Akurat Logo

Apa Itu ISPA? Kenali Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, hingga Pencegahannya Sejak Dini

Idham Nur Indrajaya | 10 Juli 2026, 19:08 WIB
Apa Itu ISPA? Kenali Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, hingga Pencegahannya Sejak Dini
Apa itu ISPA? Kenali penyebab, gejala, cara mengatasi, komplikasi, dan pencegahan ISPA agar terhindar dari risiko infeksi saluran pernapasan akut. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Batuk yang tak kunjung reda, hidung tersumbat, atau demam ringan sering kali dianggap sebagai flu biasa. Padahal, kumpulan gejala tersebut bisa menjadi tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat Indonesia, terutama saat musim hujan, pancaroba, atau ketika kualitas udara memburuk.

ISPA bukan hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa, lansia, hingga individu dengan daya tahan tubuh yang menurun. Meski sebagian besar kasus dapat sembuh dengan perawatan mandiri, ada kondisi tertentu yang membuat ISPA berkembang menjadi penyakit serius seperti pneumonia. Karena itu, memahami apa itu ISPA, penyebab, gejala, hingga kapan harus mendapatkan penanganan medis menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi.

Ringkasan

ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yaitu infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah, mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh virus, tetapi juga dapat dipicu oleh bakteri sehingga tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang.

Secara umum, ISPA memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah.

  • Umumnya disebabkan oleh infeksi virus, namun beberapa kasus dipicu bakteri.

  • Mudah menular melalui percikan air liur saat batuk, bersin, atau berbicara.

  • Dapat menyerang semua kelompok usia, terutama balita, lansia, dan orang dengan sistem imun lemah.

  • Sebagian besar kasus membaik dalam waktu 1–2 minggu, tetapi beberapa dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.

Berdasarkan penjelasan medis yang dirangkum dari berbagai sumber kesehatan, termasuk Kementerian Kesehatan dan referensi medis yang menjadi dasar narasi artikel ini, ISPA merupakan istilah yang mencakup berbagai jenis infeksi pada saluran pernapasan, bukan hanya satu penyakit tertentu.


Mengapa Banyak Orang Salah Memahami ISPA?

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah menganggap ISPA sebagai nama sebuah penyakit, sama seperti diabetes atau hipertensi. Padahal, anggapan tersebut kurang tepat.

ISPA sebenarnya merupakan kelompok penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Artinya, berbagai penyakit dengan penyebab dan tingkat keparahan berbeda dapat masuk dalam kategori ISPA selama menyerang saluran pernapasan secara akut.

Pemahaman ini penting karena banyak orang menganggap semua batuk dan pilek pasti sama. Akibatnya, sebagian penderita menyepelekan gejala yang muncul, sementara sebagian lainnya justru langsung mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dokter.

Padahal, kedua tindakan tersebut sama-sama berisiko. Jika infeksi ternyata sudah menyerang paru-paru, keterlambatan penanganan dapat memperbesar peluang munculnya komplikasi. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai justru dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri.

Inilah alasan mengapa tenaga kesehatan lebih menekankan identifikasi penyebab ISPA dibanding sekadar mengobati gejalanya.


Apa Saja Penyakit yang Termasuk ISPA?

Banyak orang mengira ISPA identik dengan flu biasa. Faktanya, ruang lingkup ISPA jauh lebih luas.

Beberapa penyakit yang termasuk dalam kategori ISPA antara lain:

  • Batuk pilek (common cold)

  • Influenza

  • Sinusitis

  • Radang tenggorokan akut (faringitis)

  • Laringitis

  • Pneumonia

  • COVID-19

  • Human Metapneumovirus (HMPV)

Daftar tersebut menunjukkan bahwa ISPA dapat memiliki tingkat keparahan yang sangat beragam. Ada yang hanya menyebabkan pilek ringan selama beberapa hari, tetapi ada pula yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan serius hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.

Perbedaan ISPA dengan Flu, Influenza, dan Pneumonia

Masyarakat sering menggunakan istilah flu dan ISPA secara bergantian. Padahal keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama.

Perbedaannya dapat dipahami melalui penjelasan berikut.

Kondisi

Penjelasan

ISPA

Kelompok infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah.

Flu biasa

Salah satu jenis ISPA yang umumnya disebabkan rhinovirus.

Influenza

Jenis ISPA akibat virus influenza yang biasanya menyebabkan demam lebih tinggi dan nyeri otot.

