Akurat
Pemprov Sumsel

Tragedi Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: 5 Santri Meninggal, Puluhan Luka-luka

Fajar Rizky Ramadhan | 1 Oktober 2025, 13:20 WIB
Tragedi Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: 5 Santri Meninggal, Puluhan Luka-luka

AKURAT.CO Musala di kawasan asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Desa Buduran, Sidoarjo, ambruk saat digunakan untuk salat berjemaah, Senin (29/9/2025). Bangunan yang masih dalam tahap pembangunan itu roboh dan menimpa ratusan santri.

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun hingga Selasa (30/9/2025) pukul 08.00 WIB, total terdapat 98 santri menjadi korban dalam peristiwa ini. Sebanyak 5 santri dinyatakan meninggal dunia, puluhan lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit.

Para korban dirujuk ke tiga fasilitas kesehatan, yakni RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya. Dari jumlah itu, RSUD Sidoarjo menangani 40 santri, dengan rincian 7 orang luka berat, 4 orang luka sedang, dan 28 orang luka ringan.

Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang, namun 9 orang masih dirawat, 1 pasien dalam observasi, 1 pulang atas permintaan sendiri, dan 1 pasien meninggal dunia.

Dua santri tambahan yang meninggal pada Selasa pagi adalah Mochammad Mashudulhaq (14), asal Dukuh Pakis, Surabaya, serta Muhammad Soleh (22), asal Tanjung Pandan, Bangka Belitung.

Mashudulhaq sempat dirawat di RSUD Sidoarjo namun nyawanya tidak tertolong. Sementara Soleh yang mengalami luka parah akibat himpitan di bagian bawah tubuh juga wafat setelah menjalani perawatan intensif.

Baca Juga: Membaca Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober dalam Perspektif Fikih Islam

Direktur RSUD Sidoarjo, dr Atok Irawan, menjelaskan bahwa dalam proses evakuasi terdapat korban dengan luka sangat berat hingga harus diamputasi di lokasi kejadian.

“Evakuasi dilakukan cepat di TKP. Tim ortopedi dan anestesi melakukan amputasi lengan kiri karena korban terjepit reruntuhan bangunan. Situasi darurat membuat tindakan harus segera dilakukan,” ujar Atok, kepada wartawan, Selasa (30/9/2025).

Pihak rumah sakit juga menegaskan bahwa langkah amputasi darurat dilakukan malam hari tanpa menunggu rujukan atau persetujuan keluarga karena kondisi korban mengancam nyawa.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar Ponpes Al Khoziny. Pihak pesantren menyampaikan permohonan maaf kepada wali santri dan menyebut kejadian ini sebagai takdir yang harus diterima dengan sabar dan ikhlas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.