Akurat
Pemprov Sumsel

Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dari Seorang Muslim Bertentangan dengan Al-Qur’an atau Tidak?

Fajar Rizky Ramadhan | 29 Mei 2025, 20:49 WIB
Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dari Seorang Muslim Bertentangan dengan Al-Qur’an atau Tidak?

AKURAT.CO Di tengah semangat toleransi dan kerukunan umat beragama yang semakin digaungkan di ruang publik, muncul fenomena di mana sebagian umat Islam merasa "wajar" atau bahkan "perlu" ikut memberi ucapan selamat kepada rekan Kristennya atas Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus.

Tapi pertanyaannya yang paling mendasar dan harus kita jawab secara jujur dan ilmiah adalah ini: apakah ucapan tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an?

Untuk menjawabnya, kita perlu menelisik dua hal: pertama, apa isi dari ucapan tersebut; kedua, apa posisi Al-Qur’an terhadap klaim ketuhanan Yesus.

Ucapan seperti “Selamat Hari Kenaikan Tuhan Yesus” secara eksplisit mengandung pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan bahwa ia naik ke langit sebagai bagian dari misi ilahiyahnya.

Dalam teologi Kristen, ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini inti iman: bahwa Yesus adalah Tuhan yang mati dan bangkit lalu naik ke surga.

Maka ketika seorang Muslim mengucapkan selamat atas hal itu, pertanyaannya bukan sekadar apakah itu sopan atau toleran, tapi: apakah itu bentuk pembenaran terhadap suatu keyakinan yang bertentangan dengan tauhid?

Baca Juga: Muslim yang Memberi Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Apakah Musyrik?

Al-Qur’an tidak membiarkan wilayah ini menjadi abu-abu. Dalam banyak ayat, Allah secara tegas menolak klaim bahwa Yesus adalah Tuhan atau Anak Tuhan. Salah satunya adalah firman-Nya:

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga (Trinitas). Padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. Al-Ma’idah: 73)

Ayat ini tidak hanya membantah teologi Trinitas, tapi juga mengaitkan langsung keyakinan itu dengan kekufuran. Maka ketika seseorang—terutama Muslim—mengucapkan selamat atas hari yang didasarkan pada ajaran ini, ia seolah-olah sedang memberikan restu terhadap doktrin yang telah dinyatakan sesat oleh Al-Qur’an.

Apakah ini berarti seorang Muslim tidak boleh berbuat baik kepada non-Muslim? Sama sekali tidak. Al-Qur’an justru memerintahkan umat Islam untuk berlaku adil dan baik kepada mereka yang tidak memusuhi agama:

لَا يَنْهَاكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓاْ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Artinya: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Berbuat baik adalah satu hal. Tapi mengafirmasi keyakinan mereka, bahkan dalam bentuk ucapan ringan, adalah hal lain yang berada di luar batas toleransi Islam.

Dalam konteks ini, memberi ucapan “Selamat Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus” adalah bentuk afirmasi terhadap konsep teologis yang secara eksplisit dibantah oleh Al-Qur’an.

Baca Juga: Adakah Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus yang Tidak Melanggar Aturan Islam?

Artinya, ucapan itu bertentangan dengan Al-Qur’an—bukan hanya secara implisit, tapi secara ideologis dan fundamental. Ia merusak batas tipis antara toleransi dan akidah. Kita bisa hidup berdampingan, bisa saling menghormati, tapi tetap menjaga kejelasan identitas iman.

Jadi, jawabannya jelas: ya, ucapan tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an. Seorang Muslim harus cerdas membedakan antara keramahan sosial dan ketundukan akidah. Jika kita tidak bisa mengatakan sesuatu yang benar, maka diam lebih selamat. Sebab dalam Islam, keimanan bukan hanya diyakini di hati, tapi juga dijaga oleh lisan dan perbuatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.