Pneumonia

Salah satu bentuk ISPA yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas hingga penurunan kadar oksigen.

Dengan memahami perbedaan tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengenali kapan gejala yang muncul masih tergolong ringan dan kapan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.


Apa Penyebab ISPA?

Penyebab utama ISPA adalah infeksi mikroorganisme yang masuk ke saluran pernapasan. Sebagian besar kasus disebabkan oleh virus, sedangkan sebagian lainnya dipicu oleh bakteri.

Mengetahui penyebabnya sangat penting karena akan menentukan pilihan pengobatan yang tepat.

ISPA Akibat Infeksi Virus

Virus merupakan penyebab paling umum ISPA.

Beberapa virus yang sering menyebabkan infeksi saluran pernapasan meliputi:

  • Rhinovirus

  • Respiratory Syncytial Virus (RSV)

  • Adenovirus

  • Virus Parainfluenza

  • Virus Influenza

Virus-virus tersebut umumnya menyerang saluran pernapasan bagian atas sehingga menyebabkan pilek, batuk, hidung tersumbat, atau sakit tenggorokan.

Pada sebagian besar orang dengan sistem imun yang baik, infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya setelah tubuh berhasil membentuk respons kekebalan.

ISPA Akibat Infeksi Bakteri

Selain virus, ISPA juga dapat dipicu oleh bakteri, terutama apabila infeksi berkembang menjadi lebih berat.

Beberapa bakteri yang diketahui menjadi penyebab ISPA antara lain:

  • Streptococcus

  • Haemophilus

  • Staphylococcus aureus

  • Klebsiella pneumoniae

  • Mycoplasma pneumoniae

  • Chlamydia

Infeksi bakteri biasanya membutuhkan penanganan berbeda karena dokter dapat mempertimbangkan pemberian antibiotik sesuai hasil pemeriksaan klinis. Oleh sebab itu, antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan tanpa diagnosis yang jelas.


Bagaimana ISPA Menular?

Salah satu alasan ISPA menjadi penyakit yang sangat sering ditemukan adalah karena proses penularannya relatif mudah terjadi dalam aktivitas sehari-hari.

Virus maupun bakteri penyebab ISPA dapat berpindah melalui beberapa cara berikut:

  • Percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

  • Menghirup udara yang mengandung droplet dari orang yang terinfeksi.

  • Menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus atau bakteri.

  • Berjabat tangan dengan penderita, kemudian menyentuh hidung, mata, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Ilustrasi yang Sering Terjadi di Kehidupan Sehari-hari

Bayangkan seorang anak mengalami pilek ringan, tetapi tetap berangkat ke sekolah. Saat batuk tanpa menutup mulut, percikan droplet dapat mengenai meja, buku, atau mainan bersama. Teman-teman yang menyentuh benda tersebut lalu memegang wajah berpotensi ikut tertular.

Situasi serupa juga sering terjadi di kantor, transportasi umum, atau ruang tunggu yang memiliki ventilasi kurang baik. Inilah sebabnya kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menggunakan masker ketika sedang sakit, dan menutup mulut saat batuk masih menjadi langkah efektif untuk mengurangi penyebaran ISPA.

Baca Juga: Hukum Menggunakan Tato untuk Pengobatan Penyakit Menurut Islam

Baca Juga: Prospek Kerja untuk Jurusan Kedokteran: Bukan Cuma di Rumah Sakit

Apa Saja Gejala ISPA yang Perlu Diwaspadai?

Gejala ISPA dapat berbeda pada setiap orang, tergantung bagian saluran pernapasan yang mengalami infeksi. Ada penderita yang hanya mengalami batuk dan pilek ringan, tetapi ada pula yang mengalami sesak napas hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Secara umum, gejala ISPA berlangsung sekitar 1–2 minggu. Pada infeksi akibat virus, keluhan biasanya akan membaik secara bertahap seiring sistem kekebalan tubuh melawan penyebab infeksi. Namun, jika gejala justru semakin berat atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis menjadi langkah yang tidak boleh ditunda. Berdasarkan referensi medis, keluhan ISPA dapat dibedakan menjadi infeksi saluran pernapasan atas dan bawah.

Gejala ISPA pada Saluran Pernapasan Atas

Infeksi pada saluran pernapasan atas biasanya menyerang hidung, sinus, tenggorokan, atau laring.

