Kredit SeaBank Tumbuh 53,1 Persen, tapi NPL Tetap 1,65 Persen, Apa Rahasianya?

AKURAT.CO Kredit yang tumbuh lebih dari separuh dalam setahun biasanya membuat kualitas aset menjadi perhatian. Namun, kondisi berbeda terlihat pada kinerja PT Bank Seabank Indonesia atau SeaBank pada Semester I 2026. Penyaluran kredit SeaBank tumbuh 53,1% secara tahunan menjadi Rp39,81 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL Gross tetap berada di level 1,65%.
Kombinasi tersebut menarik karena ekspansi kredit dan risiko tidak bisa dipisahkan. Semakin besar portofolio pinjaman, semakin penting bagi bank memastikan pertumbuhan tersebut tetap terkendali.
Ringkasan
Kredit SeaBank tumbuh 53,1% menjadi Rp39,81 triliun pada Semester I 2026, sedangkan NPL Gross tercatat 1,65%. Berdasarkan keterangan perusahaan, ekspansi tersebut dilakukan melalui direct lending, kolaborasi ekosistem digital, dan kemitraan strategis dengan tetap menerapkan prinsip prudential banking. Pertumbuhan DPK 47,6% dan CASA 69,6% juga menjadi bagian penting dalam menopang ekspansi bisnis.
Seberapa besar pertumbuhan kredit SeaBank pada Semester I 2026?
SeaBank mencatat penyaluran kredit sebesar Rp39,81 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 53,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini tergolong signifikan karena menunjukkan adanya ekspansi portofolio kredit dalam skala besar. Berdasarkan perhitungan sederhana, jika Rp39,81 triliun merupakan nilai setelah pertumbuhan 53,1%, maka basis kredit setahun sebelumnya secara matematis berada di kisaran Rp26 triliun.
Catatan: angka tersebut merupakan ilustrasi matematis berdasarkan persentase pertumbuhan, bukan angka kredit resmi periode sebelumnya yang disampaikan perusahaan.
Dengan demikian, pertumbuhan 53,1% bukan sekadar angka persentase. Ada ekspansi portofolio dalam skala belasan triliun rupiah yang harus dikelola.
Di sinilah persoalan kualitas kredit menjadi penting.
Pertumbuhan kredit dapat membantu meningkatkan skala bisnis bank. Namun, semakin besar kredit yang disalurkan, semakin besar pula portofolio yang harus dipantau kualitasnya.
NPL SeaBank tetap 1,65%, apa artinya?
NPL atau Non-Performing Loan merupakan indikator yang digunakan untuk melihat kredit bermasalah dalam portofolio perbankan.
Pada Semester I 2026, NPL Gross SeaBank berada di level 1,65%. Dalam narasi kinerja perusahaan, rasio tersebut masih jauh di bawah ambang batas maksimum 5% yang ditetapkan regulator.
Angka ini menjadi penting ketika disandingkan dengan pertumbuhan kredit 53,1%.
Jika hanya melihat pertumbuhan, perhatian pembaca mungkin tertuju pada seberapa cepat SeaBank memperbesar kredit. Tetapi ketika NPL ikut diperhatikan, pertanyaan berubah menjadi lebih mendalam:
Apakah ekspansi kredit tersebut juga diikuti dengan memburuknya kualitas aset?
Berdasarkan data Semester I 2026, NPL Gross SeaBank masih berada pada level 1,65%.
Namun, angka tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai bukti bahwa kredit SeaBank bebas risiko. NPL merupakan salah satu indikator kualitas kredit, bukan jaminan bahwa seluruh portofolio pinjaman tidak menghadapi risiko.
Justru, kombinasi pertumbuhan kredit dan NPL inilah yang membuat kinerja SeaBank menarik untuk dicermati.
Kredit SeaBank tumbuh cepat, apa rahasianya?
Tidak ada satu faktor yang dapat disebut sebagai “rahasia” tunggal berdasarkan data yang tersedia. Namun, SeaBank menyebut ekspansi kreditnya ditopang oleh tiga pendekatan utama, yakni direct lending, kolaborasi ekosistem digital, dan kemitraan strategis.
