Akurat
Pemprov Sumsel

Fenomena Wajah Kempot Usai Treatment Jadi Sorotan: Perlu Solusi Presisi Teknologi Estetika Modern

Saeful Anwar | 17 April 2026, 16:53 WIB
Fenomena Wajah Kempot Usai Treatment Jadi Sorotan: Perlu Solusi Presisi Teknologi Estetika Modern
Medical Director sekaligus Founder Altruva Aesthetic Clinic, dr. Olivia Aldisa.

AKURAT.CO Meningkatnya tren perawatan wajah berbasis energi memunculkan kekhawatiran baru di dunia estetika, yakni fenomena “wajah kempot” atau tampilan wajah yang terlihat lebih cekung akibat prosedur yang tidak tepat.

Medical Director sekaligus Founder Altruva Aesthetic Clinic, dr. Olivia Aldisa, mengungkapkan, kondisi tersebut dapat terjadi ketika energi ultrasound tidak dihantarkan secara presisi sesuai dengan struktur wajah pasien.

Menurutnya, kesalahan dalam distribusi energi, terutama jika terlalu dalam atau dilakukan terlalu rapat, tidak hanya memberikan efek pengencangan, tetapi juga dapat memengaruhi volume wajah.

“Di usia 40 tahun ke atas, produksi kolagen memang mulai menurun. Namun jika energi tidak tepat sasaran, bukan hanya mengencangkan, tetapi juga bisa mengurangi volume wajah sehingga tampak lebih cekung,” ujar dr. Aldisa, Jumat (17/4/2026).

Ia menegaskan bahwa setiap prosedur estetika membutuhkan pendekatan yang berbeda, karena tidak semua wajah memiliki kebutuhan yang sama.

Pendekatan Presisi dengan Teknologi Modern

Untuk mengatasi risiko tersebut, dr. Aldisa mengandalkan teknologi Sofwave™ dalam praktiknya selama lebih dari dua tahun terakhir.

Teknologi ini bekerja dengan menghantarkan energi ultrasound secara presisi pada lapisan dermis tengah, area penting dalam stimulasi kolagen tanpa mengganggu struktur lemak wajah.

Treatment wajah menggunakan Sofwave di Altruva Aesthetic Clinic.

Baca Juga: CBDK Bidik Pra-Penjualan Rp563 Miliar, Genjot Monetisasi CBD PIK2

Pendekatan ini dinilai mampu menjaga proporsi wajah tetap harmonis sekaligus memberikan hasil yang lebih natural dan bertahap.

Dengan pengalaman klinis yang luas, dr. Aldisa tercatat melakukan lebih dari 5.000 pulses Sofwave™ setiap bulan.

Pengalaman tersebut juga membawanya dipercaya sebagai Key Opinion Leader (KOL) sekaligus National Trainer Sofwave™ di Indonesia.

“Presisi energi sangat menentukan bagaimana kulit merespons treatment, terutama untuk hasil jangka panjang,” jelasnya.

Fokus pada Hasil Natural dan Jangka Panjang

Selain itu, dr. Aldisa mengembangkan metode A.R.T Lift by Sofwave™, yakni strategi penempatan energi yang mempertimbangkan struktur wajah secara menyeluruh.

Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hasil instan, tetapi juga pada proses regenerasi kulit secara bertahap.

Dalam beberapa kasus, metode tersebut dikombinasikan dengan collagen stimulator untuk meningkatkan kualitas kulit secara optimal.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global regenerative aesthetics, yang menitikberatkan pada kesehatan dan kualitas kulit dalam jangka panjang, bukan sekadar hasil cepat.

Pengakuan Global

Teknologi Sofwave™ sendiri baru-baru ini meraih penghargaan Best Aesthetic Device – Energy-Based Innovation dalam ajang AMWC 2026 di Monaco, salah satu konferensi estetika dan anti-aging terbesar di dunia.

Penghargaan tersebut menegaskan meningkatnya kebutuhan akan teknologi yang mampu memberikan hasil presisi, natural, serta minim waktu pemulihan.

Perwakilan Sofwave™, Stephanie Ng-Joergensen, mengapresiasi kontribusi dr. Aldisa dalam pengembangan praktik estetika di Indonesia.

Baca Juga: Warga Kota Daejeon Bernafas Lega, Serigala Lepas Berhasil Ditangkap setelah 9 Hari Berkeliaran

“Kontribusi dr. Aldisa mencerminkan komitmen kami dalam mendorong inovasi dan peningkatan standar praktik klinis, baik di kawasan Asia Pasifik maupun global,” ujarnya.

Fenomena wajah kempot ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia estetika, teknologi saja tidak cukup.

Presisi, pemahaman struktur wajah, serta pendekatan yang tepat menjadi faktor utama dalam menentukan hasil perawatan yang aman dan optimal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.