Beberapa gejalanya meliputi:

  • Batuk

  • Bersin

  • Pilek

  • Hidung tersumbat

  • Demam

  • Sakit kepala

  • Sakit tenggorokan atau nyeri saat menelan

  • Tubuh mudah lelah

  • Mengi pada sebagian penderita

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher

Keluhan tersebut sering dianggap sebagai flu biasa sehingga banyak orang memilih tetap bekerja atau beraktivitas. Padahal, tubuh sebenarnya sedang memerlukan waktu untuk memulihkan diri.

Gejala ISPA pada Saluran Pernapasan Bawah

Ketika infeksi telah mencapai bronkus atau paru-paru, gejala yang muncul umumnya lebih berat.

Beberapa tanda yang sering ditemukan antara lain:

  • Batuk berdahak

  • Sesak napas

  • Demam tinggi

  • Napas terasa lebih cepat

  • Tubuh terasa lemas

Infeksi pada saluran pernapasan bawah perlu mendapatkan perhatian lebih karena dapat berkembang menjadi pneumonia atau gangguan pernapasan lainnya jika tidak ditangani dengan baik.


Mengapa Gejala ISPA Bisa Berbeda pada Setiap Orang?

Banyak orang bertanya-tanya mengapa ada penderita ISPA yang hanya mengalami pilek selama beberapa hari, sementara orang lain harus dirawat di rumah sakit.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Jenis virus atau bakteri penyebab infeksi.

  • Kondisi sistem kekebalan tubuh.

  • Usia penderita.

  • Riwayat penyakit kronis yang sudah dimiliki sebelumnya.

  • Seberapa cepat penderita mendapatkan penanganan.

Sebagai ilustrasi, dua orang dapat tertular virus yang sama. Orang pertama yang memiliki kondisi tubuh sehat mungkin hanya mengalami batuk ringan selama beberapa hari. Sementara itu, orang kedua yang merupakan lansia dengan penyakit paru kronis berisiko mengalami sesak napas karena daya tahan tubuhnya tidak sekuat orang pertama.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keparahan ISPA tidak hanya ditentukan oleh penyebab infeksi, tetapi juga oleh kondisi kesehatan masing-masing individu.


Siapa yang Paling Berisiko Mengalami ISPA?

Meski dapat menyerang siapa saja, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami ISPA maupun komplikasinya.

1. Balita

Anak berusia di bawah lima tahun masih memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Selain itu, mereka sering berinteraksi dengan banyak teman di sekolah atau tempat bermain sehingga penularan lebih mudah terjadi.

Kebiasaan menyentuh wajah tanpa mencuci tangan juga membuat virus dan bakteri lebih mudah masuk ke dalam tubuh.

2. Lansia

Seiring bertambahnya usia, kemampuan sistem imun dalam melawan infeksi cenderung menurun. Akibatnya, lansia lebih rentan mengalami infeksi yang lebih berat dibanding orang dewasa muda.

3. Orang dengan Sistem Imun Lemah

Penderita HIV/AIDS, pasien kanker, maupun individu yang sedang menjalani terapi tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi karena kemampuan tubuh melawan kuman berkurang.

4. Penderita Penyakit Jantung atau Paru-Paru

Orang yang telah memiliki penyakit paru kronis atau gangguan jantung lebih mudah mengalami penurunan fungsi pernapasan ketika terkena ISPA.

5. Perokok dan Perokok Pasif

Asap rokok dapat merusak saluran napas dan mengganggu mekanisme alami paru-paru dalam membersihkan kuman. Tidak hanya perokok aktif, orang yang sering menghirup asap rokok juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami ISPA.

6. Masyarakat yang Sering Terpapar Polusi Udara

Paparan polusi secara terus-menerus dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mempermudah virus maupun bakteri menginfeksi jaringan pernapasan.


Kapan Gejala ISPA Harus Diperiksakan ke Dokter?

Tidak semua ISPA membutuhkan penanganan di rumah sakit. Namun, ada beberapa kondisi yang tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi tanda infeksi berkembang menjadi lebih serius.

Segera periksakan diri apabila mengalami:

  • Demam di atas 39 derajat Celsius.

  • Batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu.

  • Sulit bernapas.

  • Batuk berdarah.

  • Penurunan kesadaran.

Pada anak-anak, orang tua perlu lebih waspada apabila muncul tanda-tanda seperti:

  • Tarikan dinding dada saat bernapas.

  • Napas berbunyi.

  • Muntah berulang.

  • Anak tampak sangat lemas.

  • Tidak mau makan atau bermain seperti biasanya.

Semakin cepat kondisi tersebut mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.


Bagaimana Dokter Mendiagnosis ISPA?

Diagnosis ISPA tidak hanya didasarkan pada gejala batuk atau pilek. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui penyebab serta tingkat keparahan infeksi.

Tahapan diagnosis biasanya meliputi:

  • Menanyakan riwayat gejala dan lamanya keluhan.

  • Menanyakan riwayat penyakit sebelumnya.

  • Mengetahui apakah pasien memiliki kontak dengan penderita infeksi saluran pernapasan.

  • Menanyakan kebiasaan merokok atau paparan asap rokok.

Setelah wawancara medis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk mendengarkan suara paru menggunakan stetoskop.

Apabila diperlukan, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan, seperti:

  • Pemeriksaan saturasi oksigen.

  • Tes dahak atau usap tenggorokan.

  • Foto rontgen dada.

  • CT scan.

  • Tes fungsi paru menggunakan spirometri.

Pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan apabila dokter mencurigai adanya infeksi bakteri tertentu atau komplikasi pada paru-paru.


Bagaimana Cara Mengatasi ISPA?

Penanganan ISPA bergantung pada penyebabnya. Sebagian besar kasus disebabkan oleh virus sehingga tubuh sebenarnya mampu melawan infeksi tersebut tanpa pengobatan khusus.

Karena itu, tujuan utama perawatan adalah membantu tubuh pulih dan mengurangi gejala yang mengganggu.

Perawatan Mandiri di Rumah

Apabila gejala masih tergolong ringan, beberapa langkah berikut dapat membantu mempercepat pemulihan:

  • Istirahat yang cukup.

  • Memperbanyak minum air putih.

  • Mengonsumsi minuman hangat, seperti air lemon atau madu untuk membantu meredakan batuk.

  • Berkumur menggunakan air garam hangat saat mengalami sakit tenggorokan.

  • Menghirup uap hangat untuk membantu meredakan hidung tersumbat.

  • Tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi agar pernapasan terasa lebih lega.

Perawatan sederhana tersebut membantu tubuh bekerja lebih optimal dalam melawan infeksi sekaligus membuat penderita merasa lebih nyaman selama masa pemulihan.


Apakah Semua ISPA Harus Minum Antibiotik?

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi.

Jawabannya adalah tidak.

Antibiotik hanya efektif melawan infeksi bakteri. Sementara itu, sebagian besar ISPA justru disebabkan oleh virus.

Mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi tidak akan mempercepat penyembuhan. Sebaliknya, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri sehingga obat menjadi kurang efektif ketika benar-benar dibutuhkan di masa depan.

Apabila dokter menilai ISPA disebabkan oleh bakteri, pengobatan dapat mencakup antibiotik yang harus dihabiskan sesuai dosis yang telah diresepkan.

Selain antibiotik, dokter juga dapat memberikan:

  • Paracetamol atau ibuprofen untuk demam dan nyeri.

  • Obat dekongestan untuk hidung tersumbat.

  • Obat batuk sesuai jenis batuk yang dialami.

  • Antivirus pada kondisi tertentu, misalnya influenza dengan gejala berat.


Apa Komplikasi ISPA Jika Tidak Ditangani?

Sebagian besar penderita memang dapat sembuh tanpa masalah. Namun, apabila infeksi menyebar ke paru-paru atau penderita memiliki faktor risiko tertentu, komplikasi dapat terjadi.

Beberapa komplikasi yang mungkin muncul antara lain:

  • Pneumonia.

  • Gagal napas.

  • Penumpukan nanah pada paru-paru.

  • Emfisema.

  • Bronkitis kronis.

  • Sepsis.

Komplikasi tersebut lebih sering ditemukan pada lansia, balita, maupun individu dengan penyakit kronis atau sistem imun yang lemah. Oleh karena itu, mengenali tanda bahaya sejak awal menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.


Bagaimana Cara Mencegah ISPA?

Mencegah ISPA jauh lebih mudah dibanding mengobatinya. Sebagian besar langkah pencegahan bahkan dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari.

Beberapa cara yang dianjurkan antara lain:

  • Mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin.

  • Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum bersih.

  • Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan tisu atau siku bagian dalam.

  • Mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

  • Berolahraga secara teratur.

  • Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.

  • Menjaga kebersihan rumah serta sirkulasi udara.