Ketiga pendekatan tersebut memungkinkan penyaluran kredit dilakukan melalui beberapa jalur, bukan hanya mengandalkan satu kanal.
Direct lending menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut. Sementara itu, integrasi dengan ekosistem digital dan kemitraan strategis dapat memperluas jangkauan bisnis bank.
Yang perlu digarisbawahi, narasi perusahaan tidak memberikan rincian mengenai berapa persen kontribusi masing-masing skema terhadap total kredit Rp39,81 triliun. Karena itu, tidak tepat jika salah satu metode disebut sebagai penyebab utama rendahnya NPL tanpa data pendukung.
Faktor lain yang disebut perusahaan adalah penerapan prinsip prudential banking atau perbankan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Dengan ekspansi kredit sebesar 53,1%, prinsip tersebut menjadi semakin penting. Pertumbuhan yang cepat harus tetap diikuti dengan pengelolaan risiko agar peningkatan volume kredit tidak otomatis menghasilkan peningkatan kredit bermasalah.
Apakah pertumbuhan kredit 53,1% berarti risiko SeaBank lebih besar?
Secara prinsip, ekspansi kredit yang lebih besar memang membuat skala eksposur bank ikut meningkat. Akan tetapi, pertumbuhan kredit yang tinggi tidak otomatis berarti kualitas kredit memburuk.
Bayangkan sebuah bank memiliki portofolio kredit senilai Rp100. Jika portofolionya meningkat menjadi Rp150, bank memang memiliki aset produktif yang lebih besar. Namun, bank juga harus memastikan tambahan Rp50 tersebut disalurkan kepada debitur dengan kemampuan membayar yang memadai dan tetap dipantau setelah kredit diberikan.
Situasinya serupa dengan SeaBank.
Portofolio kredit yang mencapai Rp39,81 triliun membuat pengelolaan kualitas kredit menjadi semakin penting. Data NPL Gross 1,65% menunjukkan bahwa berdasarkan posisi Semester I 2026, rasio kredit bermasalah masih berada pada level yang terkendali.
Tetapi, tantangan pengelolaan risiko tidak berhenti pada satu periode laporan.
Jika kredit terus tumbuh, kualitas portofolio harus terus dipantau. Karena itu, NPL 1,65% lebih tepat dibaca sebagai gambaran kondisi kualitas kredit pada periode tersebut, bukan sebagai jaminan untuk periode berikutnya.
Baca Juga: Kartu Kredit Indonesia Buatan BI dan ASPI Kini Bisa Dipakai Masyarakat Luas
Baca Juga: Danantara Siapkan Kredit Murah hingga Bebas DP untuk Motor Listrik
Apa hubungan DPK dengan pertumbuhan kredit SeaBank?
Ada satu angka lain yang penting ketika membahas pertumbuhan kredit SeaBank, yaitu Dana Pihak Ketiga atau DPK.
Pada Semester I 2026, DPK SeaBank mencapai Rp41,80 triliun, tumbuh 47,6% secara tahunan.
Artinya, pertumbuhan bisnis SeaBank tidak hanya terlihat dari sisi penyaluran kredit. Kemampuan menghimpun dana masyarakat juga ikut meningkat.
Secara sederhana, bank membutuhkan sumber dana untuk menjalankan fungsi intermediasi. Karena itu, pertumbuhan kredit dan DPK perlu dibaca sebagai dua sisi dalam aktivitas perbankan.
Menariknya, pertumbuhan kredit SeaBank sebesar 53,1% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK sebesar 47,6%.
Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan masalah karena kondisi bank tidak dapat dinilai hanya dari dua angka tersebut. Namun, perbandingan tersebut memperlihatkan mengapa pengelolaan pendanaan, likuiditas, dan risiko menjadi bagian penting ketika ekspansi kredit berlangsung cepat.
Mengapa CASA 69,6% ikut penting?
Dari total DPK Rp41,80 triliun, SeaBank mencatat CASA sebesar Rp29,10 triliun atau 69,6%.
