Akurat
Pemprov Sumsel

Guru Gembul Sebut Polemik Nasab Muncul Akibat Tindakan Kontroversial Oknum Habib, Bagaimana Seharusnya Sikap Keturunan Nabi?

Fajar Rizky Ramadhan | 12 September 2024, 13:48 WIB
Guru Gembul Sebut Polemik Nasab Muncul Akibat Tindakan Kontroversial Oknum Habib, Bagaimana Seharusnya Sikap Keturunan Nabi?

AKURAT.CO Dalam beberapa waktu terakhir, muncul berbagai polemik terkait nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad SAW yang melibatkan beberapa oknum habib.

Polemik ini semakin memanas ketika tindakan sebagian kecil oknum dianggap mencemari nama besar keturunan Nabi.

Guru Gembul, seorang yang sering kali memberikan pandangan kritis terhadap isu-isu sosial keagamaan, menekankan bahwa polemik ini sebenarnya disebabkan oleh tindakan kontroversial segelintir orang yang kebetulan mengklaim sebagai habib, tetapi tidak mencerminkan akhlak mulia yang seharusnya melekat pada keturunan Nabi.

Guru Gembul menyebut bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai sayyid atau habib, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan moral dan etika yang telah diajarkan oleh kakek mereka, Rasulullah SAW.

Menurutnya, bukan hanya nasab yang membuat seseorang mulia, tetapi akhlak dan perilaku sehari-harilah yang menentukan kemuliaan seseorang.

Baca Juga: Habib Rizieq Shihab Lulusan Kampus Mana? Ternyata Pernah Sekolah di SMP Kristen

Dalil tentang Kewajiban Menjaga Akhlak Mulia

Guru Gembul menjelaskan bahwa keturunan Nabi harus senantiasa berpegang pada ajaran akhlak yang mulia, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa dalil Al-Qur'an dan hadits.

Salah satu ayat yang sering kali menjadi rujukan terkait kewajiban menjaga akhlak adalah firman Allah dalam surat Al-Ahzab:

"لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا"

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap muslim, termasuk keturunan Nabi, harus mencontoh akhlak Rasulullah yang mulia.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam segala aspek kehidupan, mulai dari cara berinteraksi, bersikap jujur, hingga menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesama.

Selain itu, hadits Rasulullah juga menekankan pentingnya akhlak mulia:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ"

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Guru Gembul menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini, semua keturunan Nabi hendaknya menjadikan akhlak mulia sebagai prioritas utama dalam kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, tetapi juga membawa nama besar Rasulullah SAW.

Sikap yang Seharusnya Ditunjukkan oleh Keturunan Nabi

Guru Gembul menekankan pentingnya introspeksi diri bagi setiap individu yang mengaku sebagai keturunan Nabi. Menurutnya, seseorang yang benar-benar ingin meneladani Nabi Muhammad SAW tidak boleh terjebak dalam kesombongan karena nasabnya.

Sebaliknya, mereka harus menunjukkan sifat tawadhu (rendah hati) dan berusaha menjadi contoh kebaikan bagi masyarakat.

Baca Juga: Singgung Kemampuan Baca Kitab Kuning Habib Bahar bin Smith, Guru Gembul Tak Sepenuhnya Percaya Habib Bahar Ulama

Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan bahwa kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh nasab, melainkan oleh ketakwaan. Beliau bersabda:

"مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ"

“Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya (ke surga).” (HR. Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat bahwa keturunan Nabi bukanlah jaminan bagi seseorang untuk mendapat kemuliaan di sisi Allah jika tidak disertai dengan amal yang baik.

Oleh karena itu, Guru Gembul menekankan bahwa keturunan Nabi harus lebih fokus pada peningkatan kualitas ibadah, amal saleh, dan akhlak yang terpuji, bukan hanya pada status nasab.

Polemik tentang nasab yang melibatkan oknum habib, menurut Guru Gembul, hanyalah sebagian kecil dari masalah yang lebih besar, yaitu kurangnya pemahaman tentang pentingnya menjaga akhlak mulia bagi setiap individu, termasuk keturunan Nabi.

Nasab memang sesuatu yang penting dalam Islam, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab moral dan etika yang lebih besar.

Keturunan Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi teladan dalam hal akhlak, sebagaimana kakek mereka, Rasulullah SAW, adalah contoh terbaik bagi umat Islam.

Sebuah nasab yang baik harus diiringi dengan perbuatan yang baik pula, agar kemuliaan itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.