Masa Depan Indonesia Ditentukan AI, Big Data, dan Robotika

AKURAT.CO Ekonom senior INDEF, Didik J. Rachbini, menilai, arah kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia dalam satu dekade ke depan akan ditentukan oleh tiga penopang utama: Artificial Intelligence (AI), big data, dan robotika.
Menurutnya, negara yang mampu mengelola ketiganya dengan etis, strategis, dan berkeadilan akan menjadi pemenang dalam kompetisi global.
“AI, big data, dan robotika bukan lagi sekadar isu teknologi, tetapi fondasi baru tata kelola ekonomi, politik, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia,” ujar Didik, Minggu (23/11/2025).
Namun, ia menekankan, pembangunan teknologi harus dibarengi reformasi kelembagaan. Salah satunya terlihat dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang anggota kepolisian merangkap jabatan sipil.
Bagi Didik, putusan ini adalah titik balik penting bagi demokrasi dan supremasi sipil.
“Putusan MK itu menjadi koreksi historis. Pada era Presiden Jokowi, publik melihat institusi kepolisian terlalu sering dimanfaatkan sebagai instrumen politik,” katanya.
Didik mengingatkan, semangat Reformasi 1998 telah menegaskan pemisahan tegas antara sipil, militer, dan kepolisian. Siapa pun yang ingin berkarier di politik seharusnya pensiun dari institusi keamanan negara.
Baca Juga: INDEF: 84 Persen Warganet Dukung Larangan Rangkap Jabatan
Karena itu, ia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto membentuk Tim Reformasi Kepolisian. Namun Didik menilai komposisi tim masih perlu diperbaiki agar lebih independen dan representatif.
“Ini langkah maju, tetapi sayangnya, mayoritas anggotanya adalah polisi. Reformasi kelembagaan tidak boleh dilakukan oleh kelompok yang menjadi objek reformasi,” tuturnya.
Didik juga merujuk riset Continuum INDEF yang menangkap aspirasi publik di media sosial.
Dari belasan ribu percakapan yang dianalisis, mayoritas warganet mendukung larangan rangkap jabatan bagi anggota kepolisian.
“Pesan publik jelas: masyarakat ingin tata kelola negara yang sipil, transparan, akuntabel, dan bebas dari konflik kepentingan,” tegas Didik.
Ia menilai momentum ini seharusnya menjadi pendorong untuk memperkuat institusi, memperluas profesionalisme birokrasi, dan menempatkan teknologi sebagai alat kemajuan, bukan kekuasaan.
“Jika Indonesia ingin bersaing dalam ekonomi AI dan big data, maka fondasi etika, hukum, dan demokrasi harus terlebih dulu dibereskan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








