Studi : Perang Nuklir India - Pakistan Bisa Tewaskan hingga 125 Juta Orang dalam Hitungan Minggu

AKURAT.CO Ketegangan antara India dan Pakistan kembali meningkat setelah serangan teroris di Kashmir yang menewaskan 26 warga sipil.
India menanggapi dengan serangan udara terhadap infrastruktur yang diklaim sebagai milik kelompok militan di wilayah Pakistan, memicu balasan dari Islamabad yang mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur India dan menewaskan hingga 50 tentara India.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi eskalasi menuju konflik nuklir antara dua negara bersenjata nuklir tersebut. Konflik antara India dan Pakistan bukan hanya ancaman regional, tetapi juga berpotensi menjadi bencana global.
Dengan kedua negara memiliki sekitar 170–200 hulu ledak nuklir dan sejarah panjang ketegangan, penting bagi komunitas internasional untuk mendorong dialog dan solusi damai guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Menurut studi dari University of Colorado Boulder dan Rutgers University, perang nuklir antara India dan Pakistan dapat menewaskan antara 50 hingga 125 juta orang dalam hitungan minggu.
Sebagian besar korban bukan akibat ledakan langsung, melainkan dari kebakaran besar yang menghasilkan asap tebal, menghalangi sinar matahari, menurunkan suhu global hingga 5°C, dan mengganggu produksi pangan dunia.
Studi lain yang dipublikasikan di Nature Food memperkirakan bahwa konflik nuklir terbatas antara India dan Pakistan dapat menyebabkan kematian lebih dari 2 miliar orang secara global akibat kelaparan yang dipicu oleh gangguan iklim dan pertanian.
Komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan China, menyerukan kedua negara untuk menahan diri dan menghindari retorika yang dapat memperburuk situasi. Meskipun India memiliki kebijakan "no first use" terhadap senjata nuklir, Pakistan tidak memiliki kebijakan serupa, meningkatkan risiko penggunaan senjata nuklir dalam konflik konvensional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





