Akurat
Pemprov Sumsel

Tata Cara Shalat Sunnah Syawal Beserta Niatnya

Hadits Abdillah | 17 April 2024, 07:23 WIB
Tata Cara Shalat Sunnah Syawal Beserta Niatnya

AKURAT.CO Bulan Syawal merupakan bulan ke-10 dalam penanggalan Hijriyah. Bulan Syawal menjadi momen dimana umat muslim kembali ke fitrahnya setelah menjalani berbagai ibadah di bulan suci Ramadhan. Selain itu, bulan Syawal juga menjadi pembuktian atas keistiqomahan umat muslim dalam beribadah.

Untuk itu, terdapat beberapa ibadah yang dapat dilakukan pada bulan Syawal. Selain berpuasa sunnah selama enam hari, umat muslim juga dapat melaksanakan shalat sunnah Syawal yang disebut dengan Shalat Sunnah Utaqa.

Shalat Utaqa sendiri menjadi salah satu amalan sunnah yang masih jarang diketahui oleh umat muslim. Lantas bagaimana tata cara shalat sunnah Utaqa beserta niatnya?

Baca Juga: Sejumlah Adab yang Harus Dimiliki ketika Kembali ke Perantauan

Dilansir dari laman NU Online, shalat sunnah Utaqa dikerjakan sebanyak delapan rakaat dengan membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaatnya. Setelah membaca Al-Fatihah, seseorang yang menjalankan shalat sunnah ini kemudian membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 15 kali.

Selesai melaksanakan shalat, dianjurkan untuk membaca tasbih dan shalawat masing-masing sebanyak 70 kali. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa seusai shalat pada umumnya.

Shalat Utaqa dapat dilaksanakan pada siang maupun malam hari serta pada tanggal berapa saja. Dalam pengerjaannya, shalat sunnah ini dapat dilakukan dengan empat ataupun dua salam. Adapun niat shalat Utaqa, yaitu:

اصلي سنة العتقاء ركعتين لله تعالي

Ushalli sunnatal utaqa’i rak’ataini lillahi ta’alaa

Artinya: “Saya berniat shalat Utaqa dua rakaat karena Allah SWT”

Keutamaan Shalat Utaqa

Shalat Utaqa berarti pembebasan. Orang-orang yang mendirikan shalat ini mendapat ganjaran berupa terbebas dari impitan utang serta dipenuhinya hajat oleh Allah SWT. Keutamaan ini telah dijelaskan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mencantumkan hadits berikut:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: والذي بعثني بالحق ما من عبد يصلي هذه الصلاة إلا أنبع الله له ينابيع الحكمة في قلبه وأنطق به لسانه وأراه داء الدنيا ودواءها. والذي بعثني بالحق ما من عبد يصلي هذه الصلاة كما وصفت لا يرفع رأسه من آخر سجدة حتى يغفر الله له وإن مات مات شهيدا مغفورا له. والذي بعثني بالحق ما من عبد يصلي هذه الصلاة في السفر إلا سهل الله عليه السير والذهاب إلى موضع مراده. وإن كان مديونا قضى الله دينه. وإن كان ذا حاجة قضى الله حوائجه. والذي بعثني بالحق ما من عبد يصلي هذه الصلاة إلا أعطاه الله تعالى بكل حرف وبكل آية مخرفة في الجنة، قيل وما مخرفة يا رسول الله؟ قال صلى الله عليه وسلم: بساتين في الجنة يسير الراكب في ظل شجرة من أشجارها مئة سنة ثم لا يقطعها.

Baca Juga: Bolehkah Puasa Syawal Digabung dengan Puasa Qadha Ramadhan?

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, Tuhan yang mengutusku dengan haq, tiada seorang hamba yang mengerjakan shalat ini, melainkan Allah alirkan mata air hikmah di hatinya; Allah gerakkan lisannya untuk mengucapkan kalimat-kalimat mengandung hikmah; dan Allah perlihatkan kepadanya penyakit sekaligus obat dunia.

Demi Allah, Tuhan yang mengutusku dengan haq, tiada seorang hamba yang mengerjakan shalat ini sebagaimana aku tunjukkan, melainkan Allah mengampuninya setiap kali ia mengangkat kepalanya dari sujud. Kalaupun ia meninggal, maka kematiannya dinilai sebagai syahid yang membawa ampunan Ilahi. Demi Allah, Tuhan yang mengutusku dengan haq, tiada seorang hamba yang mengerjakan shalat ini di perjalanan, melainkan Allah mudahkan perjalanan berangkat hingga pulang ke tempat yang dituju. Kalaupun ia tengah menanggung utang, niscaya Allah akan menutup utangnya. Kalaupun ia sedang berhajat, niscaya Allah luluskan hajatnya.

Demi Allah, Tuhan yang mengutusku dengan haq, tiada seorang hamba yang mengerjakan shalat ini, melainkan Allah berikan kepadanya sebuah makhrafah untuk setiap huruf dan setiap ayat yang dibacanya.’ Sahabat bertanya, ‘Apa itu makhrafah ya Rasul?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Makhrafah adalah sebuah taman di surga dimana seorang berkuda yang berjalan di bawah naungan salah satu pohon di dalamnya selama seratus tahun tidak juga mencapai tepi naungan itu,’” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqqi Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1997 M/1417, juz II, halaman 249).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Lufaefi
Editor
Lufaefi