Kalender Jawa Weton Bulan November 2025, Lengkap dengan Tanggal Hijriah

AKURAT.CO Memasuki bulan November 2025, masyarakat Jawa yang masih menjaga tradisi leluhur kembali menggunakan kalender yang memadukan sistem penanggalan Masehi, Jawa, dan Hijriah.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kebudayaan, tetapi juga sarana spiritual untuk menata kehidupan sehari-hari agar selaras dengan waktu dan makna simboliknya.
Kalender Jawa dikenal dengan siklus hari pasaran—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—yang digabungkan dengan hari Masehi.
Kombinasi ini digunakan untuk menentukan hari baik dalam berbagai urusan penting, seperti pernikahan, pindah rumah, khitanan, atau kegiatan adat yang membutuhkan perhitungan waktu tertentu.
Sementara itu, penanggalan Hijriah tetap menjadi panduan bagi umat Islam dalam menentukan jadwal ibadah, memperingati hari-hari besar keagamaan, serta menyusun kegiatan yang berkaitan dengan syariat.
Perpaduan ketiga sistem ini menjadikan kalender Jawa modern tidak hanya berfungsi secara sosial dan budaya, tetapi juga spiritual.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini dalam Perspektif Islam
Pada bulan November 2025, penanggalan Jawa dimulai dengan Sabtu Pahing yang bertepatan dengan 10 Jumadil Awal 1447 Hijriah, dan berakhir pada Ahad Legi yang bertepatan dengan 9 Jumadil Akhir 1447 Hijriah.
Sepanjang bulan ini, rotasi hari pasaran berlangsung secara berurutan dan terus berulang setiap lima hari, menciptakan harmoni ritmis yang menjadi ciri khas perhitungan waktu dalam budaya Jawa.
Bagi sebagian masyarakat, setiap kombinasi antara hari dan pasaran memiliki makna tersendiri yang dipercaya dapat memengaruhi nasib dan keberhasilan suatu kegiatan. Misalnya, Jumat Legi sering dianggap hari penuh berkah untuk berbuat kebajikan atau menggelar acara keagamaan.
Keberadaan kalender Jawa yang dipadukan dengan kalender Hijriah mencerminkan kemampuan masyarakat untuk menjaga warisan tradisi tanpa meninggalkan nilai-nilai religius.
Sistem ini menjadi bentuk kearifan lokal yang menunjukkan keseimbangan antara waktu duniawi dan spiritual, antara budaya dan agama, antara masa lalu dan masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