CASA merupakan dana murah yang berasal dari giro dan tabungan. Bagi bank, struktur pendanaan semacam ini penting karena berkaitan dengan biaya dana atau cost of fund.
Porsi CASA yang tinggi juga dapat dikaitkan dengan aktivitas transaksi nasabah. SeaBank mencatat telah memiliki 35 juta nasabah hingga akhir Semester I 2026, dengan rata-rata lebih dari 16,8 juta transaksi per hari.
Pada Juni 2026, volume perputaran uang harian SeaBank disebut mencapai Rp7,1 triliun.
Aktivitas seperti transfer, pembayaran QRIS, dan pembayaran tagihan rutin menjadi bagian dari penggunaan layanan tersebut.
Namun, jumlah nasabah tidak boleh disamakan dengan jumlah pengguna aktif harian. Data yang tersedia hanya menyebut jumlah nasabah dan rata-rata transaksi, sehingga tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh 35 juta nasabah bertransaksi setiap hari.
Bagaimana efisiensi mendukung pertumbuhan SeaBank?
Pertumbuhan kredit bukan satu-satunya indikator kinerja SeaBank.
Pada Semester I 2026, bank mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp749,26 miliar. Total aset mencapai Rp52,97 triliun, sementara Return on Assets (ROA) tercatat 3,9%.
SeaBank juga mencatat Cost to Income Ratio (CIR) sebesar 21,1%.
Data tersebut memberikan konteks bahwa ekspansi kredit berlangsung bersamaan dengan indikator profitabilitas dan efisiensi yang positif.
Namun, penting untuk membedakan hubungan antara masing-masing indikator. CASA yang tinggi, misalnya, dapat mendukung efisiensi biaya dana, tetapi tidak dapat langsung dikatakan sebagai penyebab NPL tetap 1,65%.
Demikian pula, pertumbuhan kredit tidak otomatis menjadi satu-satunya sumber laba.
Cara membaca kinerja SeaBank secara lebih utuh adalah dengan melihat pertumbuhan kredit, kualitas aset, pendanaan, efisiensi, dan profitabilitas secara bersamaan.
Apa kata SeaBank soal strategi pertumbuhannya?
Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley mengatakan capaian Semester I 2026 tidak terlepas dari kepercayaan nasabah dan pemangku kepentingan.
“Kami sangat mengapresiasi kepercayaan yang terus diberikan oleh nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Hasil positif sepanjang Semester I 2026 ini membuktikan bahwa strategi berkesinambungan kami dalam menghadirkan layanan perbankan yang mudah, cepat, dan aman berada di jalur yang tepat," ujar Sasmaya melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Sasmaya mengatakan perusahaan akan terus berinovasi pada fitur transaksi, memperkuat infrastruktur keamanan siber, dan mendorong inklusi keuangan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit bukan satu-satunya agenda SeaBank. Ketika jumlah pengguna dan transaksi semakin besar, perusahaan juga perlu menjaga infrastruktur yang menopang aktivitas digital.
Jadi, apa sebenarnya yang membuat NPL SeaBank tetap 1,65%?
Jika harus dirangkum berdasarkan informasi yang tersedia, jawabannya bukan satu “rahasia”, melainkan kombinasi strategi.
Pertama, SeaBank memperluas penyaluran melalui direct lending, kolaborasi ekosistem digital, dan kemitraan strategis.
Kedua, perusahaan menyatakan tetap menerapkan prinsip prudential banking dalam ekspansi kredit.
Ketiga, pertumbuhan kredit berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan DPK sebesar 47,6% dan porsi CASA yang mencapai 69,6%.
Namun, faktor-faktor tersebut tidak boleh dipaksakan menjadi hubungan sebab-akibat yang belum dibuktikan data.
Hal paling kuat yang dapat dikatakan dari laporan Semester I 2026 adalah: SeaBank mampu mencatat pertumbuhan kredit 53,1% menjadi Rp39,81 triliun, sementara NPL Gross masih berada di level 1,65%.
Itulah fakta yang menarik untuk dicermati.
Apa yang perlu diperhatikan ke depan?
Tantangan SeaBank berikutnya bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan kredit.
