Diet Tanpa Nasi Banyak Diminati, Ini Bahaya Jika Dilakukan Sembarangan

AKURAT.CO Tren diet tanpa nasi kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang meyakini bahwa menghindari nasi dapat mempercepat penurunan berat badan, sehingga pola makan ini semakin diminati, terutama di kalangan anak muda.
Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa mengurangi konsumsi nasi secara ekstrem tidak selalu aman bagi kesehatan, terlebih jika tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang seimbang.
Nasi selama ini menjadi salah satu sumber utama karbohidrat kompleks yang dibutuhkan tubuh sebagai energi.
Ketika nasi dihilangkan tanpa pengganti yang setara, tubuh berisiko kekurangan energi.
Dampaknya, seseorang bisa lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, hingga merasa lemas saat beraktivitas.
Bahkan pada kondisi tertentu, penurunan asupan karbohidrat secara drastis dapat memicu hipoglikemia, yang ditandai dengan pusing, gemetar, dan jantung berdebar.
Tak hanya itu, pola diet tanpa nasi juga dapat memengaruhi sistem pencernaan.
Berkurangnya asupan serat dari sumber karbohidrat harian bisa memicu gangguan seperti sembelit, perut kembung, hingga perubahan pola buang air besar.
Perubahan pola makan secara mendadak pun membuat tubuh perlu waktu untuk beradaptasi.
Dari sisi emosional, kekurangan karbohidrat turut berdampak pada suasana hati. Karbohidrat berperan dalam produksi serotonin, hormon yang memengaruhi mood.
Ketika asupannya menurun, seseorang lebih rentan mengalami perubahan emosi, mudah marah, stres, bahkan gangguan tidur.
Baca Juga: Craving Makanan Manis Saat Diet, Normal atau Tanda Masalah? Ini Penjelasannya
Selain itu, tubuh juga berpotensi kehilangan massa otot jika kekurangan karbohidrat dalam jangka panjang.
Dalam kondisi tersebut, tubuh akan memecah protein otot sebagai sumber energi.
Akibatnya, penurunan berat badan yang terjadi bukan hanya lemak, tetapi juga massa otot, yang justru dapat memperlambat metabolisme.
Risiko kekurangan nutrisi juga perlu diwaspadai. Meski nasi dapat digantikan dengan sumber karbohidrat lain seperti kentang, jagung, atau oat, asupan tersebut harus tetap mencukupi.
Jika tidak, tubuh bisa kekurangan vitamin B kompleks, serat, serta mineral penting.
Pada fase awal diet rendah karbohidrat, keluhan seperti sakit kepala juga kerap muncul sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh.
Para ahli menegaskan, diet tanpa nasi sebenarnya boleh dilakukan selama kebutuhan energi dan nutrisi tetap terpenuhi dari sumber lain.
Namun, pola diet yang terlalu ekstrem tanpa perhitungan justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan baru.
Karena itu, masyarakat disarankan untuk mengatur pola makan secara bertahap dan tidak serta-merta menghilangkan nasi tanpa perencanaan yang matang.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









