Gagalnya Perjanjian Plastik Global Bikin Tantangan Baru bagi Teknologi AI

AKURAT.CO Kegagalan Perjanjian Plastik Global memengaruhi sektor teknologi, terutama penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk program keberlanjutan. Tanpa konsensus global, industri harus berhadapan dengan aturan berbeda di tiap negara.
Negosiasi terbaru di Jenewa dilakukan setelah pembicaraan awal di Busan, Korea Selatan, berakhir tanpa hasil. Padahal, perjanjian tersebut diharapkan bisa menghasilkan regulasi hukum yang jelas untuk menekan polusi plastik secara global.
Kondisi ini menempatkan perusahaan seperti TOMRA, pemimpin dalam teknologi daur ulang, pada posisi sulit. Mereka tetap berupaya mengembangkan solusi berbasis AI meski regulasi internasional belum terbentuk secara komprehensif.
CEO TOMRA, Tove Andersen, menekankan pentingnya pendekatan global yang terpadu. Menurutnya, rantai produksi, konsumsi, hingga pengelolaan plastik pasca-pakai bersifat internasional sehingga perjanjian global mutlak dibutuhkan.
Tanpa kerangka kerja global, perusahaan harus menyesuaikan inovasi AI dengan aturan nasional yang beragam. Hal ini membuat strategi bisnis dan arah pengembangan teknologi menjadi lebih kompleks dan penuh ketidakpastian.
Perbedaan pandangan antarnegara semakin memperumit situasi. Koalisi Ambisi Tinggi yang beranggotakan 100 negara mendorong pembatasan produksi plastik, sedangkan negara penghasil minyak lebih memilih pengelolaan limbah dan daur ulang.
Ketidaksepakatan ini menimbulkan risiko bagi investasi AI di bidang sirkularitas plastik. Marco Mensink dari Cefic menegaskan komitmen industri kimia untuk terus mendukung solusi berbasis AI dalam mengurangi polusi plastik, sebagaimana dikutip dari AI Magazine, Jumat (22/8/2025).
Namun, tanpa standar internasional, sulit memprediksi teknologi AI mana yang akan diterima di pasar global. Paul Simpson dari ERM bahkan menilai diperlukan regulasi ketat, tegas dan jangka panjang untuk memperbaiki kegagalan pasar bebas dalam isu plastik.
Ahli lingkungan dari Universitas Adelaide, Dr Nina Wootton, mengingatkan bahwa daur ulang saja tidak cukup untuk menyelesaikan krisis plastik. Ia menekankan pentingnya inovasi yang lebih luas agar solusi bisa berdampak nyata.
Ke depan, sektor teknologi harus tetap fleksibel menghadapi lanskap regulasi yang berubah. Meski penuh tantangan, AI dinilai memiliki potensi besar dalam menciptakan solusi berkelanjutan untuk mengatasi sampah plastik secara global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








