7 Kebiasaan yang Salah yang Sering Dilakukan Umat Islam saat Idul Fitri

AKURAT.CO Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Momentum ini identik dengan salat Id, silaturahmi, saling memaafkan, serta berbagi kebahagiaan.
Namun demikian, di tengah semarak perayaan, terdapat sejumlah kebiasaan yang kerap dilakukan sebagian umat Islam yang kurang tepat menurut tuntunan syariat. Berikut tujuh kebiasaan yang perlu menjadi perhatian bersama.
Mengakhirkan atau Melalaikan Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Id. Sebagian orang masih menunda pembayarannya hingga setelah salat Id, padahal hal tersebut dapat mengurangi nilai kesempurnaannya.
Jika ditunaikan setelah salat Id tanpa uzur, zakat tersebut dihitung sebagai sedekah biasa, bukan lagi zakat fitrah yang tepat waktu.
Tidak Mengikuti Salat Id tanpa Alasan Syar’i
Salat Id merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan, bahkan sebagian ulama memandangnya sebagai fardu kifayah atau fardu ‘ain.
Namun masih ada yang meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, dengan alasan sibuk menyiapkan hidangan atau berkumpul bersama keluarga.
Baca Juga: Tata Cara Pelaksanaan Sholat Idul Fitri, Lengkap dengan Bacaan Bilal
Berlebihan dalam Berpakaian dan Berhias
Islam menganjurkan mengenakan pakaian terbaik saat Idul Fitri. Akan tetapi, sebagian orang justru berlebihan hingga menimbulkan sikap pamer atau tabarruj (berhias secara berlebihan), bahkan tidak jarang melampaui batas kesopanan yang diajarkan agama.
Berlebihan dalam Makan dan Minum
Setelah sebulan berpuasa, Idul Fitri memang menjadi momen untuk menikmati hidangan. Namun perilaku berlebihan dalam makan dan minum hingga melampaui batas, apalagi sampai mubazir, bertentangan dengan prinsip kesederhanaan dalam Islam.
Mengabaikan Waktu Salat karena Silaturahmi
Tradisi silaturahmi merupakan amalan mulia. Namun, kesibukan berkunjung ke rumah sanak saudara terkadang membuat sebagian orang melalaikan salat wajib atau menunda-nundanya hingga hampir habis waktu. Padahal menjaga salat lima waktu tetap menjadi prioritas utama.
Campur Baur Tanpa Menjaga Batasan
Momentum halal bihalal sering kali mempertemukan keluarga besar. Akan tetapi, kurangnya perhatian terhadap adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, seperti bersalaman tanpa batasan atau bercampur tanpa menjaga etika, menjadi kekeliruan yang seharusnya dihindari.
Menganggap Idul Fitri sebagai Akhir Ibadah
Kesalahan yang cukup mendasar adalah menganggap Idul Fitri sebagai penutup seluruh semangat ibadah. Padahal, Ramadhan adalah madrasah spiritual yang seharusnya melahirkan konsistensi dalam beribadah setelahnya.
Baca Juga: Mandi Sunah Idul Fitri; Waktu, Tata Caranya dan Bacaan Niatnya dalam Bahasa Arab
Berkurangnya salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah secara drastis setelah Ramadhan menjadi indikator bahwa nilai pendidikan Ramadhan belum sepenuhnya membekas.
Idul Fitri sejatinya bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk menjaga kesinambungan ketakwaan. Evaluasi terhadap kebiasaan-kebiasaan yang kurang tepat ini diharapkan dapat membantu umat Islam merayakan hari raya dengan lebih sesuai tuntunan syariat, penuh kesadaran, dan tetap dalam koridor nilai-nilai Islam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








