Akurat Logo

Cegah Stunting di Pengungsian, YAICI Desak Regulasi Khusus Pemulihan Gizi Anak Pasca-Bencana

Nuzulul Karamah | 9 Juni 2026, 21:13 WIB
Cegah Stunting di Pengungsian, YAICI Desak Regulasi Khusus Pemulihan Gizi Anak Pasca-Bencana
Cegah Stunting di Pengungsian, YAICI Desak Regulasi Khusus Pemulihan Gizi Anak Pasca-Bencana. Cr: Istimewa

AKURAT.CO, Fase kritis setelah hantaman bencana alam rupanya tidak serta-merta usai saat tenda darurat berdiri tegak dan bantuan sembako terpenuhi.

Ada ancaman nyata yang mengintai masa depan generasi bangsa di wilayah terdampak, yakni risiko malnutrisi akut dan stunting pada balita akibat terbatasnya akses pangan sehat di lokasi pengungsian.

​Merespons alarm bahaya tersebut, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bergerak cepat menggandeng Majelis Kesehatan serta Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP Aisyiyah, serta Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Baca Juga: PIK2 Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Program UPIK CERDAS di Kabupaten Tangerang

Kolaborasi ini berfokus pada pemulihan gizi dan edukasi grassroots di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

​Sepanjang Januari hingga Mei 2026, gerakan kemanusiaan ini telah menyisir 375 keluarga di daerah-daerah terisolasi yang minim bantuan, seperti Desa Batang Ara, Pematang Durian, dan Desa Serba.

Sekjen YAICI, Satria Yudistria, membeberkan potret memprihatinkan di lapangan.

Kendala akses membuat para orang tua terpaksa mengambil langkah ekstrem demi mengganjal perut buah hati mereka, ditambah lagi dengan guncangan psikologis anak-anak pasca-trauma.

​"Faktanya di lapangan, khususnya di Kampung Batang Ara (Aceh Tamiang), keterbatasan akses membuat anak di bawah tiga tahun (batita) terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu. Selain itu, anak-anak mengalami trauma psikologis yang tidak kasat mata, mereka ketakutan saat melihat hujan atau air, yang berujung pada terganggunya pola makan mereka. Anak-anak adalah kelompok paling rentan, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi justru di masa pemulihan ketika bantuan mulai menyusut," ​ujar Satria pemaparan laporan publik secara virtual pada Selasa (9/6/2026),

​Guna memastikan intervensi gizi tidak salah sasaran, kader-kader Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melakukan aksi gerilya door-to-door.

Mereka menyisir posko pengungsian hingga Hunian Sementara (Huntara) berukuran 4x6 meter demi mendata ibu hamil, menyusui, dan balita.

​Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., mengungkapkan tantangan berat di lapangan, di mana masyarakat pengungsian telanjur terbiasa mengonsumsi pangan instan dan susu kental manis yang tinggi gula untuk anak-anak.

​"Kami mengumpulkan para ibu di mushola, sekolah, bahkan di area perkebunan sawit karena minimnya fasilitas. Di sana, kami mengedukasi konsep Gizi Seimbang atau 'Isi Piringku,' membagikan pangan lokal bernutrisi seperti telur rebus dan bubur kacang hijau, serta mengajari anak-anak membuat dan minum susu pertumbuhan yang benar bersama-sama. Ini penting untuk mengalihkan konsumsi anak dari asupan tinggi gula," jelas Chairunnisa.

Baca Juga: Pramono Kaget Angka Stunting di Jakarta Masih Tinggi, Minta Kadinkes Gerak Cepat

​Sementara itu, Perwakilan LLHPB PP Aisyiyah, Rahmawati Husein MCP., Ph.D., menyoroti pentingnya penanganan yang matang sejak masa tanggap darurat, mengingat fase transisi bisa memakan waktu hingga 6-7 bulan.

Dia mendorong adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas, pemanfaatan pangan lokal, hingga pembuatan kebun pangan mandiri di sekitar Huntara agar masyarakat tidak ketergantungan pada mi instan atau bantuan luar.

​Dari kacamata manajemen bencana, Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengakui fase pemulihan adalah proses "maraton" panjang.

Tantangan terbesar adalah surutnya jumlah relawan dan buyarnya koordinasi antar-lembaga, padahal jaminan kesehatan pemda umumnya hanya mengover tiga bulan pertama.

​"Selama masa tanggap darurat, banyak lembaga kemanusiaan termasuk MDMC, cenderung berfokus pada cakupan logistik bahan mentah umum secara luas, sehingga pemenuhan gizi spesifik kelompok rentan seringkali terabaikan. Oleh karena itu, MDMC sangat mengapresiasi langkah YAICI yang konsisten mengingatkan pentingnya integrasi aspek gizi," ucapnya.

​Ke depan, MDMC mendesak dibentuknya SOP lintas lembaga serta standarisasi dapur umum yang terpisah khusus untuk dewasa, lansia, dan balita, lengkap dengan petunjuk resep praktisnya.

​Kondisi ekonomi warga di lokasi bencana saat ini kian terjepit akibat hancurnya lahan sawit yang menjadi urat nadi perekonomian, yang diprediksi butuh waktu lima tahun untuk bisa dipanen kembali.

​Melihat kenyataan pahit ini, seluruh temuan riset dan evaluasi lapangan dari tiga wilayah tersebut resmi dirangkum oleh YAICI bersama para mitra untuk diserahkan sebagai rekomendasi resmi kepada kementerian dan lembaga pemerintah pusat.

​"Pangan bergizi dan air bersih adalah hak dasar anak yang dilindungi undang-undang. Melalui kolaborasi pentahelix ini, kita harus mulai mendesak sebuah regulasi nyata, sudah saatnya Indonesia memiliki SOP Pemulihan Gizi Anak Pasca Bencana yang baku, agar hak tumbuh kembang anak-anak kita tidak dikorbankan di masa-masa sulit," tegas Satria Yudistria mengakhiri penjelasannya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.