Viral Anak Gajah Ditabrak Truk, Apa Saja Selain Gajah Binatang yang Disebut dalam Al-Qur'an?

AKURAT.CO Viralnya video seekor anak gajah yang tertabrak truk di Perak, Malaysia, bukan hanya menyentuh sisi emosional publik, tapi juga mengundang refleksi spiritual.
Dalam video itu tampak sang induk gajah dengan penuh kesetiaan tetap berada di samping anaknya yang tergeletak tak bernyawa.
Banyak netizen menyebutnya sebagai simbol kasih sayang alami yang tak kalah kuat dari manusia.
Namun, bagi umat Islam, kehadiran gajah dalam konteks sejarah dan spiritualitas memiliki tempat yang cukup istimewa—bahkan disebut langsung dalam kitab suci Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Fil.
Namun pertanyaannya: apakah hanya gajah yang disebut dalam Al-Qur’an? Ternyata tidak. Dalam struktur naratif dan metaforis Al-Qur’an, hewan-hewan menjadi bagian integral dari kisah, pelajaran moral, hingga simbol kebesaran ciptaan Allah.
Sebagian besar disebut dalam konteks kisah para nabi, ilustrasi moral, atau bahkan sumpah Ilahi. Ini menandakan bahwa hewan-hewan bukan sekadar makhluk tambahan di alam semesta, tetapi punya peran signifikan dalam membentuk kosmologi Islam.
Mari kita telusuri sejumlah binatang lain yang disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, selain gajah.
1. Ular (ثُعْبَانٌ) – Simbol Kekuasaan Allah dalam Kisah Nabi Musa
Ular disebut dalam konteks mukjizat Nabi Musa `alayhis-salam. Ketika tongkatnya berubah menjadi ular besar di hadapan Firaun, itu bukan sulap, tapi manifestasi kekuasaan Allah.
فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ
“Maka dilemparkannya tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 32)
2. Sapi (بَقَرَةٌ) – Menjadi Nama Surat Terpanjang
Surat Al-Baqarah (sapi betina) adalah surat terpanjang dalam Al-Qur’an. Dalam salah satu kisahnya, sapi menjadi alat pembuka tabir pembunuhan misterius di kalangan Bani Israil.
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا۟ بَقَرَةً
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” (QS. Al-Baqarah: 67)
3. Semut (نَمْلٌ) – Dikenal karena Kepemimpinan dan Kecerdasannya
Semut disebut dalam kisah Nabi Sulaiman yang bisa memahami bahasa binatang. Bahkan ada satu surat khusus dinamai semut: Surat An-Naml.
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ
“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut…” (QS. An-Naml: 18)
Baca Juga: Viral Anak Gajah Tertabrak Truk, Apa Hukum Menyakiti Binatang dalam Islam?
4. Anjing (كَلْبٌ) – Setia dalam Kisah Ashabul Kahfi
Anjing muncul dalam kisah para pemuda gua (Ashabul Kahfi) yang tidur ratusan tahun demi mempertahankan iman. Anjing itu menemani mereka sepanjang waktu.
وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌۭ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ
“Dan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua.” (QS. Al-Kahfi: 18)
5. Laba-laba (عَنكَبُوت) – Simbol Perlindungan Allah
Laba-laba terkenal karena kisahnya dalam hijrah Nabi Muhammad ﷺ yang bersembunyi di gua Tsur. Meski kisah itu tidak eksplisit disebut dalam ayat, namun laba-laba menjadi judul surat ke-29, Surat Al-‘Ankabut, dan dijadikan simbol kelemahan yang tampak kuat.
إِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ
“Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba.” (QS. Al-‘Ankabut: 41)
6. Burung Hud-hud – Utusan dalam Kisah Sulaiman
Burung hud-hud berperan sebagai mata-mata dan pembawa kabar penting bagi Nabi Sulaiman tentang keberadaan Ratu Saba’ dan rakyatnya yang menyembah matahari.
وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَآ أَرَى ٱلْهُدْهُدَ
Dandia memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud?’” (QS. An-Naml: 20)
7. Keledai (حِمَارٌ) – Perumpamaan Manusia Tak Mengamalkan Ilmu
Keledai digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan orang yang membawa kitab suci tetapi tidak memahaminya atau mengamalkannya.
مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۭا
“Perumpamaan orang-orang yang dibebani Taurat lalu mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5).
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat: Cara Memuliakan Bulan Dzulqa’dah dalam Islam
Binatang-binatang ini bukan sekadar elemen cerita, tapi mewakili dimensi etis, spiritual, dan kognitif dalam Al-Qur’an. Sebagian menjadi lambang kekuatan dan keberanian, sebagian lagi simbol kelemahan, kesetiaan, hingga metafora ilmu yang tak diamalkan.
Dalam Islam, binatang bukan makhluk kelas dua, melainkan bagian dari ummamun amtsâlukum—umat-umat yang serupa dengan kalian (QS. Al-An‘am: 38). Mereka memiliki kehidupan sosial, aturan, dan cara berkomunikasi yang tidak kita pahami.
Kematian anak gajah itu bukan sekadar insiden lalu lintas. Ia adalah pengingat dari langit bahwa bumi ini bukan milik manusia semata.
Hewan-hewan, sebagaimana ditunjukkan dalam Al-Qur’an, adalah bagian dari keseimbangan semesta yang harus dijaga, dihormati, dan dipahami keberadaannya. Tragedi mereka, adalah cermin dari kelalaian kita.
Sudah saatnya manusia berhenti melihat binatang sebagai "yang lain", dan mulai menempatkan mereka sebagai saudara dalam penciptaan. Bukankah mereka juga berdzikir kepada Tuhan, dengan cara mereka sendiri? Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









