Aksi sederhana ini mencerminkan pesan penting tentang rendah hati dan kebersahajaan, nilai-nilai yang juga diajarkan dalam Islam.
Dalam konteks kepemimpinan dan kehidupan pribadi, Islam menekankan pentingnya tawadhu (kerendahan hati) dan kesederhanaan, baik bagi pemimpin maupun rakyat biasa.
Tawadhu adalah sikap menundukkan diri di hadapan Allah dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, meskipun memiliki kedudukan atau kekuasaan.
Sikap ini ditekankan dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya terdapat dalam surah Al-Furqan, ayat 63:
"Wa'ibādur-Raḥmāni-llażīna yamsyūna 'alal-arḍi hawnan wa iżā khāṭabahumul-jāhilūna qālū salāmā"
Baca Juga: Jokowi Terima Kunjungan dari Pemerintah Uni Emirat Arab di Solo
(Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik). (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menekankan bahwa orang-orang yang dicintai Allah adalah mereka yang bersikap rendah hati, tidak sombong, dan tidak membalas kebodohan dengan amarah.
Seorang pemimpin yang tawadhu tidak akan merasa lebih mulia karena kedudukannya. Ia justru berusaha mendekatkan diri dengan masyarakatnya, sebagaimana Nabi Muhammad SAW sering menolak diperlakukan istimewa meski beliau adalah Rasulullah.
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi SAW bersabda:
"Inna Allāha auḥā ilayya an tawāḍa‘ū, ḥattā lā yafkhar aḥadun ‘alā aḥadin wa lā yabghī aḥadun ‘alā aḥad."
(Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang merasa bangga atas orang lain, dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain). (HR. Muslim)
Kesederhanaan dan kerendahan hati juga tampak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Beliau sering kali makan dengan para sahabat tanpa merasa perlu perlakuan istimewa, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Aksi Jokowi yang makan sate di Sukoharjo tanpa pengawalan ketat mengingatkan kita akan teladan semacam ini, yaitu bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak berjarak dengan rakyat dan menunjukkan kesederhanaan dalam sikap dan tindakan.
Dalam Islam, kesederhanaan bukan hanya sekadar sikap, melainkan cerminan iman dan kecintaan pada kehidupan akhirat.
Nabi SAW bersabda: "Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu." (HR. Ibnu Majah).
Baca Juga: Sebelum Purnatugas, Jokowi Terbitkan Inpres Percepatan Uji Coba Trem Otonom di IKN
Dengan bersikap sederhana dan tawadhu, seorang pemimpin tidak hanya mendapatkan cinta rakyat, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi Jokowi di Sukoharjo ini memberi pesan kuat bahwa jabatan tidak menghalangi seseorang untuk bersikap rendah hati.
Kesederhanaan dalam tindakan sehari-hari adalah wujud penghormatan terhadap nilai-nilai Islam dan bentuk nyata dari kepedulian pada rakyat.
Dalam masyarakat yang sering kali terjebak pada formalitas dan kemewahan, contoh seperti ini sangat diperlukan sebagai pengingat bahwa ketinggian derajat di sisi Allah tidak ditentukan oleh kekayaan atau jabatan, tetapi oleh ketakwaan dan sikap rendah hati.