Akurat
Pemprov Sumsel

Fakta Sejarah Islam tentang Istilah 'Rakyat Jelata': Bukan sebagai Label yang Merendahkan Manusia

Fajar Rizky Ramadhan | 7 Desember 2024, 09:30 WIB
Fakta Sejarah Islam tentang Istilah 'Rakyat Jelata': Bukan sebagai Label yang Merendahkan Manusia

AKURAT.CO Dalam sejarah peradaban Islam, istilah yang merujuk pada "rakyat jelata" atau lapisan masyarakat biasa sering kali muncul dalam wacana sosial, politik, dan keagamaan.

Namun, Islam sebagai agama yang mengedepankan keadilan sosial tidak pernah menggunakan istilah semacam ini untuk merendahkan martabat manusia.

Sebaliknya, terminologi yang menggambarkan rakyat biasa justru sarat dengan penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Kesetaraan dalam Perspektif Islam

Islam mengajarkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an:

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13).

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, tetapi oleh tingkat ketakwaannya.

Dengan kata lain, konsep "rakyat jelata" dalam Islam lebih dilihat dari sisi fungsi sosialnya, bukan sebagai label yang merendahkan.

Baca Juga: Dirujak Netizen Usai Sebut 'Rakyat Jelata', Ini Klarifikasi Jubir Adita Irawati

Penggunaan Istilah dalam Sejarah Islam

Dalam literatur sejarah Islam, istilah untuk rakyat biasa sering kali menggunakan kata-kata seperti 'awam atau ghawgha', yang merujuk pada mayoritas masyarakat.

Para sejarawan Muslim klasik seperti Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya mencatat peran vital lapisan masyarakat ini dalam menopang struktur sosial dan ekonomi.

Dalam analisis Ibn Khaldun, masyarakat umum atau rakyat biasa adalah tulang punggung keberlangsungan negara, dan tanpa kontribusi mereka, pemerintahan yang adil tidak dapat berjalan.

Nabi Muhammad SAW dan Hubungan dengan Rakyat Biasa

Rasulullah Muhammad SAW memberikan contoh nyata bagaimana seorang pemimpin memperlakukan rakyat biasa dengan penghormatan.

Salah satu kisah yang sering disampaikan adalah saat Nabi Muhammad SAW membersihkan pasar dari kotoran dengan tangannya sendiri, tanpa memandang status sosial.

Beliau juga sering duduk dan makan bersama para sahabat dari berbagai latar belakang, termasuk orang miskin dan budak, seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.

Dalam satu hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Hadis ini memperkuat ajaran Islam tentang persamaan martabat manusia di hadapan Allah.

Kajian Akademis tentang Kesetaraan Sosial dalam Islam

Kajian akademis modern menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memperjuangkan keadilan sosial sejak awal kelahirannya.

Dalam buku Islam and Social Justice karya Zafar Iqbal, disebutkan bahwa konsep keadilan dalam Islam tidak hanya menyasar pada struktur hukum, tetapi juga keadilan sosial-ekonomi yang mencakup perlakuan terhadap rakyat biasa.

Baca Juga: Terkuak! Menurut Warganet, Ini Alasan Suneo Sekolah dengan Rakyat Jelata Meski Ayahnya Konglomerat

Zakat, misalnya, adalah mekanisme ekonomi Islam yang dirancang untuk mengurangi kesenjangan sosial dan mengangkat martabat rakyat miskin.

Penelitian lain dari jurnal Journal of Islamic Studies (2022) menyoroti bahwa dalam sistem politik Islam awal, masyarakat diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat mereka, terlepas dari status sosialnya.

Khalifah Umar bin Khattab adalah salah satu contoh pemimpin yang sering mendengarkan keluhan dari rakyat jelata tanpa diskriminasi.

Akhirnya bisa diambil kesimpulan, bahwa istilah "rakyat jelata" dalam Islam tidak pernah dimaknai sebagai penghinaan atau pelecehan terhadap martabat manusia.

Sebaliknya, konsep ini justru melibatkan penghormatan dan keadilan, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan kesetaraan, keadilan, dan penghargaan terhadap setiap individu.

Sejarah dan ajaran Islam menunjukkan bahwa semua manusia, tanpa memandang status sosial, memiliki peran dan tanggung jawab dalam masyarakat yang adil dan sejahtera.

Islam memandang rakyat biasa bukan sebagai subordinat, melainkan sebagai mitra dalam membangun peradaban.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.