Akurat
Pemprov Sumsel

Ratu Indonesia Hidup di Era Nabi Muhammad, Namanya Menggema sampai Jazirah Arab

Fajar Rizky Ramadhan | 19 November 2025, 08:10 WIB
Ratu Indonesia Hidup di Era Nabi Muhammad, Namanya Menggema sampai Jazirah Arab

AKURAT.CO Nusantara adalah tanah dengan memori panjang, lebih luas daripada yang kerap diajarkan di sekolah. Di antara lembar-lembar sejarahnya, ada satu sosok perempuan yang berada pada lintasan waktu yang sama dengan Nabi Muhammad.

Namanya bukan hanya tercatat dalam manuskrip lokal, tetapi juga dikenal oleh pedagang dan tokoh dari jazirah Arab. Perempuan itu adalah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga.

Catatan sejarah menempatkan kelahiran Ratu Shima pada tahun 611 Masehi di Sumatera Selatan. Tahun itu bertepatan dengan usia Nabi Muhammad yang ke-41, masa awal kenabian.

Ketika Shima tumbuh sebagai putri dari seorang agamawan Hindu, perjalanan hidupnya membawanya berpindah ke Jepara setelah menikah dengan Kartikeyasinga, tokoh penting dari Kerajaan Kalingga.

Sejak saat itu, ia hidup di lingkungan pusat spiritualitas Hindu Jawa dan berinteraksi dengan tradisi candi-candi kuno di kawasan Dieng.

Posisinya kian menguat setelah Kartikeyasinga naik takhta sebagai raja pada tahun 648 M. Pada waktu itu, Nabi Muhammad telah wafat dan dunia Islam memasuki fase Khulafaur Rasyidin, tepatnya masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib pada periode 656 hingga 661 M.

Kalingga berada di fase pertumbuhan sosial-ekonomi, sementara dunia Arab tengah mengalami transformasi politik setelah wafatnya Rasulullah.

Baca Juga: Hukum Menggunakan Ramalan untuk Menentukan Finansial, Asmara, Kesehatan dan Karir dalam Islam

Ketika Kartikeyasinga wafat pada tahun 678 M, kepemimpinan kerajaan jatuh ke tangan Ratu Shima. Anak-anaknya masih kecil sehingga ia harus memikul tanggung jawab penuh sebagai penguasa.

Sejarah Nasional Indonesia mencatat bahwa sejak itulah Kalingga memasuki masa keemasan. Di bawah gelarnya yang panjang, Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara, kerajaan ini tumbuh menjadi pusat perdagangan yang ramah, kaya, dan teratur.

Pelabuhan Jepara pada masa itu menjadi titik temu para saudagar dari berbagai wilayah, termasuk dari China. Tradisi Pemikiran Islam di Jawa menyebutkan bahwa di era kekuasaannya, relasi internasional meningkat pesat.

Kapal-kapal dari Dinasti Tang datang ke Kalingga untuk berdagang, membawa keramik, kain, dan logam, lalu kembali dengan garam, rempah, serta produk-produk khas Nusantara.

Garam kala itu adalah komoditas berharga, dan Kalingga berhasil menjadikannya barang ekspor yang meningkatkan pendapatan negara.

Catatan Tionghoa kuno dalam Catatan Tionghoa yang dihimpun pada 2009 juga menyinggung kejayaan Shima. Para pedagang dari daratan China menggambarkan Kalingga sebagai kerajaan makmur dengan penduduk yang terpelajar.

Mereka mengenal aksara, memahami dasar astronomi, dan memiliki pusat keagamaan Buddha Hinayana yang menarik banyak pelajar asing untuk tinggal bertahun-tahun demi mendalami ajaran agama.

Nama Ratu Shima akhirnya bergema hingga jazirah Arab. Popularitasnya dikaitkan dengan integritas dan ketegasannya menegakkan hukum. Cerita yang paling dikenal adalah kisah tentang karung emas yang sengaja ditaruh di jalanan oleh seorang raja Arab bernama Ta-Shih.

Ia ingin menguji apakah rakyat Kalingga akan mencuri harta itu. Berbulan-bulan berlalu, tidak ada satu pun warga yang berani menyentuhnya. Kisah ini membuat reputasi Ratu Shima sebagai pemimpin yang tegas dan adil semakin menguat.

Namun, ujian sesungguhnya datang dari dalam istananya sendiri. Ketika karung tersebut sedikit bergeser karena tersenggol oleh Pangeran Narayana, putra kesayangan Ratu Shima, sang ratu tetap berpegang pada aturan yang ia buat. Hukuman mati ditetapkan, meskipun kemudian beberapa penasihat memohon keringanan.

Akhirnya, hukuman diubah menjadi pemotongan kaki, karena bagian tubuh itulah yang dianggap bersalah. Kisah ini oleh banyak sejarawan dipahami sebagai contoh ekstrem dari ketegasan moral yang menjadi ciri kepemimpinan Shima.

Baca Juga: Hukum Laki-laki Dewasa Mencium Anak Perempuan Non Mahrom dalam Islam: Haram

Ratu Shima memerintah hingga wafat pada tahun 695 M. Setengah abad kemudian, Kerajaan Kalingga runtuh pada 752 M, ketika dunia Islam telah memasuki fase Bani Umayyah, dinasti besar yang memerintah dari 661 hingga 750 M. Saat itu jalur perdagangan dunia semakin ramai, dan pergeseran politik global turut memengaruhi stabilitas kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Keberadaan Ratu Shima dalam rentang sejarah yang bersinggungan dengan awal perkembangan Islam membuatnya sering muncul dalam kajian peradaban Nusantara.

Ia adalah simbol kuat bahwa kepemimpinan perempuan, integritas hukum, dan kedaulatan lokal sudah tumbuh di tanah Indonesia jauh sebelum istilah “nusantara” bahkan populer.

Sosoknya menegaskan satu hal: sejarah Indonesia tidak pernah berdiri di pinggir dunia. Ia selalu menjadi bagian dari arus besar peradaban global, sejak ribuan tahun lalu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.