Akurat
Pemprov Sumsel

Bu Guru Salsa TikTok Viral Video: Ini Larangan Membuat Konten yang Mengundang Syahwat dalam Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Februari 2025, 06:18 WIB
Bu Guru Salsa TikTok Viral Video: Ini Larangan Membuat Konten yang Mengundang Syahwat dalam Islam

 

AKURAT.CO Viral video tiktok Bu Guru Salsa. Netizen pun memburu video tersebut. Fenomena viral di media sosial sering kali mengundang perbincangan luas di kalangan masyarakat.

Salah satu yang tengah menjadi sorotan adalah video viral Bu Guru Salsa di TikTok. Seperti banyak tren serupa, konten ini memancing reaksi beragam, dari pujian hingga kritik tajam.

Dalam konteks Islam, fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: bagaimana pandangan Islam terhadap pembuatan konten yang mengundang syahwat?

Islam adalah agama yang menjaga kehormatan dan kesucian diri, terutama dalam hal menampilkan aurat dan perilaku yang dapat membangkitkan hawa nafsu.

Al-Qur'an secara tegas memberikan pedoman agar umat Islam menjaga pandangan dan kehormatan diri mereka. Dalam Surah An-Nur ayat 30-31, Allah berfirman:

قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون * وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها

Artinya: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) terlihat darinya."

Baca Juga: Kalender Jawa Rabu Pahing 19 Februari 2025, Apa Perspektif Islam?

Ayat ini mengandung perintah bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kesucian diri.

Dalam konteks media sosial, ini bisa diartikan sebagai larangan untuk membuat atau menyebarkan konten yang memicu syahwat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya sikap malu dan menjaga martabat. Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ الحَياءَ شُعبةٌ مِنَ الإيمانِ

Artinya: "Malu itu adalah bagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika seseorang membuat konten yang mengeksploitasi tubuh atau menampilkan gerakan yang menggoda, hal itu berlawanan dengan nilai-nilai kesopanan dan rasa malu yang diajarkan dalam Islam.

Ini tidak hanya berdampak pada individu yang membuat konten, tetapi juga kepada para penontonnya yang bisa terjerumus dalam godaan dan dosa.

Di era digital, seseorang mungkin berpikir bahwa membuat konten di media sosial hanyalah hiburan semata.

Namun, tanpa disadari, konten yang mengundang syahwat dapat menjerumuskan diri sendiri dan orang lain dalam perbuatan maksiat. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam haditsnya:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ، وَمَنْ دَلَّ عَلَى شَرٍّ فَلَهُ مِثْلُ وِزْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: "Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya. Dan barang siapa menunjukkan kepada keburukan, maka ia mendapatkan dosa seperti orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim).

Dari hadits ini, jelas bahwa menyebarkan konten yang mengundang syahwat bukan hanya sekadar kesalahan pribadi, tetapi juga bisa menjadi sebab dosa bagi orang lain.

Dalam pandangan Islam, ini adalah tanggung jawab yang besar, karena setiap tindakan yang mengarah pada keburukan akan membawa dampak luas.

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk menggunakan teknologi dengan bijak. Media sosial bisa menjadi alat dakwah dan kebaikan, tetapi juga bisa menjadi pintu menuju keburukan jika disalahgunakan.

Baca Juga: Kabur Aja Dulu ke Luar Negeri di Saat Susah Cari Kerja di Negara Sendiri, Apa Hukumnya Menurut Islam?

Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika setiap konten yang dibuat selalu mempertimbangkan nilai-nilai Islam, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dan berusaha untuk menjadi inspirasi dalam kebaikan.

Bu Guru Salsa dan fenomena serupa di media sosial seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Viral bukanlah tujuan utama dalam hidup. Sebagai seorang muslim, menjaga kehormatan dan martabat jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan popularitas sesaat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.