Akurat Logo

Begini Seharusnya Umat Islam Merayakan Kemerdekaan Negaranya

Lufaefi | 17 Agustus 2026, 14:14 WIB
Begini Seharusnya Umat Islam Merayakan Kemerdekaan Negaranya
Sejarah Kemerdekaan Indonesia. - Pixabay

AKURAT.CO Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai cara. Upacara bendera, perlombaan, pengibaran Merah Putih hingga berbagai kegiatan sosial menjadi bagian dari tradisi tahunan.

Bagi umat Islam, kemerdekaan Indonesia semestinya tidak hanya dirayakan sebagai pesta tahunan. Kemerdekaan perlu diisi dengan rasa syukur, menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, serta menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan Allah Swt. Dalam konteks kemerdekaan, terbebas dari penjajahan merupakan nikmat besar yang patut disyukuri.

Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7).

Baca Juga: Makna Kemerdekaan dalam Islam: Refleksi HUT RI ke-81

Karena itu, salah satu cara umat Islam merayakan kemerdekaan adalah dengan memperbanyak syukur. Syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat.

Merayakan kemerdekaan juga dapat dilakukan dengan mendoakan para pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa. Mereka mewariskan sebuah negara yang hari ini dinikmati oleh generasi berikutnya. Mengenang perjuangan mereka seharusnya mendorong masyarakat untuk menjaga kemerdekaan, bukan justru menyia-nyiakannya.

Di sisi lain, kemerdekaan harus menjadi momentum memperkuat persatuan. Indonesia dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa dan agama. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling bermusuhan.

Allah Swt. berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat mudah terpecah oleh perbedaan pilihan politik, informasi di media sosial, maupun berbagai kepentingan kelompok.

Cara lain merayakan kemerdekaan adalah memperbanyak kepedulian kepada masyarakat. Jika dahulu para pahlawan berjuang mengangkat senjata, generasi sekarang dapat mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, membantu kaum dhuafa, menjaga lingkungan, dan berbagai bentuk pengabdian lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani).

Kemerdekaan juga harus diisi dengan menjaga amanah. Kebebasan tanpa tanggung jawab justru dapat melahirkan kerusakan. Korupsi, penyalahgunaan jabatan, kekerasan, hoaks, intoleransi, dan berbagai tindakan yang merugikan orang lain merupakan bentuk perilaku yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan.

Karena itu, merayakan kemerdekaan tidak harus selalu dengan kemeriahan. Perlombaan dan hiburan boleh menjadi bagian dari kegembiraan, tetapi substansinya jangan sampai hilang.

Baca Juga: Duka Kris Dayanti Soroti Kisah Haru Ibu dan Anak Korban Gempa Flores: Pelukan Hangat Selalu Dibutuhkan

Ada bentuk perayaan yang mungkin tidak terlihat meriah, tetapi jauh lebih bermakna: seorang guru mengajar dengan sungguh-sungguh, seorang pedagang berdagang dengan jujur, seorang mahasiswa belajar dengan tekun, seorang pejabat menjalankan amanah, dan seorang warga membantu tetangganya yang kesulitan.

Pada akhirnya, umat Islam seharusnya merayakan kemerdekaan dengan menjadikannya sebagai momentum untuk bertanya: apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini?

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah amanah. Dan cara terbaik merayakannya adalah menjaga amanah tersebut dengan syukur, persatuan, keadilan, ilmu, akhlak, dan pengabdian.

Dengan demikian, 17 Agustus bukan sekadar tanggal merah atau agenda seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Jika generasi terdahulu berjuang merebut kemerdekaan, generasi hari ini memiliki tugas untuk mengisinya dengan kebaikan dan memastikan kemerdekaan benar-benar menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi