Akurat
Pemprov Sumsel

Orasi Ilmiah Wisuda STAI Sadra, Prof Abdul Mustaqim Tegaskan Moderasi Beragama Kunci Kerukunan Umat Menuju Indonesia Emas 2045

Fajar Rizky Ramadhan | 12 Oktober 2024, 10:23 WIB
Orasi Ilmiah Wisuda STAI Sadra, Prof Abdul Mustaqim Tegaskan Moderasi Beragama Kunci Kerukunan Umat Menuju Indonesia Emas 2045

AKURAT.CO Guru Besar Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag, menegaskan pentingnya moderasi beragama sebagai solusi dalam menciptakan kerukunan umat beragama.

Dalam pidatonya di Wisuda STAI Sadra Jakarta sarjana ke VI dan Pascarjana ke III, Sabtu (24/09/2024), beliau menyampaikan bahwa pluralitas masyarakat Indonesia menuntut adanya pengelolaan perbedaan dengan bijak, untuk mencapai harmoni dan perdamaian.

"Realitas sosial kita memang plural. Tantangannya adalah bagaimana mengelola pluralitas ini agar harmoni dan perdamaian tetap terjaga," ujar Mustaqim.

Menurutnya, moderasi beragama menjadi solusi utama dalam menghadapi konflik-konflik yang kerap muncul akibat perbedaan pandangan teologis maupun sosial.

Mustaqim menyoroti beban sejarah konflik agama yang masih ada di masyarakat, seperti Perang Salib dan konflik Sunni-Syiah. Namun, ia menegaskan pentingnya perubahan paradigma dari ekstremisme eksklusif menuju moderasi dan inklusivitas.

“Kita harus berani mengubah cara pandang ekstrem menuju sikap yang lebih moderat agar agama menjadi solusi, bukan sumber masalah," tambahnya.

Ia juga mengkritisi kelompok-kelompok yang masih mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan. Dalam konteks ini, sikap moderasi dianggap penting untuk meredam radikalisasi yang berkembang baik secara ideologi maupun perilaku.

Fenomena radikalisasi, menurutnya, bisa berkembang dari intoleransi hingga menjadi kekerasan fisik, seperti yang terlihat di berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Wisuda 138 Mahasiswa, STAI Sadra Jakarta Apresiasi Sejumlah Mahasiswa Berprestasi

"Radikalisme bukan gejala khas satu agama, ia bisa muncul dalam agama apapun, tergantung konteks politik dan sosialnya. Misalnya, radikalisme di Myanmar yang menimpa etnis Rohingya," jelas Mustaqim.

Ia menambahkan bahwa radikalisme sering kali mencederai nilai dasar agama, yaitu kedamaian dan cinta kasih antar sesama manusia.

Selain mengkritisi radikalisme, Mustaqim juga menegaskan bahwa agama hadir bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan untuk kesejahteraan manusia.

"Agama hadir agar manusia bisa mencapai kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat. Kita harus menebarkan kasih sayang karena Tuhan pun Maha Pengasih dan Penyayang," tuturnya.

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi beragama menjadi suatu keharusan agar tercipta kohesi sosial. Mustaqim menekankan bahwa tanpa kerukunan dan perdamaian, pembangunan peradaban menuju Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai.

"Kehidupan yang penuh konflik tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun," imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa karakter dasar Islam adalah moderasi (wasathiyah). Moderasi ini mencakup sikap toleran, adil, anti-kekerasan, serta komitmen kebangsaan yang menghargai budaya lokal. Mustaqim menyebutkan, "Sikap moderat adalah sikap yang ideal, baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan sosial."

Lebih lanjut, Mustaqim mengutip ayat-ayat al-Quran yang menegaskan pentingnya moderasi dalam beragama. Salah satunya adalah pernyataan bahwa umat Islam adalah "ummatan wasathan" (umat yang moderat) sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Baqarah. “Moderasi inilah yang membuat Islam selalu relevan sepanjang zaman,” katanya.

Dalam konteks Indonesia, Mustaqim menilai bahwa negara telah menerapkan konsep moderasi beragama melalui Pancasila.

"Pancasila sebagai dasar negara adalah contoh terbaik dari moderasi Islam. Indonesia bukan negara Islam, tetapi juga bukan negara sekuler. Ini adalah dar al-salam, negara damai," jelasnya.

Menurutnya, Pancasila mampu menjadi katalisator untuk menjaga keberagaman. Mustaqim menyebutkan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun, dan oleh karenanya upaya mengganti Pancasila dengan ideologi lain justru menggeser moderasi beragama.

Baca Juga: Ciri-ciri Pemahaman Islam yang Konservatif, Apakah Bertentangan dengan Visi Moderasi Islam?

Tak hanya dalam konteks nasional, Mustaqim juga menekankan pentingnya moderasi dalam hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim.

"Toleransi adalah sikap moderasi yang berada di tengah antara ekstremisme dan sinkretisme," jelasnya. Toleransi, lanjutnya, bukanlah menyamakan semua agama, melainkan menghormati perbedaan tanpa mengorbankan identitas agama.

Di akhir pidatonya, Mustaqim mengutip pemikiran teolog Swiss, Hans Kung, yang menyatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, seperti menjauhi kekerasan, menjaga solidaritas, dan menegakkan kejujuran. "Semua agama mengajarkan cinta kasih dan kesetaraan antar manusia," ujarnya.

Ia pun mengajak para tokoh agama untuk menjadi teladan dalam moderasi beragama. Menurutnya, tokoh agama harus mampu menjadi katalisator dalam menyelesaikan ketegangan antar umat beragama, serta menyampaikan ajaran yang moderat di tengah masyarakat.

"Kita harus mampu mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai berdasarkan moderasi beragama," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.