Akurat
Pemprov Sumsel

Sejarah Rebo Wekasan dan Asal Usulnya, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar

Fajar Rizky Ramadhan | 3 September 2024, 12:39 WIB
Sejarah Rebo Wekasan dan Asal Usulnya, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar

AKURAT.CO Rebo Wekasan, juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan atau Rabu Wekasan, merupakan sebuah tradisi yang berkembang di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Tradisi ini dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah.

Masyarakat yang menjalankan tradisi ini mempercayai bahwa Rebo Wekasan memiliki kekuatan spiritual untuk menolak bala (bencana) dan malapetaka yang diyakini akan turun pada hari tersebut.

Asal Usul dan Latar Belakang

Sejarah Rebo Wekasan tidak dapat dipisahkan dari keyakinan masyarakat terhadap hari-hari sial atau naas yang konon terjadi pada bulan Safar.

Dalam tradisi Jawa dan beberapa daerah lainnya, bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang penuh dengan kesialan dan malapetaka.

Ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menyebutkan bahwa pada bulan Safar terdapat banyak bencana atau bala yang turun ke bumi.

Keyakinan ini melahirkan tradisi khusus di beberapa kalangan Muslim di Nusantara, di mana mereka melakukan berbagai ritual dan doa pada hari Rabu terakhir di bulan Safar untuk meminta perlindungan dari Tuhan. Ritual ini diiringi dengan berbagai amalan, seperti puasa, shalat sunnah, membaca doa-doa tertentu, dan sedekah.

Baca Juga: Toleransi Islam di Indonesia Jadi Alasan Paus Fransiskus ke Indonesia, Apa Bukti Toleransinya?

Persebaran dan Praktik Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan berkembang luas di Pulau Jawa dan juga dikenal di beberapa daerah lain seperti Sumatera dan Kalimantan.

Di Jawa Tengah, khususnya di wilayah pesisir seperti Demak, Kudus, dan Jepara, masyarakat sering mengadakan selamatan dengan menyembelih ayam atau kambing dan membagikan makanan kepada tetangga.

Sementara itu, di Madura, tradisi ini juga dilakukan dengan mengadakan selamatan yang diiringi dengan pembacaan doa dan dzikir bersama.

Di Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat tradisi unik yang disebut "Ritual Mandi Safar," di mana masyarakat pergi ke sumber mata air atau pantai untuk mandi bersama. Mereka percaya bahwa mandi di hari Rebo Wekasan dapat membersihkan diri dari segala bentuk kesialan dan penyakit.

Kontroversi dan Pandangan Islam

Meski tradisi ini sangat populer di kalangan masyarakat, Rebo Wekasan juga menuai kontroversi. Beberapa ulama menyatakan bahwa tradisi ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan cenderung mengandung unsur bid’ah (inovasi dalam agama). Menurut mereka, keyakinan akan datangnya bala pada bulan Safar atau pada hari Rabu terakhir tidak didasarkan pada dalil yang shahih.

Baca Juga: Paus Fransiskus ke Indonesia, Bagaimana Seharusnya Orang Islam Menyikapi Ini?

Namun, sebagian ulama lain berpendapat bahwa selama tradisi ini dilaksanakan dengan niat yang baik dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti menghindari syirik (menyekutukan Allah), maka tradisi ini dapat menjadi bentuk ikhtiar dan doa kepada Allah SWT untuk memohon perlindungan.

Rebo Wekasan adalah salah satu tradisi yang menunjukkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Indonesia.

Meskipun ada perdebatan mengenai kesahihan praktik ini dalam Islam, tradisi ini tetap hidup dan dijalankan oleh banyak orang sebagai bentuk ikhtiar untuk menolak bala dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi masyarakat yang masih melestarikan tradisi ini, Rebo Wekasan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga simbol kebersamaan, doa, dan harapan untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.