Karyawan NASA Kehilangan Hak Berserikat Akibat Perintah Eksekutif Trump

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif pada Kamis (28/8/2025) yang mencabut hak berserikat ribuan pegawai NASA. Aturan ini berdalih keamanan nasional dan langsung berlaku di seluruh pusat penelitian.
Perintah itu mencabut perlindungan tenaga kerja federal bagi insinyur, ilmuwan dan teknisi NASA yang sebelumnya bisa tawar-menawar bersama. Akibatnya, sekitar 53 persen karyawan dalam serikat kehilangan perlindungan hukum yang telah berlaku puluhan tahun.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard, Maryland. Serikat pekerja GESTA menyebut mereka kini kehilangan dasar hukum untuk membela karyawan di tengah pemangkasan program, penutupan fasilitasbdan dorongan pengunduran diri.
Selain NASA, perintah eksekutif juga mengecualikan beberapa lembaga lain dari aturan tenaga kerja federal. Lembaga tersebut mencakup divisi satelit NOAA, sebagian unit Kantor Paten, serta Biro Reklamasi yang mengelola fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Mantan Ketua Dewan Hubungan Tenaga Kerja Nasional, Mark Gaston Pearce, menilai keputusan ini melemahkan perlindungan pegawai federal. Ia menyoroti tidak adanya lembaga independen untuk meninjau perselisihan karena banyak dewan pengawas kehilangan kuorum.
Dikutip dari Space, Senin (1/9/2025), pihak NASA sendiri mengonfirmasi bahwa mereka akan menyesuaikan diri dengan arahan presiden. Namun, serikat pekerja seperti GESTA belum menerima penjelasan resmi dari manajemen terkait implementasi aturan tersebut.
Hilangnya perjanjian kerja sama (CBA) membuat syarat seperti penempatan kerja, fleksibilitas kerja jarak jauh dan fasilitas kantor berisiko dibatalkan sepihak. Pegawai federal juga dilarang mogok, sehingga pilihan mereka hanya lewat jalur hukum yang panjang dan tidak pasti.
Kondisi ini makin buruk dengan usulan pemotongan anggaran NASA dalam RAPBN 2026. Pemangkasan 47 persen dana sains membuat ribuan karyawan Goddard terancam kehilangan pekerjaan, sementara fasilitas seperti kafetaria, pusat pengunjung dan layanan kesehatan ikut ditutup.
Sejumlah pekerja bahkan menyebut kebijakan terbaru ini membuat lingkungan kerja NASA semakin menekan dan mendorong mereka untuk keluar. Gerakan protes bertajuk NASA Needs Help pun muncul, menuntut perhatian publik dan campur tangan Kongres.
Pearce menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar saat ini adalah melalui lobi politik dan advokasi publik. "Karyawan federal harus mengejar secara sipil sebaik mungkin. Upaya lobi dengan perwakilan masing-masing untuk memberikan dorongan sebanyak yang mereka bisa," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







