Kritik Serial Film Bidaah: Tak Seimbang karena Hanya Tampilkan Tokoh Agama yang Eksklusif!

AKURAT.CO Serial film Bidaah yang tengah viral bukan hanya sekadar tontonan penuh drama, melainkan juga karya yang membuka ruang tafsir teologis dan sosiologis atas dinamika keberagamaan kontemporer.
Namun, bila ditinjau dari sudut pandang representasi keagamaan dalam media populer, serial ini justru mengundang kritik mendalam: narasinya cenderung timpang karena hanya menghadirkan tokoh agama yang eksklusif, otoriter, dan menyimpang, tanpa menghadirkan penyeimbang berupa sosok tokoh agama yang otentik dan mencerminkan prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Tokoh Walid dalam serial Bidaah digambarkan sebagai pemimpin sekte tertutup yang menggunakan retorika agama untuk memperdaya para pengikutnya.
Ia karismatik, dogmatis, dan mengklaim kebenaran tunggal. Gaya kepemimpinannya menampilkan ciri-ciri tipikal dari apa yang disebut Michael Barkun sebagai “cultic milieu”—lingkungan ideologis tertutup yang menolak otoritas eksternal dan mengkultuskan pemimpinnya.
Fenomena ini memang nyata dalam beberapa kasus keagamaan di dunia nyata, tetapi ketika satu-satunya representasi tokoh agama dalam sebuah karya fiksi adalah seperti ini, maka yang muncul bukan lagi kritik, melainkan generalisasi yang bias.
Baca Juga: Serial Film Bidaah: Antara Kritik Paham Keagamaan Eksklusif dan Penyudutan Agama Islam
Dalam studi representasi media oleh Stuart Hall, ada yang disebut sebagai "preferred meaning", yakni makna dominan yang ingin disampaikan oleh pembuat narasi.
Dalam Bidaah, preferensi tersebut tampak condong ke arah menampilkan agama sebagai alat kontrol sosial yang menakutkan dan manipulatif.
Padahal, dalam kenyataan sosial, selalu ada dialektika: jika ada yang menyimpang, ada pula yang meluruskan; jika ada yang menyesatkan, selalu hadir pula yang menuntun dengan hikmah dan kasih sayang.
Secara ilmiah, keberagamaan dalam Islam tidak bisa direduksi menjadi satu corak eksklusif semata. Konsep wasathiyah (moderat) adalah ruh ajaran Islam yang ditekankan langsung dalam Al-Qur’an: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (pertengahan)...” (QS. Al-Baqarah: 143).
Ayat ini menunjukkan bahwa sikap ekstrem, baik terlalu keras maupun terlalu longgar, adalah sesuatu yang ditolak dalam Islam. Sayangnya, serial ini tidak menampilkan tokoh agama yang merepresentasikan nilai-nilai moderat tersebut.
Tak ada ustaz, kyai, atau guru spiritual yang mengajak pada pemahaman Islam yang proporsional, terbuka, dan berlandaskan kasih sayang. Ini jelas menciptakan bias naratif.
Dalam kerangka keilmuan Islam, tokoh seperti Walid dalam Bidaah justru bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dalam ilmu ushuluddin. Misalnya, dalam kaidah ushul fikih, dikenal prinsip “al-hukmu yadûru ma‘a ‘illatihi wujûdan wa ‘adaman” (hukum itu berputar sesuai dengan illat-nya).
Artinya, setiap tindakan keagamaan harus dilandasi oleh maqasid (tujuan) syariah, seperti menjaga akal, jiwa, harta, dan agama. Pemaksaan pernikahan, pengekangan berpikir, dan penundukan buta terhadap pemimpin bertentangan dengan prinsip-prinsip ini.
Baca Juga: Adakah Nikah Batin Seperti pada Serial Bidaah dalam Ajaran Islam?
Seharusnya, jika narasi Bidaah ingin menjadi kritik yang adil dan membangun, maka ia juga perlu menghadirkan tokoh antitesis: pemuka agama yang memahami agama dengan hati dan akal, yang mempraktikkan adab sebelum ilmu, serta menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam koridor syariah.
Tanpa kehadiran tokoh semacam ini, serial ini terjebak pada narasi tunggal yang menyederhanakan kompleksitas dunia keagamaan.
Dalam analisis naratif, ini disebut sebagai “narrative imbalance”—ketika konflik tidak diberikan ruang resolusi yang proporsional karena tidak adanya lawan naratif yang setara.
Padahal, justru dari ketegangan antara dua tipe tokoh agamalah kita bisa memahami bahwa agama bukanlah instrumen kekuasaan, melainkan jalan menuju pencerahan dan pembebasan.
Maka kritik terhadap Bidaah bukan terletak pada keberaniannya mengangkat isu penyimpangan agama—hal itu penting dan relevan. Namun kritik utama adalah pada ketiadaan ruang bagi wajah agama yang damai, teduh, dan penuh cinta.
Tanpa itu, publik yang tak cukup literasi bisa menyimpulkan bahwa semua yang berkaitan dengan simbol agama adalah menakutkan dan mencurigakan.
Padahal, sejarah Islam penuh dengan tokoh-tokoh reformis dan moderat—dari Imam Al-Ghazali yang mengajarkan tasawuf kritis, hingga Muhammad Abduh yang menyerukan ijtihad rasional. Mereka adalah representasi Islam yang merangkul, bukan memukul; yang mengajarkan berpikir, bukan membungkam.
Akhirnya, Bidaah adalah pengingat bahwa media bukan hanya cermin, tetapi juga pembentuk cara pandang. Jika yang ditampilkan hanya sisi gelap agama, maka masyarakat pun akan kehilangan harapan pada terang yang seharusnya ada.
Kita tidak menolak kritik terhadap penyimpangan, tetapi kita menuntut keadilan dalam penceritaan. Sebab agama, pada hakikatnya, adalah cahaya—bukan bayangan gelap dari ambisi manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









