6 Agustus Hari Anti-Nuklir: Bahaya Teknologi Nuklir yang Harus Kita Sadari di Era AI

AKURAT.CO Peringatan Hari Anti-Nuklir Sedunia pada 6 Agustus lahir dari tragedi bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 1945. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 140 ribu orang dan meninggalkan dampak radiasi jangka panjang.
Seiring perkembangan zaman, teknologi nuklir digunakan tidak hanya sebagai senjata tetapi juga sebagai sumber energi dan riset kedokteran. Meski begitu, potensi bahayanya masih menjadi ancaman global serius, sebagaimana dikutip dari WHO, Rabu (6/8/2025).
Masuknya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem persenjataan menimbulkan babak baru dalam perdebatan etika keamanan. Teknologi otonom ini dinilai dapat mengambil keputusan kritis tanpa kontrol manusia.
Lembaga kajian pertahanan menyebutkan bahwa sistem berbasis AI rentan diretas dan bisa memicu aksi nuklir yang tidak disengaja. Serangan siber terhadap fasilitas nuklir bukan lagi sekadar teori.
Dikutip dari Harvard Kennedy School, hari Anti-Nuklir menjadi peringatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya tata kelola teknologi canggih. Tanpa pengawasan ketat, kolaborasi AI dan nuklir dapat berubah menjadi ancaman nyata.
Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi nuklir secara aman dan bertanggung jawab. Upaya ini sejalan dengan standar perlindungan global yang ditetapkan dunia internasional.
Di tengah krisis energi dunia, teknologi nuklir kerap disebut sebagai solusi pengganti bahan bakar fosil. Namun dampak kebocoran radiasi yang pernah terjadi di Chernobyl dan Fukushima mengingatkan bahwa risikonya tidak bisa dianggap enteng.
Para pakar teknologi mendorong adanya perjanjian internasional baru yang mengatur penggunaan AI dalam sistem senjata nuklir. Tujuannya agar keputusan bersifat destruktif tetap berada penuh di bawah kendali manusia.
Selain itu, edukasi publik mengenai bahaya radiasi menjadi poin penting agar masyarakat memahami ancaman tersembunyi dari teknologi ini. Kesadaran kolektif dianggap mampu menekan perlombaan senjata nuklir modern, sebagaimana dikutip dari UNESCO.
Momentum 6 Agustus juga digunakan untuk mengampanyekan pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin dan hidrogen. Energi bersih dinilai lebih aman dan berkelanjutan dibanding pembangkit nuklir berisiko tinggi.
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia, bukan membawa pada kehancuran massal. Karena itu, pengawasan dan regulasi ketat terhadap teknologi nuklir di era AI menjadi semakin mendesak.
Melalui kerja sama internasional, penegakan hukum dan partisipasi masyarakat global, penggunaan teknologi nuklir diharapkan dapat diarahkan pada jalur damai. Peringatan Hari Anti-Nuklir 6 Agustus menjadi pengingat agar kemajuan zaman tidak mengorbankan nilai kemanusiaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







