Akurat
Pemprov Sumsel

Cara Memahami Tradisi Pesantren di Jawa Perspektif Clifford Geertz, agar Tidak Salah Paham

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Oktober 2025, 19:39 WIB
Cara Memahami Tradisi Pesantren di Jawa Perspektif Clifford Geertz, agar Tidak Salah Paham

AKURAT.CO Bagi sebagian kalangan luar, terutama yang tidak memiliki latar pengalaman hidup di pesantren, sejumlah tradisi khas pesantren di Jawa sering disalahpahami.

Mulai dari cara santri menghormati kiai, tidur di lantai tanpa kasur empuk, bekerja di dapur atau kebun pesantren, hingga berjalan menunduk di hadapan guru, kadang ditafsirkan sebagai bentuk feodalisme, bahkan—dalam pandangan ekstrem—perbudakan spiritual.

Pandangan ini muncul karena perbedaan paradigma antara masyarakat modern-individualis dan masyarakat tradisional yang menempatkan relasi sosial berbasis spiritualitas dan simbol kesetiaan.

Untuk memahami tradisi pesantren secara lebih objektif dan ilmiah, perlu digunakan kacamata antropologi, salah satunya melalui pemikiran Clifford Geertz.

Dalam karya monumentalnya The Religion of Java (1960), Geertz meneliti kehidupan masyarakat Jawa dan mengelompokkan corak keagamaannya ke dalam tiga kategori: santri, abangan, dan priyayi.

Dalam kategori “santri”, Geertz mengamati bahwa pesantren memiliki sistem nilai tersendiri yang berakar pada Islam normatif tetapi dibalut dengan tradisi lokal yang sangat kuat.

Baca Juga: 5 Bentuk Penghormatan Imam Syafi’i kepada Gurunya, Nomor Perrtama Bikin Takjub!

Geertz melihat pesantren sebagai institusi moral dan sosial yang tidak hanya mendidik santri dalam bidang ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan pandangan hidup.

Dalam pandangan antropologisnya, pesantren bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang internalisasi nilai. Di sinilah letak kekeliruan sebagian orang yang menilai tradisi “ta’zim” santri kepada kiai sebagai bentuk feodalisme atau subordinasi buta.

Bagi masyarakat pesantren, penghormatan kepada kiai tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari keyakinan spiritual bahwa keberkahan ilmu bergantung pada adab terhadap guru.

Dalam kerangka simbolik Geertz, perilaku santri bukan sekadar ritual sosial, tetapi ekspresi simbolis dari sistem makna yang lebih dalam: penghormatan kepada sumber pengetahuan dan bimbingan moral.

Geertz menegaskan bahwa budaya Jawa, termasuk pesantren, adalah meaning system—suatu sistem makna yang menghubungkan perilaku manusia dengan nilai-nilai transendental.

Ketika seorang santri mencium tangan kiai, tidur di lantai sederhana, atau melayani gurunya dengan sukarela, tindakan itu harus dibaca dalam konteks simbolik dan religius, bukan dalam kacamata ekonomi atau politik kekuasaan.

Kesalahpahaman sering terjadi karena paradigma luar membaca struktur pesantren dengan logika kapitalisme atau modernitas Barat. Dalam paradigma modern, relasi guru-murid dipandang setara secara kontraktual: guru mengajar karena dibayar, murid belajar karena mendapat jasa.

Sementara dalam tradisi pesantren, relasi tersebut bersifat spiritual dan transendental. Santri tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga barakah (keberkahan) dan ta’dzim (penghormatan) sebagai bagian dari akhlak.

Dalam kerangka Geertz, pesantren merupakan bentuk sistem sosial yang berfungsi menjaga kontinuitas nilai Islam di tengah perubahan budaya. Ia menulis bahwa pesantren adalah “benteng moral Islam di Jawa” (the moral bastion of Islam in Java).

Ia mengakui bahwa relasi antara kiai dan santri memang hierarkis, tetapi hierarki itu bersifat moral, bukan material. Artinya, penghormatan kepada kiai tidak menindas santri, melainkan meneguhkan struktur nilai: bahwa ilmu harus diletakkan di atas ego dan kesetaraan bukan berarti meniadakan adab.

Tradisi “khidmah” atau pelayanan santri kepada kiai, misalnya, dalam kacamata Geertz dapat dipahami sebagai simbol pendidikan karakter.

Santri yang membersihkan rumah kiai, membantu memasak, atau menjaga kebun bukanlah pekerja tanpa upah, tetapi pelaku pendidikan moral yang sedang menginternalisasi nilai tanggung jawab, kesabaran, dan keikhlasan.

Dalam bahasa Geertz, tindakan-tindakan ini adalah ritual moral economy, ekonomi moral yang didorong oleh makna spiritual, bukan keuntungan duniawi.

Baca Juga: Perbedaan Feodalisme dan Ta’zim Murid kepada Kiai dalam Pesantren

Kesalahpahaman terjadi ketika budaya luar menghapus dimensi simbolik dan spiritual tersebut. Dalam epistemologi Barat modern, kerja tanpa upah dianggap eksploitatif, sedangkan dalam epistemologi pesantren, itu justru bernilai tinggi karena menjadi bagian dari latihan jiwa.

Hal ini sesuai dengan prinsip Islam yang menempatkan adab di atas ilmu, sebagaimana dikatakan oleh ulama: al-adabu fawqal ‘ilmi — adab itu lebih tinggi daripada ilmu.

Lebih jauh, Geertz mencatat bahwa struktur pesantren menciptakan kesinambungan antara otoritas religius dan kehidupan sosial masyarakat Jawa. Kiai bukan penguasa, tetapi moral center, pusat makna dan keteladanan.

Ia menjadi figur simbolik yang menuntun masyarakat menuju kesalehan sosial. Maka, penghormatan santri kepada kiai bukan bentuk ketundukan politis, melainkan pengakuan spiritual terhadap otoritas moral yang dimilikinya.

Di sinilah pentingnya membaca pesantren dengan pendekatan antropologi simbolik, bukan dengan paradigma politik kekuasaan. Pesantren adalah ruang kultural yang kompleks: ia menggabungkan Islam, etika, lokalitas Jawa, dan relasi sosial berbasis adab.

Clifford Geertz membantu kita memahami bahwa setiap simbol dan tindakan di pesantren—mulai dari tata cara belajar, berpakaian, hingga bersikap—selalu bermakna ganda: sosial dan spiritual, lahir dan batin.

Dengan pemahaman seperti ini, kita tidak akan mudah menilai tradisi pesantren sebagai bentuk feodalisme atau penindasan. Sebaliknya, kita akan melihatnya sebagai sistem pendidikan moral yang mendalam, yang justru menjaga manusia agar tidak kehilangan arah di tengah modernitas yang sering mengikis nilai penghormatan dan kesantunan.

Pesantren tidak menindas santri; pesantren mendidik santri untuk menundukkan ego di hadapan ilmu. Kiai tidak memperbudak murid; kiai membimbing mereka agar terbebas dari perbudakan nafsu dan kesombongan intelektual.

Maka, memahami pesantren dengan paradigma Clifford Geertz adalah upaya menempatkan tradisi ini secara adil—bahwa di balik kesederhanaannya, pesantren adalah laboratorium etika dan spiritualitas yang membentuk wajah Islam Nusantara dengan keanggunan dan kedalaman makna.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.