  • Mendapatkan vaksinasi sesuai anjuran tenaga kesehatan, seperti vaksin influenza atau pneumonia bagi kelompok yang membutuhkan.


Mengapa Memahami ISPA Penting?

ISPA sering dianggap sebagai penyakit ringan karena banyak kasus hanya berupa batuk atau pilek. Namun, cara pandang tersebut dapat membuat seseorang terlambat menyadari ketika infeksi mulai berkembang menjadi lebih serius.

Di sisi lain, tidak semua batuk membutuhkan antibiotik, dan tidak semua demam harus ditangani secara berlebihan. Memahami penyebab, gejala, faktor risiko, hingga tanda bahaya ISPA membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat, baik saat merawat diri sendiri maupun ketika harus segera mencari pertolongan medis.

Dengan menerapkan pola hidup bersih, menjaga daya tahan tubuh, serta mengenali gejala sejak dini, risiko penularan maupun komplikasi ISPA dapat ditekan. Tetap pantau perkembangan kondisi kesehatan Anda dan keluarga, terutama saat musim pancaroba atau kualitas udara memburuk, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin bila diperlukan.

Baca Juga: Waspada Penyakit Usai Banjir di Jakarta, ISPA hingga DBD Mengintai

Baca Juga: Kenaikan Kasus ISPA di Jakarta Masih dalam Batas Aman, Dinkes: Kita Selalu Monitoring

FAQ

Apa perbedaan ISPA dengan flu biasa?

Flu biasa merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok ISPA. Sementara itu, ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah istilah yang mencakup berbagai infeksi pada saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Selain flu biasa, penyakit seperti sinusitis, radang tenggorokan, pneumonia, hingga COVID-19 juga dapat masuk dalam kategori ISPA. Dengan kata lain, semua flu termasuk ISPA, tetapi tidak semua ISPA adalah flu.

Apakah ISPA bisa sembuh sendiri?

Ya, sebagian besar kasus ISPA yang disebabkan oleh virus dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu. Selama masa pemulihan, penderita disarankan untuk beristirahat yang cukup, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi agar sistem kekebalan tubuh bekerja optimal. Namun, jika gejala semakin berat, disertai sesak napas, atau tidak kunjung membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Apakah ISPA menular?

ISPA termasuk penyakit yang mudah menular, terutama jika disebabkan oleh virus. Penularannya dapat terjadi melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Selain itu, virus dan bakteri penyebab ISPA juga dapat berpindah melalui tangan atau benda yang telah terkontaminasi. Karena itu, mencuci tangan secara rutin, menutup mulut saat batuk, dan menggunakan masker ketika sedang sakit menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penularan.

Apakah semua penderita ISPA harus minum antibiotik?

Tidak. Antibiotik hanya digunakan untuk mengobati ISPA yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sebagian besar kasus ISPA justru dipicu oleh virus sehingga antibiotik tidak akan mempercepat proses penyembuhan. Penggunaan antibiotik tanpa anjuran dokter juga dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri. Oleh karena itu, pengobatan sebaiknya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan penyebab infeksinya.

Berapa lama ISPA biasanya sembuh?

Pada umumnya, ISPA ringan akan membaik dalam waktu sekitar 7 hingga 14 hari. Lama penyembuhan dapat berbeda-beda tergantung penyebab infeksi, usia penderita, kondisi sistem kekebalan tubuh, serta ada atau tidaknya penyakit penyerta. Jika batuk berlangsung lebih dari tiga minggu atau muncul gejala seperti sesak napas dan demam tinggi, penderita sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Kapan penderita ISPA harus segera ke dokter?

Pemeriksaan medis diperlukan apabila penderita mengalami gejala yang mengarah pada infeksi lebih serius, seperti demam tinggi di atas 39 derajat Celsius, sesak napas, batuk berdarah, penurunan kesadaran, atau batuk yang tidak kunjung membaik selama lebih dari tiga minggu. Pada anak-anak, orang tua juga perlu waspada jika muncul tarikan dinding dada saat bernapas, napas berbunyi, muntah terus-menerus, atau anak tampak sangat lemas.

Bagaimana cara mencegah ISPA agar tidak mudah tertular?

Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang kotor, memakai masker saat sedang sakit, berhenti merokok, menjaga kebersihan lingkungan, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta mendapatkan vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menurunkan risiko penularan sekaligus menjaga kesehatan saluran pernapasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.