Ketika portofolio semakin besar, kualitas kredit menjadi semakin penting. Pertumbuhan yang cepat perlu diikuti dengan kemampuan mempertahankan kualitas debitur dan mengelola risiko secara konsisten.
Dengan kata lain, angka 53,1% mungkin menjadi kabar baik dari sisi ekspansi. Tetapi ukuran keberlanjutan pertumbuhan justru akan terlihat dari bagaimana NPL dan kualitas aset bergerak ketika portofolio kredit terus membesar.
Sasmaya juga menekankan pentingnya keamanan dan inklusi keuangan dalam strategi ke depan.
“Fokus kami ke depan adalah terus berinovasi pada fitur-fitur transaksi, memperkuat infrastruktur keamanan siber, dan mendorong inklusi keuangan untuk memastikan akses keuangan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia.”
Bagi industri bank digital, kasus SeaBank menunjukkan bahwa persaingan tidak cukup dimenangkan dengan memperbesar jumlah pengguna atau kredit.
Bank juga harus mampu mengubah pertumbuhan tersebut menjadi bisnis yang efisien sekaligus menjaga kualitas aset.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa cepat kredit SeaBank tumbuh, melainkan seberapa lama pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan tanpa membuat kualitas kredit ikut memburuk.
Baca Juga: Utang Bank demi Bisnis Padel, Meisya Siregar Lega Bebi Romeo Gerak Cepat Batalkan Proyek
Baca Juga: Soal Fit and Propert Test Gubernur Bank Indonesia, Misbakhun: Minggu Depan Akan Kita Laksanakan
FAQ
Berapa pertumbuhan kredit SeaBank pada Semester I 2026?
Kredit SeaBank tumbuh 53,1% secara tahunan menjadi Rp39,81 triliun pada Semester I 2026. Pertumbuhan tersebut disebut didukung oleh direct lending, kolaborasi ekosistem digital, dan kemitraan strategis.
Berapa NPL SeaBank pada Semester I 2026?
NPL Gross SeaBank tercatat 1,65% pada Semester I 2026. Berdasarkan narasi kinerja perusahaan, angka tersebut berada di bawah ambang batas maksimum 5% yang ditetapkan regulator.
Mengapa kredit SeaBank bisa tumbuh 53,1%?
SeaBank menyebut pertumbuhan kreditnya didukung direct lending, kolaborasi ekosistem digital, dan kemitraan strategis. Perusahaan juga menyatakan tetap menerapkan prinsip prudential banking atau prinsip kehati-hatian dalam ekspansi kredit.
Apakah NPL 1,65% berarti kredit SeaBank bebas risiko?
Tidak. NPL 1,65% menunjukkan rasio kredit bermasalah SeaBank pada periode tersebut masih berada pada level yang terkendali berdasarkan data perusahaan. Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh portofolio kredit bebas risiko atau menjamin kondisi yang sama pada periode berikutnya.
Apa hubungan DPK dengan pertumbuhan kredit SeaBank?
DPK merupakan salah satu sumber pendanaan bank untuk menjalankan fungsi intermediasi. Pada Semester I 2026, DPK SeaBank mencapai Rp41,80 triliun atau tumbuh 47,6%, sementara kredit tumbuh 53,1% menjadi Rp39,81 triliun.
Apa itu NPL dalam perbankan?
NPL atau Non-Performing Loan merupakan indikator yang digunakan untuk melihat kredit bermasalah dalam portofolio bank. Semakin tinggi rasio NPL, semakin besar perhatian yang dibutuhkan terhadap kualitas kredit. Karena itu, NPL perlu dibaca bersama pertumbuhan kredit dan indikator keuangan lainnya.
Apa yang perlu diperhatikan dari pertumbuhan kredit SeaBank?
Hal utama yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan pertumbuhan dan kualitas portofolio kredit. Pertumbuhan 53,1% menunjukkan ekspansi yang cepat, sedangkan NPL Gross 1,65% memberikan gambaran kualitas kredit pada Semester I 2026. Perkembangan kedua indikator tersebut pada periode selanjutnya tetap penting untuk dipantau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







