus kawin atau hidup bersama sebelum 18 tahun.
Hal ini berpotensi memengaruhi kesehatan, pendidikan dan kemandirian mereka. Kondisi ini menegaskan bahwa perkembangan akses dan representasi perlu diiringi dengan penguatan kepemimpinan substantif perempuan di tingkat komunitas, agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam aksi nyata dan berdampak langsung pada kesehatan keluarga serta masyarakat.
Baca Juga: Hari Perempuan Internasional: Pendidikan Kunci Kekuatan Perempuan
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan perempuan dan anak perempuan memperoleh perlindungan dan kesempatan berpartisipasi secara setara dalam pembangunan nasional.
Ia mengatakan, kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar, dilanjutkan dengan penegakan keadilan dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan.
"Salah satu prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan adalah kesetaraan gender. Artinya, perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan. Berbagai studi menunjukkan pemberdayaan perempuan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat," jelas Arifah.
Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, menekankan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat program kesehatan, melainkan penggerak perubahan.
Menurutnya, Hari Perempuan Internasional adalah momentum untuk melihat perempuan sebagai pemimpin dan agen perubahan. Kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.
"Forum ini menjadi ruang dialog lintas sektor yang menegaskan peran strategis perempuan sebagai pemimpin komunitas dalam mendorong upaya pencegahan serta peningkatan kesehatan masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan tema global Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun ini, "Rights. Justice. Action. For All Women and Girls,” yang menekankan bahwa investasi pada perempuan harus berjalan beriringan dengan perlindungan hak dan keadilan," jelas Prof. Nila.
dr. Lovely Daisy, MKM, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan, menekankan pentingnya penguatan sistem kesehatan berbasis pencegahan dan keterlibatan komunitas.
Baca Juga: Komnas Perempuan Desak RUU PPRT Bisa Disahkan dalam Satu Masa Sidang DPR
"Penguatan kesehatan masyarakat harus dimulai dari pendekatan yang menempatkan pencegahan sebagai fondasi utama. Perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong praktik hidup sehat di tingkat keluarga dan komunitas, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, sistem kesehatan perlu memastikan bahwa perempuan memiliki akses terhadap informasi, layanan kesehatan yang berkualitas, serta perlindungan terhadap hak-hak kesehatan reproduksi mereka. Dengan dukungan sistem kesehatan yang kuat dan partisipasi aktif masyarakat, kita dapat mempercepat upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan generasi mendatang. Untuk itu, kami mengajak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat dan seluruh elemen komunitas untuk bersama-sama memperkuat upaya promotif dan preventif serta memastikan
layanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan perempuan di setiap tingkat pelayanan," paparnya.
Figen Samdanci, Growth and Emerging Market Leadership Team, Takeda Pharmaceuticals, menegaskan kembali komitmen perusahaan untuk membangun kemitraan jangka panjang dalam memperkuat kesehatan masyarakat.
"Peningkatan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada pengembangan obat-obatan dan vaksin yang inovatif. Di Takeda, kami berkomitmen menjalankan kemitraan yang dapat memperluas akses terhadap layanan kesehatan perempuan, memperkuat perlindungan dari kekerasan berbasis gender, serta mendukung upaya pencegahan di tempat yang paling penting, di tengah masyarakat. Melalui program Global Corporate Social Responsibility (CSR), kami mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan memperkuat kesehatan dan perlindungan perempuan, termasuk melalui kemitraan dengan Ipas untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang berpusat pada perempuan, serta dengan UNFPA melalui program PIHAK untuk memperkuat penanganan kekerasan berbasis gender di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor, Takeda tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat sipil dalam memperkuat kesehatan masyarakat serta menjaga masa depan generasi mendatang," katanya menerangkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








