Film “Sore: Istri dari Masa Depan” dan Betapa Mahalnya Waktu dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Film“Sore: Istri dari Masa Depan” tak sekadar menyuguhkan romansa fiksi ilmiah. Ia menghadirkan perenungan mendalam tentang makna waktu. Kisah tentang Sore, seorang perempuan dari masa depan yang kembali ke masa kini untuk membimbing suaminya, Jonathan, mengandung pesan simbolik tentang urgensi menghargai waktu dan pentingnya pengelolaan hidup dengan bijak.
Fiksi memang tidak harus logis secara ilmiah. Namun justru di sinilah kekuatannya: ia mampu menyentuh kesadaran melalui simbol dan imajinasi. Sore, tokoh utama dalam film ini, menjadi metafora bagi nurani manusia yang sadar bahwa masa depan bukan semata-mata takdir, melainkan hasil dari keputusan yang diambil hari ini.
Dalam ajaran Islam, waktu adalah karunia yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an menegaskan fungsi keberadaan manusia dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” Ini menegaskan bahwa kehidupan di dunia adalah ruang pengabdian, bukan sekadar tempat untuk menjalani rutinitas tanpa arah.
Baca Juga: Cara Dapat Promo Buy 1 Get 1 untuk Nonton Film Sore: Istri dari Masa Depan, Mudah dan Cepat!
Ironisnya, manusia sering terjebak dalam aktivitas yang menyita waktu namun tidak membawa makna. Fenomena ini tercermin dalam karakter Jonathan yang terkungkung dalam pola hidup yang membosankan, tidak produktif, dan kurang reflektif. Sore datang membawa kesadaran, mengajak Jonathan—dan penonton—untuk merevisi prioritas hidup.
Salah satu refleksi paling kuat tentang waktu dalam Islam termaktub dalam Surah Al-‘Ashr. Allah bersumpah atas nama waktu, sebuah penegasan bahwa manusia berada dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual, melainkan seruan eksistensial. Dalam dunia modern yang dipenuhi notifikasi dan hiburan instan, manusia rentan kehilangan arah. Maka pesan film ini hadir bagaikan tamparan lembut: waktu yang hilang tidak akan pernah kembali, dan masa depan bergantung pada bagaimana hari ini dijalani.
Hadis Nabi Muhammad SAW memberikan pedoman konkret tentang pengelolaan waktu: “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Ahmad)
Pesan ini senada dengan peran Sore dalam film: ia hadir bukan untuk mengubah masa lalu, tetapi membantu Jonathan memaksimalkan potensi waktu yang masih tersedia. Ini menegaskan bahwa Islam memandang waktu bukan hanya sebagai satuan jam dan menit, melainkan sebagai peluang untuk berproses menuju kesempurnaan amal.
Surah Muhammad ayat 33 memberi peringatan: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu merusak amal-amalmu.” Setiap keputusan yang diambil, jika didasari kelalaian terhadap waktu, dapat berdampak buruk pada kualitas amal. Film Sore menggambarkan hal ini melalui narasi bahwa masa depan Jonathan bisa rusak jika ia tidak berubah sejak sekarang.
Kita mungkin tidak punya istri dari masa depan yang bisa memberi peringatan, tetapi kita memiliki akal, hati nurani, dan ajaran agama yang terus mengingatkan. Waktu, jika disia-siakan, dapat mengubur banyak potensi dan harapan.
“Sore: Istri dari Masa Depan” adalah fiksi yang menawarkan refleksi faktual. Ia mengajak kita bertanya: sudahkah kita mengelola waktu dengan baik? Sudahkah kita memanfaatkan hidup ini untuk sesuatu yang bernilai? Dalam konteks Islam, pertanyaan ini bukan hanya wacana, tetapi akan menjadi bagian dari hisab kelak di akhirat.
Melalui film ini, kita diajak untuk lebih sadar bahwa waktu adalah anugerah sekaligus ujian. Sebuah modal yang tidak bisa diulang. Maka sebelum segalanya terlambat, mari kita tata kembali prioritas, selaraskan langkah dengan tujuan akhir, dan jadikan waktu sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







